Mukjizat Isra' Mi'raj: Mengurai Makna Al-Isra Ayat 101 hingga 111

Peristiwa Isra’ Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW, perjalanan spiritual dan fisik dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra’), lalu dilanjutkan naik ke langit (Mi'raj). Al-Qur'an memberikan isyarat mendalam mengenai peristiwa agung ini, terutama dalam Surat Al-Isra (ayat 1). Namun, pembahasan selanjutnya dalam rangkaian ayat-ayat penutup surat tersebut—yaitu ayat 101 hingga 111—memberikan konteks teologis dan tantangan yang dihadapi kaum musyrikin Mekkah terkait kebenaran wahyu yang dibawa Nabi.

Ayat-ayat ini berfungsi sebagai penutup yang kuat, menegaskan kembali kebenaran risalah Islam dan menyanggah keraguan kaum kafir yang meminta bukti-bukti material yang mustahil menurut logika manusia biasa.

Ilustrasi Konstelasi Bintang dan Bulan Malam Isra'

Kondisi Kaum Musyrikin Terhadap Mukjizat (Al-Isra: 101-103)

Setelah Nabi SAW kembali dengan membawa ajaran tauhid dan kisah perjalanan agung tersebut, kaum Quraisy yang keras kepala menuntut bukti yang lebih konkret, seringkali berupa harta benda atau kekuasaan duniawi. Allah SWT berfirman mengenai kondisi mereka:

"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil (tentang kisah mereka) ketika Musa datang kepada mereka, lalu Fir’aun berkata kepadanya: 'Sesungguhnya aku duga, wahai Musa, engkau ini seorang yang terpedaya.' Musa menjawab: 'Sesungguhnya aku telah mengetahui, wahai Fir’aun, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat ini kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti nyata; dan sesungguhnya aku yakin, wahai Fir’aun, engkau akan binasa.'" (QS. Al-Isra: 101-102)

Ayat-ayat ini mengalihkan fokus pembuktian. Allah mengingatkan bahwa mukjizat yang diterima Nabi Musa a.s. (sembilan mukjizat nyata) pun tidak membuat Fir'aun beriman. Ini menunjukkan bahwa penolakan kaum Quraisy bukanlah karena kurangnya bukti, melainkan karena kesombongan dan keengganan hati mereka untuk tunduk pada kebenaran.

Kesesuaian Wahyu dan Janji Allah (Al-Isra: 103-108)

Allah kemudian menjelaskan bahwa Mukjizat Isra’ Mi’raj dan wahyu yang dibawa Nabi Muhammad SAW sejatinya adalah pemenuhan janji ilahi, berbeda dengan tuntutan manusia yang dangkal. Jika mereka tetap menolak, itu adalah kehendak Allah yang Maha Tahu:

"Maka mereka (kaum musyrikin) meminta agar Musa didatangkan bukti yang lebih nyata dari yang telah diberikan. Katakanlah: 'Allah cukup menjadi saksi antara aku dan kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya dan Maha Melihat perbuatan mereka.' ... Dan mereka berkata: 'Apakah apabila kami telah menjadi tulang belulang dan telah hancur, apakah kami akan dibangkitkan (lagi) menjadi makhluk baru?' Katakanlah: 'Jadilah kamu batu atau besi, atau makhluk lain yang lebih hebat menurut pandanganmu.'" (QS. Al-Isra: 103, 108)

Tantangan terbesar mereka adalah hari kebangkitan. Mereka meragukan kemampuan Allah untuk membangkitkan manusia dari ketiadaan, atau setelah menjadi debu. Jawaban Nabi tegas: Allah mampu menciptakan apapun, bahkan yang dianggap mustahil oleh logika mereka. Ini menegaskan kekuasaan mutlak Allah SWT, yang jauh melampaui keterbatasan pemahaman manusia.

Kesimpulan Mukjizat dan Penutup Surat (Al-Isra: 109-111)

Surat Al-Isra ditutup dengan pengakuan dari para ulama dan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang jelas dan membawa petunjuk yang lengkap:

"Dan mereka menyungkurkan diri sambil menangis dan bertasbih, dan mereka bertambah khusyu'. Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Nama mana saja yang kamu seru, (itu baik), karena Dia mempunyai nama-nama yang paling baik (Asmaul Husna)...' Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah, Yang tidak mengambil anak dan tidak pula mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia tidak memerlukan penolong untuk (menghadapi) kehinaan...' Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih, yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan bagi seluruh alam.'" (QS. Al-Isra: 109-111)

Penutup surat ini menegaskan tiga hal penting terkait mukjizat Isra' Mi'raj dan keseluruhan wahyu yang diterima Nabi: Pertama, kebenaran Al-Qur'an diakui bahkan oleh sebagian ahli kitab yang rendah hati (ayat 109). Kedua, penekanan pada tauhid murni, bahwa Allah adalah Yang Maha Tunggal, tidak beranak dan tidak diperanakkan (ayat 111). Ketiga, Al-Qur'an adalah Furqan (pembeda antara hak dan batil) yang diturunkan sebagai peringatan bagi semesta alam.

Secara keseluruhan, pembahasan Al-Isra 101-111 ini mengarahkan pembaca kembali pada inti dakwah: mengakui kebesaran Allah yang mampu melakukan hal-hal yang melampaui akal manusia (seperti Isra' Mi'raj dan bangkit dari kubur), serta menerima Al-Qur'an sebagai kebenaran hakiki yang tidak memerlukan pembenaran lebih lanjut dari mereka yang hatinya tertutup.

Kisah mukjizat ini sekaligus menjadi pelajaran bahwa iman sejati tidak didasarkan pada pemenuhan tuntutan duniawi, melainkan penerimaan penuh terhadap kebesaran dan kekuasaan Ilahi yang termanifestasi dalam setiap ayat-Nya.

🏠 Homepage