Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, mengandung banyak hikmah dan pelajaran penting bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam memahami konsep keadilan ilahi dan konsekuensi dari pembangkangan adalah ayat ke-16. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras dari Allah SWT kepada setiap generasi yang cenderung menolak kebenaran dan memilih jalan kesesatan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Isra ayat 16: "Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (untuk taat kepada Allah), tetapi mereka malah berbuat maksiat di negeri itu, maka pantaslah berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."
Makna sentral ayat ini terletak pada korelasi antara kemewahan, pembangkangan, dan kehancuran. Ini bukan sekadar ancaman kosong, melainkan sebuah pola historis yang telah berulang kali terjadi dalam peradaban manusia.
Kemewahan dan Kecerobohan Moral
Ayat ini secara spesifik menyebutkan kaum yang "hidup mewah" (الجَاحدون في النُّعم). Kata ini merujuk pada mereka yang menikmati rezeki dan kemudahan hidup yang dianugerahkan Allah, namun alih-alih bersyukur dan menggunakan karunia tersebut untuk kebaikan atau menegakkan kebenaran, mereka justru menjadi sombong, lalai, dan bahkan berbuat kerusakan atau maksiat.
Kemewahan, dalam konteks ini, menjadi ujian tersendiri. Ketika kesejahteraan material meningkat, seringkali diikuti dengan penurunan spiritual dan moral. Mereka yang seharusnya menjadi pelopor kebaikan karena kelebihan yang mereka miliki, malah menjadi agen utama kerusakan sosial. Mereka menggunakan harta dan kekuasaan untuk menindas, berfoya-foya tanpa batas, dan mengabaikan ajaran moral yang dibawa oleh para nabi dan rasul.
Perintah yang Diabaikan
Kunci kehancuran yang dijelaskan dalam ayat ini adalah pengabaian terhadap perintah untuk taat (أَمَرْنَا). Sebelum azab diturunkan, Allah selalu memberikan kesempatan melalui para pemimpin atau orang-orang yang diberi peringatan. Perintah tersebut adalah untuk kembali ke jalan yang benar, menegakkan keadilan, dan bersyukur atas nikmat.
Namun, respons mereka selalu sama: pembangkangan yang aktif. Mereka tidak hanya diam, tetapi secara aktif melakukan kerusakan (فَفَسَقُوا فِيهَا). Pembangkangan ini berupa pelanggaran hukum Allah secara terang-terangan, penindasan terhadap yang lemah, dan penyebaran kerusakan moral di tengah masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kehancuran bukanlah hukuman yang datang tiba-tiba tanpa peringatan, melainkan puncak dari akumulasi dosa dan pengabaian atas panggilan kebenaran.
Ketentuan yang Pasti Berlaku
Ketika batas kesabaran ilahi telah terlampaui, maka berlaku lah "perkataan (ketentuan) Kami" (فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ). Ini adalah penetapan hukum alam dan hukum ilahi yang tak terhindarkan. Ayat ini menegaskan bahwa setiap peradaban yang menolak untuk melakukan koreksi diri ketika diberi kemakmuran dan kesempatan, pasti akan menghadapi konsekuensi yang setimpal.
Akibatnya adalah kehancuran total ("lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya" - فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا). Kata 'tadmiran' menunjukkan tingkat kehancuran yang menyeluruh, menghapus jejak kemegahan yang pernah mereka banggakan. Ini adalah pelajaran bahwa kemakmuran duniawi tidak memberikan kekebalan terhadap murka ilahi jika disertai dengan kekufuran nikmat dan kezaliman.
Relevansi Kontemporer
Al-Isra ayat 16 sangat relevan hingga kini. Sejarah telah membuktikan bahwa peradaban besar yang jatuh seringkali didahului oleh periode kemewahan ekstrem di mana etika dan moralitas dikorbankan demi kesenangan sesaat. Ayat ini menjadi barometer bagi umat Islam di mana pun mereka berada: jika kemakmuran datang, maka ujian utamanya adalah bagaimana kita menggunakan kemakmuran tersebut. Apakah kita akan menjadi bersyukur dan adil, atau justru menjadi sombong dan zalim?
Tafsir ayat ini mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap bisikan hawa nafsu yang muncul bersamaan dengan kelimpahan materi. Kehancuran bukan hanya milik masa lalu; ia adalah potensi yang selalu mengintai setiap masyarakat yang lupa pada tujuan penciptaan mereka dan menolak mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah diberikan. Oleh karena itu, menjaga integritas moral, menegakkan keadilan, dan bersyukur adalah benteng utama agar tidak termasuk dalam kategori yang dijanjikan kehancuran tersebut.