Ilustrasi Konteks Wahyu Mengenai Penciptaan
Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari sebuah lembah di wilayah Hijaz, menyimpan banyak pelajaran penting mengenai tauhid, kenabian, dan keagungan Allah SWT. Salah satu ayat yang paling monumental dalam surah ini adalah ayat ke-28. Ayat ini menjadi titik balik dalam narasi penciptaan manusia, menyoroti dialog antara Sang Pencipta dengan para malaikat-Nya mengenai tugas besar yang akan diemban.
Ayat ini tidak sekadar menceritakan sebuah peristiwa di masa lalu; ia adalah fondasi teologis mengenai peran manusia di muka bumi. Firman Allah, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi," menandai dimulainya tugas kekhalifahan. Kata 'khalifah' (خليفة) sendiri mengandung makna wakil atau penerus. Ini menimbulkan pertanyaan besar: penerus siapa?
Tafsir klasik banyak menafsirkan bahwa manusia adalah khalifah setelah makhluk-makhluk pendahulu yang mungkin telah menghuni bumi dan menimbulkan kerusakan, sebagaimana yang disinggung oleh malaikat. Namun, yang lebih penting adalah implikasi dari peran ini. Kekhalifahan bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan amanat (titipan) untuk menegakkan keadilan, memakmurkan bumi, dan menjalankan syariat Allah.
Reaksi para malaikat menunjukkan kedalaman pemahaman mereka tentang sifat-sifat yang akan melekat pada makhluk baru ini. Mereka melihat potensi kerusakan, fitnah, dan pertumpahan darah. Pengamatan ini bukanlah bentuk pembangkangan, melainkan sebuah pertanyaan logis berdasarkan pengamatan mereka terhadap kondisi bumi sebelumnya atau sifat-sifat yang mereka tangkap dari esensi penciptaan Adam dari tanah liat yang rendah.
Malaikat, yang tugas utamanya adalah ketaatan mutlak (bertasbih dan mensucikan Allah), merasa heran mengapa Sang Pencipta memilih makhluk yang memiliki potensi konflik internal sebesar itu. Jawaban Allah, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui," adalah inti dari hikmah ayat ini.
Apa yang malaikat tidak ketahui adalah potensi kebaikan luar biasa yang ada pada manusia. Allah mengetahui bahwa di balik potensi kerusakan itu, tersembunyi potensi untuk cinta, pengorbanan, ilmu pengetahuan, dan yang terpenting, kemampuan untuk memilih ketaatan secara sadar—sesuatu yang tidak dimiliki malaikat yang diciptakan tanpa pilihan bebas. Manusia dibekali dengan akal (ilmu) yang kelak akan diajarkan, yang menjadi pembeda utama.
Memahami Al-Hijr ayat 28 berarti memahami tanggung jawab besar setiap individu muslim. Kita adalah bagian dari entitas yang diamanahkan sebagai khalifah. Tanggung jawab ini mencakup menjaga keseimbangan ekologi, menegakkan keadilan sosial, serta menjadi agen kemakmuran moral dan spiritual.
Ketika kita melihat kerusakan lingkungan, konflik sosial, atau ketidakadilan, kita sedang menyaksikan kegagalan kolektif dalam memikul amanah kekhalifahan ini. Ayat ini mengingatkan bahwa penciptaan kita memiliki tujuan yang sangat luhur, melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan biologis. Tujuan utamanya adalah menjadi saksi hidup atas kebesaran Allah di bumi, menjalankan peran sebagai agen kebaikan (ma'ruf) dan pencegah kemungkaran (munkar).
Oleh karena itu, setiap tindakan, baik kecil maupun besar, harus senantiasa dievaluasi dalam kerangka akuntabilitas kekhalifahan. Pengetahuan yang diajarkan kepada Adam—yaitu nama-nama segala sesuatu—adalah modal awal yang harus terus dikembangkan. Ilmu inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain dan menjadi alat utama untuk menunaikan tugas agung yang ditetapkan sejak awal penciptaan manusia di muka bumi. Ayat 28 Al-Hijr adalah pengingat abadi akan kehormatan sekaligus beban yang kita pikul.