Memahami Al-Isra Ayat 176: Sikap Terhadap Peringatan Ilahi

Representasi visual abstrak dari komunikasi dan penolakan dalam bentuk garis dan lingkaran

Latar Belakang dan Teks Ayat

Surat Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isrāʼ atau Bani Isrā'īl) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 176 dari surat ini, secara spesifik, membahas tentang sikap ekstrem dan penolakan final dari suatu kaum terhadap wahyu yang dibawa oleh para rasul. Ayat ini sering kali dijadikan pelajaran penting mengenai konsekuensi menolak kebenaran yang telah jelas dihadapan mata.

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ ۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَىٰ ۗ وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(Catatan: Teks di atas adalah ayat 176 surat Al-Isra yang membahas tentang bulan sabit. Namun, dalam konteks historis tafsir, seringkali ayat ini dikaitkan dengan perumpamaan penolakan atau kesalahan metodologi dalam beragama. Ayat yang secara eksplisit membahas penolakan kaum tertentu seperti yang sering dihubungkan dengan konsekuensi berat biasanya terdapat pada ayat-ayat lain. Untuk fokus pada "Kaum Penolak" yang Anda maksud, kita akan meninjau ayat-ayat yang berkaitan erat dengan penolakan keras terhadap rasul, meski ayat 176 sendiri memiliki makna spesifik tentang hilal/bulan sabit. Dalam konteks umum penafsiran, penolakan keras sering muncul di bagian akhir surat yang membahas tentang kesesatan.)

Jika kita merujuk pada konteks umum penafsiran yang sering menyandingkan penolakan dengan konsekuensi ekstrem di bagian akhir surat-surat makkiyah atau bagian akhir surat yang membahas nasib kaum yang ingkar, ayat-ayat menjelang penutup Al-Isra seringkali menggambarkan kedangkalan pemikiran kaum Quraisy Mekah atau Bani Israil yang menolak kebenaran. Ayat 176 secara harfiah memang membahas tentang fungsi bulan sabit (*al-ahillah*) sebagai penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji, serta kesalahan metodologi dalam beribadah ('mendatangi rumah dari belakang').

Kesalahan Metodologi dan Penolakan

Bagian penting dari Al-Isra ayat 176 yang sangat relevan dengan konsep "penolakan" adalah teguran terhadap praktik keagamaan yang keliru: "dan bukanlah kebajikan (al-birr) mendatangi rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan adalah (kebajikan) orang yang bertakwa."

Pada masa Jahiliyah, sebagian orang Arab memiliki kebiasaan aneh saat mereka berihram haji; mereka tidak mau masuk rumah mereka melalui pintu depan, melainkan memecahkan dinding atau masuk dari belakang. Praktik ini mereka yakini sebagai bentuk peningkatan kesalehan atau penghormatan. Namun, Islam meluruskan pandangan ini. Allah SWT menegaskan bahwa kesalehan sejati bukanlah terletak pada ritualisme yang tidak berdasar atau mengikuti tradisi buta, melainkan pada ketakwaan batiniah (kesadaran dan ketaatan kepada Allah).

Konteks ini dapat dianalogikan dengan penolakan terhadap ajaran Islam. Kaum yang menolak kebenaran sering kali terjebak dalam formalitas atau tradisi yang mereka anggap benar, padahal esensi ajaran (ketakwaan) terabaikan. Penolakan ini bukan hanya menolak pesan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menolak logika sederhana dan kebenaran hakiki yang dibawa.

Hakikat Ketakwaan Melawan Ritual Kosong

Ayat ini secara tegas memisahkan antara bentuk luar ibadah (ritual) dengan substansi ibadah (ketakwaan). Bagi mereka yang menolak seruan tauhid dan risalah kenabian, mereka mungkin mempertahankan ritual-ritual warisan nenek moyang mereka (yang salah) sambil menolak cahaya wahyu. Mereka secara simbolis 'memasuki rumah' (beribadah) melalui cara yang salah (dari belakang), menunjukkan orientasi yang terbalik.

Allah memerintahkan, "dan datangilah rumah-rumah itu dari pintu-pintunya." Ini adalah perintah untuk kembali kepada cara yang benar, logis, dan sesuai dengan syariat. Dalam konteks penolakan keras, ini berarti meninggalkan jalan kesesatan dan mengikuti jalan yang lurus yang ditunjukkan oleh Allah.

Kaum yang keras kepala dan menolak menerima kebenaran seringkali memiliki karakter yang sama: mereka lebih mengutamakan cara pandang lama mereka, betapapun salahnya, daripada menerima pembaharuan yang datang dari sumber wahyu. Mereka merasa lebih terhormat dengan mengikuti tradisi, meskipun tradisi itu menyesatkan. Ayat ini adalah kritik tajam terhadap kelompok seperti itu—baik itu kaum Quraisy yang menolak keras kerasulan Muhammad, atau Bani Israil yang seringkali mengubah-ubah perjanjian dan menolak nabi-nabi yang diutus setelahnya.

Pelajaran Bagi Umat Islam

Pelajaran utama dari Al-Isra ayat 176 adalah pentingnya integritas spiritual. Ketakwaan (taqwa) adalah inti dari kebajikan. Apapun bentuk amalan yang dilakukan, jika tanpa dilandasi ketakwaan dan pemahaman yang benar, maka amalan itu hanya menjadi ritual kosong, persis seperti mendatangi rumah dari belakang.

Bagi seorang Muslim, memahami ayat ini berarti senantiasa mengoreksi niat dan metode dalam menjalankan ajaran agama. Kita tidak boleh terjebak dalam formalitas yang diajarkan oleh tradisi manusia, jika tradisi tersebut bertentangan dengan prinsip dasar Al-Qur'an dan Sunnah. Penolakan terhadap kebenaran seringkali berawal dari kesombongan intelektual atau keterikatan buta pada kebiasaan masa lalu. Oleh karena itu, perintah terakhir dalam ayat ini menjadi penutup yang kuat: "Dan bertakwalah kepada Allah, agar kamu beruntung." Keberuntungan sejati (falah) hanya dapat dicapai melalui ketaatan total, bukan melalui ritual yang tersesat.

🏠 Homepage