Surat Al Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran sejarah, aqidah, dan petunjuk bagi umat manusia. Di antara ayat-ayatnya yang penuh hikmah, terdapat **Al Isra ayat 102** yang secara spesifik membahas tantangan yang dihadapi oleh Nabi Musa AS ketika berhadapan dengan Fir'aun dan kaumnya, serta membuktikan kebenaran kenabiannya.
(Sekitar arti Al Isra 102): "Musa berkata: 'Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan ayat-ayat ini melainkan Tuhan semesta alam, sebagai bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku sungguh mengira, hai Firaun, bahwa kamu akan celaka.'"
Ayat ini muncul dalam rangkaian dialog panjang antara Nabi Musa AS dengan Fir'aun. Fir'aun, sebagai penguasa yang mengaku sebagai tuhan, menantang Musa untuk membuktikan otoritas ilahinya. Ayat 102 adalah klimaks dari argumen Musa. Musa tidak hanya meminta Fir'aun untuk beriman tanpa bukti, namun ia menegaskan bahwa mukjizat yang ditunjukkan kepadanya—seperti tongkat yang berubah menjadi ular besar dan penyakit kulit yang menimpa kaum Fir'aun—adalah bukti nyata (*bayyināt*) yang datang langsung dari Allah, Rabbul 'Alamin.
Penekanan Musa pada frasa "Tuhan semesta alam" adalah pengakuan tegas terhadap tauhid di hadapan seorang tiran yang mengklaim ketuhanan absolut. Ini menunjukkan keberanian seorang utusan Allah dalam menegakkan kebenaran, meskipun di hadapan kekuasaan duniawi yang luar biasa besar.
Kata "bayyināt" dalam konteks **Al Isra 102** merujuk pada mukjizat-mukjizat besar yang diperlihatkan Allah melalui tangan Nabi Musa. Mukjizat ini bukan sekadar tontonan, melainkan tanda-tanda yang jelas, mudah dipahami, dan tidak mungkin dipalsukan oleh tukang sihir mana pun. Tujuan dari mukjizat adalah untuk memisahkan antara kebenaran yang dibawa oleh rasul dan kebatilan yang dianut oleh penguasa zalim.
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa dakwah kenabian selalu didukung oleh bukti yang kuat. Ketika kebenaran dipertaruhkan, ia harus memiliki landasan yang kokoh, yang dalam hal ini adalah intervensi dan dukungan langsung dari Sang Pencipta alam semesta. Bagi kaum Fir'aun, bukti ini seharusnya cukup untuk menyadarkan mereka, namun kesombongan dan hawa nafsu membuat mereka menolak kebenaran tersebut.
Bagian kedua dari ayat tersebut, di mana Musa berkata, "Aku sungguh mengira, hai Firaun, bahwa kamu akan celaka," mengandung unsur peringatan dan penegasan konsekuensi. Ini bukan sekadar ramalan pribadi, melainkan pemberitahuan kenabian mengenai akhir dari kesombongan. Musa melihat dari tanda-tanda yang ada bahwa jalan Fir'aun adalah jalan kehancuran. Ini menunjukkan bahwa kenabian memiliki dimensi pengetahuan gaib yang terbatas pada apa yang diwahyukan Allah, yaitu mengenai hasil akhir dari penolakan terhadap kebenaran Ilahi.
Ilustrasi mukjizat sebagai bukti nyata yang disebutkan dalam Al Isra 102.
Pelajaran utama dari **Al Isra ayat 102** adalah pentingnya mengakui kebenaran dengan akal sehat dan tidak dibutakan oleh kekuasaan duniawi. Ayat ini menegaskan bahwa setiap kebenaran yang datang dari Allah selalu disertai dengan bukti yang jelas. Bagi umat Islam saat ini, ayat ini menjadi pengingat bahwa dasar iman kita bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan keyakinan yang kokoh berdasarkan ayat-ayat dan petunjuk yang telah Allah berikan melalui Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, keberanian Nabi Musa dalam menyampaikan pesan kebenaran kepada penguasa zalim adalah teladan agung. Ia tidak gentar meskipun menghadapi Fir'aun yang memiliki segalanya. Hal ini mengajarkan umat untuk senantiasa bersikap jujur dan menyampaikan kebenaran, sambil menyadari bahwa konsekuensi akhir—baik atau buruk—telah ditentukan oleh Allah SWT bagi mereka yang memilih untuk menolak atau menerima petunjuk-Nya.