Kehormatan yang Diberikan: Mengurai Al-Isra' Ayat 17:70

Simbol Kemuliaan dan Pengangkatan Derajat Sebuah representasi abstrak berupa lingkaran cahaya yang mengelilingi siluet manusia yang tegak, melambangkan pengangkatan derajat dan kehormatan. ADAM

Di dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang menjelaskan tentang kedudukan tinggi manusia sebagai khalifah di bumi. Salah satu penegasan yang sangat fundamental mengenai kehormatan ini tercantum dalam Surah Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Al-Isra' wal Mi'raj), tepatnya pada ayat ke-70. Ayat ini menjadi landasan penting dalam memahami penghargaan khusus yang Allah berikan kepada Bani Adam.

Surah Al-Isra' (17:70): "Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."

Makna Kemuliaan yang Universal

Ayat Al Isra 17 70 ini secara eksplisit menyatakan: "Wa laqad karramna Bani Adam" (Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam). Kata "karramna" (Kami muliakan) menunjukkan sebuah tindakan aktif dan pemberian kehormatan langsung dari Allah SWT kepada seluruh keturunan Nabi Adam AS, terlepas dari status sosial, ras, atau kemampuan mereka saat itu. Kemuliaan ini adalah bawaan sejak penciptaan.

Kemuliaan ini mencakup aspek spiritual, intelektual, dan fisik. Secara spiritual, manusia diciptakan dengan fitrah yang mampu mengenal Tuhannya. Secara intelektual, manusia dianugerahi akal yang memungkinkan ia belajar, berpikir kritis, dan membedakan antara yang hak dan batil. Ini adalah keunggulan mendasar yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, seperti yang sering diulas dalam tafsir klasik.

Bukti Nyata Keunggulan Manusia

Ayat tersebut tidak hanya berhenti pada pernyataan abstrak, tetapi memberikan bukti konkret atas pemuliaan tersebut. Allah menyebutkan tiga aspek utama:

  1. Penguasaan di Darat dan Laut: Kemampuan manusia untuk menaklukkan dan memanfaatkan lingkungan alam. Dari berjalan tegak (yang memudahkan mobilitas) hingga menciptakan kapal dan teknologi transportasi, manusia diberikan kemampuan untuk melakukan perjalanan jauh dan mengeksplorasi bumi dan lautan.
  2. Rezeki yang Tayyib (Baik): Manusia dibekali kemampuan untuk mengolah sumber daya alam dan memilih rezeki yang bersih, baik secara fisik maupun moral. Ini berbeda dengan hewan yang hanya mengonsumsi apa yang tersedia tanpa seleksi moral.
  3. Keunggulan yang Sempurna: Puncak dari pemuliaan ini adalah kelebihan yang diberikan atas kebanyakan makhluk ciptaan Allah lainnya. Kelebihan ini merujuk pada akal, kemampuan berbicara, dan kesempurnaan bentuk fisik yang memungkinkan manusia menjalankan fungsi kekhalifahannya.

Implikasi Kewajiban dan Tanggung Jawab

Kehormatan besar ini tentu membawa tanggung jawab yang besar pula. Ketika Allah memuliakan Bani Adam, Ia sekaligus menempatkan mereka pada posisi yang membutuhkan pertanggungjawaban. Dengan akal dan kemampuan yang diberikan, manusia diharapkan menggunakan karunia tersebut untuk tujuan kebaikan, yaitu menegakkan keadilan dan beribadah kepada Pencipta.

Menghargai ayat Al Isra 17 70 berarti juga menyadari bahwa kehormatan ini bisa luntur jika manusia menyalahgunakan nikmat tersebut. Ketika akal digunakan untuk menindas, ketika kemampuan menguasai alam digunakan untuk merusak, atau ketika rezeki yang baik disalahgunakan, maka status kemuliaan tersebut terancam. Oleh karena itu, ayat ini menjadi pengingat konstan bagi setiap individu untuk hidup sesuai dengan martabat yang telah Allah tetapkan sejak awal penciptaan mereka. Ayat ini menegaskan posisi manusia sebagai makhluk yang istimewa, yang harus bersyukur atas anugerah tersebut.

🏠 Homepage