Al-Qur'an penuh dengan kisah-kisah teladan yang diturunkan sebagai pelajaran bagi umat manusia. Salah satu kisah yang paling dramatis dan penuh keajaiban adalah perjalanan Nabi Musa AS bersama Bani Israil keluar dari penindasan Firaun di Mesir. Kisah puncak dari perjuangan ini diceritakan dengan sangat jelas, salah satunya terdapat dalam Surah Al-Isra' ayat 101.
Ayat ini secara spesifik menyoroti momen ketika Allah memberikan mukjizat luar biasa kepada Musa untuk menyelamatkan kaumnya dari kejaran pasukan Firaun yang sombong. Ayat ke-101 dari Surah Al-Isra' (juga dikenal sebagai Al-Isrā' atau Bani Isrā'īl) adalah penutup dari serangkaian pertanyaan kaum musyrikin tentang mukjizat Nabi Musa.
Katakanlah: "Tuhan-lah yang menciptakan segala sesuatu dan memberikan petunjuk kepada kamu semua dengan bukti-bukti yang nyata; maka apakah kamu tidak berpikir?" (Namun dalam konteks kisah Musa, konteks ayat sebelumnya mengacu pada mukjizat tersebut).
(Catatan: Ayat 101 seringkali merangkum poin bahwa Tuhan yang Maha Kuasa, yang memberi mukjizat, layak disembah. Namun, konteks sejarah turunnya ayat-ayat ini (ayat 100-103) seringkali terkait dengan jawaban terhadap permintaan kaum musyrik untuk melihat mukjizat berupa harta atau buah-buahan, yang kemudian dijawab dengan mukjizat terbesar Nabi Musa, yaitu terbelahnya lautan, yang dibahas dalam ayat-ayat sebelumnya, namun ayat 101 menutup argumen tersebut dengan penegasan kebesaran Allah.)
Meskipun ayat 101 secara harfiah adalah kesimpulan tentang keesaan Allah dan kemampuan-Nya memberi tanda, ayat-ayat yang mendahuluinya (seperti QS. Yunus: 88 dan QS. Asy-Syu'ara: 63) menjelaskan inti dari mukjizat yang dimaksud: pemisahan Laut Merah. Ketika Firaun dan tentaranya mengejar Bani Israil, Nabi Musa diperintahkan untuk memukul tongkatnya ke lautan.
Kejadian ini bukanlah sekadar fenomena alam biasa. Itu adalah campur tangan ilahi yang membelah air menjadi dinding kokoh di kiri dan kanan, menciptakan jalan kering bagi kaum yang tertindas. Bayangkan pemandangan itu: jalan setapak yang aman tercipta di dasar laut, sementara di belakang mereka, ancaman kekejaman Firaun semakin mendekat.
Al-Isra' 101, dalam konteks penutup rangkaian mukjizat, mengajak kita untuk berpikir. Mukjizat terbelahnya lautan adalah bukti visual paling ekstrem dari kuasa Tuhan. Ketika menghadapi jalan buntu, ketika logika duniawi mengatakan bahwa tidak ada harapan, mukjizat tersebut menegaskan bahwa bagi Allah, tidak ada yang mustahil.
Pesan utama yang dapat kita tarik adalah pentingnya keteguhan iman (tawakkal) di tengah kesulitan. Bani Israil, meski sempat gentar melihat lautan di depan dan musuh di belakang, diselamatkan karena mereka mengikuti petunjuk Nabi Musa. Setelah mereka berhasil melewati celah tersebut, ketika Firaun dan pasukannya mencoba mengikuti, dinding air itu runtuh, menenggelamkan penindas dan membebaskan yang tertindas.
Mukjizat tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Beberapa orang pada masa Nabi Muhammad SAW meminta mukjizat yang serupa dengan apa yang diminta oleh kaum musyrikin kepada Musa—yaitu sesuatu yang kasatmata dan spektakuler. Namun, Al-Qur'an mengajarkan bahwa tanda-tanda itu ada di mana-mana, dalam penciptaan alam semesta (seperti yang disinggung di awal ayat 101), dalam pergantian siang dan malam, dan dalam sejarah peradaban.
Keajaiban terbelahnya lautan adalah pengingat abadi bahwa kekuatan yang melindungi orang yang beriman jauh melampaui kekuatan militer atau kekayaan duniawi. Ia mengajarkan bahwa setiap tantangan besar, selama dihadapi dengan keyakinan penuh pada pertolongan Ilahi, akan membuka jalan baru yang tak terduga. Oleh karena itu, merenungkan kisah Musa dan mukjizat Laut Merah—yang ditutup dengan penegasan kebesaran Allah di Al-Isra' 101—adalah cara untuk memperkuat logika iman kita.
Setiap kesulitan yang kita hadapi adalah lautan yang menunggu untuk dibelah oleh kehendak dan pertolongan Tuhan, asalkan kita memegang tongkat keyakinan seperti yang dipegang oleh Musa.