Ilustrasi: Konsekuensi dari perbuatan baik dan buruk.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surah Makkiyah yang kaya akan pelajaran moral dan peringatan ilahi. Salah satu ayat penting dalam surah ini adalah ayat ketujuh, yaitu Al-Isra 17:7. Ayat ini secara tegas membahas prinsip dasar keadilan ilahi: bahwa setiap perbuatan manusia, baik atau buruk, akan mendapatkan balasan yang setimpal, bahkan berlipat ganda. Ayat ini menegaskan mekanisme sebab-akibat yang diterapkan Allah SWT dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi.
Bagian pertama dari Al-Isra 17:7 memberikan penekanan yang sangat personal: "Jika kamu berbuat baik, (kebaikan itu) untuk dirimu sendiri." Ini menunjukkan bahwa manfaat dari amal saleh, sedekah, atau sikap terpuji, pada dasarnya kembali kepada pelakunya. Dalam konteks dunia, kebaikan menciptakan lingkungan sosial yang harmonis, menumbuhkan ketenangan batin, dan mendapatkan rida Allah yang berujung pada pahala. Ini adalah investasi jangka panjang yang keuntungannya dinikmati oleh jiwa itu sendiri.
Sebaliknya, ketika manusia melakukan kejahatan, kerugian terbesar dirasakan oleh dirinya sendiri. Dosa tidak hanya merusak hubungan dengan Tuhan, tetapi juga merusak integritas moral dan mental pelakunya. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras bahwa tidak ada kejahatan yang tersembunyi dari dampak destruktifnya terhadap subjek yang melakukannya.
Ayat ini memiliki konteks historis yang mendalam terkait Bani Israil (Yahudi). Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang dua kali kebinasaan atau kekalahan yang akan menimpa mereka akibat pembangkangan mereka terhadap ajaran Allah.
Kekalahan Pertama terjadi ketika mereka melanggar perjanjian dan melakukan kerusakan besar. Allah kemudian mengirimkan musuh untuk menghukum mereka. Namun, setelah periode tertentu, mereka diizinkan untuk bangkit kembali.
Janji Kedua (Wa'dul Akhirah) adalah hukuman definitif yang lebih keras. Ayat ini mengisyaratkan bahwa jika mereka mengulangi kesalahan dan kerusakan mereka—khususnya dalam hal kekejaman dan penindasan—Allah akan mengirimkan kekuatan lain untuk membalas perbuatan mereka. Pembalasan ini ditandai dengan:
Meskipun ayat ini memiliki konteks spesifik terhadap kaum Bani Israil di masa lalu, prinsip dasarnya bersifat universal dan abadi. Konsep bahwa perbuatan baik mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, dan perbuatan buruk kembali menghantam pelakunya, adalah hukum alamiah yang ditegakkan oleh syariat.
Bagi umat Islam, ayat ini berfungsi sebagai pengingat konstan untuk menjaga moralitas dan menjauhi kerusakan. Ketika sebuah komunitas atau individu melakukan kezaliman atau kerusakan sistemik, Al-Isra 17:7 memberi jaminan bahwa hasil dari kerusakan tersebut (baik berupa keruntuhan sosial, kesulitan pribadi, atau azab ilahi) pada akhirnya akan kembali menimpa mereka yang memulai keburukan itu. Ayat ini menumbuhkan kesadaran bahwa pertanggungjawaban selalu ada, dan konsekuensi seringkali lebih dahsyat daripada perbuatan asalnya.
Memahami Al-Isra 17:7 adalah memahami bahwa keadilan ilahi tidak bersifat sewenang-wenang. Ia terikat pada mekanisme aksi dan reaksi yang sempurna. Oleh karena itu, fokus utama seorang mukmin seharusnya adalah senantiasa menanam kebaikan sebagai investasi terbaik bagi dirinya sendiri di dunia dan akhirat, sambil waspada terhadap jejak keburukan yang dapat membawa kehancuran.