Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, dibuka dengan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam: perjalanan malam Nabi Muhammad SAW, dikenal sebagai Isra' Mi'raj. Empat ayat pertama dari surah ini bukan hanya menceritakan peristiwa fisik luar biasa tersebut, tetapi juga meletakkan dasar teologis mengenai kemahakuasaan Allah SWT dan kedudukan penting Bani Israil (keturunan Yakub) dalam sejarah kenabian. Memahami ayat-ayat ini adalah memahami titik balik dalam misi kenabian.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)
Ayat pertama langsung dimulai dengan tasbih (penyucian) Allah, menegaskan bahwa peristiwa yang akan diceritakan adalah di luar nalar manusia biasa. Perjalanan ini terdiri dari dua bagian: Isra' (perjalanan malam dari Makkah ke Yerusalem) dan Mi'raj (kenaikan ke langit). Kata 'hamba-Nya' menekankan kerendahan hati Rasulullah di hadapan Allah meskipun beliau menerima kehormatan agung ini.
Tujuan utama Isra' disebutkan dengan jelas: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Ini menunjukkan bahwa mukjizat tersebut bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah proses pendidikan ilahi yang mempersiapkan Nabi untuk tantangan dakwah selanjutnya. Masjidil Aqsa, yang diberkahi sekelilingnya, berfungsi sebagai titik transit penting yang mengaitkan sejarah kenabian di Hijaz dengan sejarah para nabi sebelumnya di Syam (Palestina).
Dua ayat berikutnya (ayat 2 dan 3) memberikan peringatan keras kepada Bani Israil mengenai perilaku mereka setelah menerima kenikmatan kenabian. Allah menegaskan bahwa Dia telah memberikan mereka Kitab Taurat dan menjadikannya petunjuk bagi mereka, serta memberikan karunia-karunia lainnya. Namun, ayat ini juga menyisipkan ancaman jika mereka menyalahgunakan nikmat tersebut.
وَآتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِّبَنِي إِسْرَائِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا (2) ذُرِّيَّةَ مَنْ مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا (3)
"Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): 'Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku' (2). (Mereka adalah) keturunan orang-orang yang Kami selamatkan bersama Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang banyak bersyukur." (QS. Al-Isra: 2-3)
Perintah untuk tidak mengambil pelindung selain Allah ditekankan. Ini adalah inti ajaran tauhid. Dengan menyebut Nabi Nuh AS sebagai "hamba yang banyak bersyukur," ayat ini mengingatkan Bani Israil bahwa keberhasilan mereka diselamatkan dari zaman Nabi Nuh adalah karena anugerah Ilahi, bukan karena kekuatan mereka sendiri, sehingga rasa syukur haruslah menjadi landasan utama mereka.
Ayat keempat menutup rangkaian ini dengan gambaran mengenai kerusakan moral yang dilakukan Bani Israil di bumi (dalam konteks historis sering dikaitkan dengan perilaku mereka pasca-Taurat). Peringatan keras disampaikan bahwa Allah akan mengirimkan pembalasan atas kerusakan pertama yang mereka lakukan.
وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا (4)
"Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: 'Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini sebanyak dua kali, dan pasti kamu akan melampaui batas dengan kesombongan yang besar.'" (QS. Al-Isra: 4)
Frasa "dua kali" (مرتين) menjadi kunci interpretasi. Para mufassir menafsirkan ini sebagai dua periode kehancuran besar yang menimpa mereka akibat pelanggaran perjanjian dan kesombongan mereka, misalnya, penghancuran Baitul Maqdis oleh bangsa Babel dan kemudian oleh bangsa Romawi. Kesombongan yang dilarang adalah keangkuhan atas dasar keturunan dan pengabaian terhadap kebenaran.
Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 1-4 berfungsi ganda: memberikan penguatan spiritual kepada Nabi Muhammad SAW melalui mukjizat Isra' dan menetapkan standar moral serta historis bagi umat yang menerima wahyu sebelumnya. Ini adalah fondasi yang menunjukkan bahwa kemuliaan datang dari ketaatan, dan kejatuhan terjadi karena kerusakan dan kesombongan.