Menggali Keindahan dan Pesan Agung Surat Al-Hijr

Surat Al-Hijr (15) Kehidupan dan Peringatan

Ilustrasi simbolis pemandangan gurun dan keagungan ciptaan Tuhan yang disebutkan dalam Al-Hijr.

Pengenalan Surat ke-15

Surat Al-Hijr, atau dikenal juga sebagai Surat Al-Hijr, menempati posisi ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Dinamai demikian karena merujuk pada sebuah lokasi geografis bersejarah, yaitu lembah batu yang dihuni oleh kaum Tsamud, kaum Nabi Saleh AS. Surat ini tergolong Makkiyah, diturunkan sebelum Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Meskipun singkat, Al-Hijr sarat dengan tema-tema mendasar dalam keimanan, termasuk penegasan keesaan Allah, kisah-kisah umat terdahulu sebagai pelajaran, serta keutamaan Al-Qur'an itu sendiri.

Kisah Kaum Tsamud dan Peringatan Tegas

Salah satu fokus utama dalam Surat Al-Hijr adalah kisah kaum Tsamud. Mereka adalah kaum yang diberkahi dengan kemampuan luar biasa untuk memahat rumah-rumah kokoh dari bebatuan di lembah Al-Hijr. Allah SWT telah mengutus Nabi Saleh AS kepada mereka. Namun, alih-alih bersyukur, mereka justru menantang dan mendustakan mukjizat yang dibawa Nabi Saleh, yaitu unta betina yang ajaib.

Kisah ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi siapapun yang menyalahgunakan nikmat dan menolak kebenaran. Allah SWT menekankan bahwa kezaliman dan kesombongan akan selalu berakhir dengan azab yang setimpal. Ayat-ayat ini mengingatkan umat Islam untuk selalu bersikap tawadhu (rendah hati) dan tidak melampaui batas (israf) dalam memanfaatkan karunia alam. Kehancuran mereka menjadi bukti nyata bahwa kekuatan fisik dan kemahiran teknologi (memahat batu) tidak berarti apa-apa di hadapan kekuasaan Ilahi.

Keagungan Al-Qur'an dan Penciptaan

Selain berisi peringatan, Surat Al-Hijr juga memuat penegasan luar biasa mengenai kemuliaan Al-Qur'an. Allah SWT bersumpah demi Al-Qur'an yang mengandung Dzikr (peringatan). Lebih lanjut, surat ini menguatkan klaim bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dijaga kemurniannya dari campur tangan manusia. Ini tertuang dalam firman Allah yang menjamin bahwa Dia akan menjaga sendiri kitab-Nya, sebuah janji yang membedakan Al-Qur'an dari kitab-kitab suci sebelumnya.

Di samping itu, Al-Hijr mengajak perenungan mendalam mengenai tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Ayat-ayatnya membahas tentang penciptaan langit yang bertabur bintang, bagaimana Allah menurunkan hujan untuk menghidupkan bumi yang tandus, hingga proses pertumbuhan pepohonan. Semua ini adalah ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda ciptaan) yang seharusnya mendorong setiap individu untuk semakin mengenal dan membenarkan Sang Pencipta.

Tentang Penciptaan Adam dan Kisah Iblis

Surat ini juga menyentuh kembali peristiwa penciptaan Nabi Adam AS dan penolakan Iblis untuk bersujud kepadanya. Penolakan ini didasari oleh kesombongan Iblis yang merasa lebih unggul karena terbuat dari api, sementara Adam dari tanah. Kisah ini sangat relevan sebagai cermin bagi hati manusia agar senantiasa waspada terhadap bisikan kesombongan yang merupakan akar dari segala dosa. Iblis meminta penangguhan waktu hingga hari kiamat, dan Allah mengabulkannya, sebuah dinamika abadi antara godaan setan dan perjuangan iman manusia yang akan terus berlangsung hingga akhir zaman.

Kesimpulan dan Spirit Keikhlasan

Secara keseluruhan, Surat Al-Hijr adalah panggilan untuk mengambil pelajaran dari sejarah, menghargai setiap karunia, dan meyakini kebenaran Al-Qur'an. Pesan utamanya adalah tentang keikhlasan dalam beribadah dan ketakwaan dalam menghadapi ujian. Nabi Muhammad SAW dianjurkan untuk bersabar dan tetap fokus berdakwah, karena hasil akhirnya sepenuhnya berada di tangan Allah. Surat ini mengakhiri pesannya dengan penekanan bahwa setiap mukmin harus menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara, dan persiapan untuk Akhiratlah yang sesungguhnya penting. Membaca dan merenungi Surat Al-Hijr memberikan ketenangan sekaligus tantangan untuk senantiasa memperbaiki diri dari kesombongan dan kemaksiatan.

🏠 Homepage