Surah Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, mengandung banyak hikmah dan pelajaran fundamental dalam ajaran Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi titik renungan mendalam mengenai konsep usaha dan hasil akhir adalah ayat ke-19. Ayat ini secara eksplisit menghubungkan antara upaya yang dilakukan seorang manusia di dunia dengan balasan yang akan diterimanya di akhirat.
Ayat 19 dari surah ke-17 Al-Isra' menegaskan prinsip universal tentang konsekuensi perbuatan. Ia bukan sekadar ancaman atau janji kosong, melainkan sebuah hukum kausalitas ilahiah yang tidak dapat diganggu gugat. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini membekali mukmin dengan pemahaman bahwa kehidupan dunia adalah ladang ujian, dan setiap tindakan, baik yang tampak maupun tersembunyi, akan diperhitungkan.
"Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan usaha yang sebenarnya, sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka itulah orang-orang yang balasannya disyukuri (oleh Allah)." (QS. Al-Isra': 19)
Ayat ini memaparkan dua prasyarat utama untuk meraih keridhaan Allah di akhirat: niat (kehendak) dan usaha (amal). Kehendak untuk mengutamakan akhirat (man araada al-aakhirata) harus hadir sebagai kompas utama. Tanpa adanya niat yang tulus untuk mencari keridhaan Ilahi, semua aktivitas duniawi akan kehilangan makna spiritualnya. Banyak orang melakukan amal baik, namun jika motivasi dasarnya adalah pujian manusia atau keuntungan duniawi semata, maka nilai di sisi Allah akan berbeda.
Namun, niat saja tidak cukup. Islam mengajarkan keseimbangan antara iman dan amal. Ayat ini melanjutkan dengan frasa "wa sa'aa lahaa sa'yahaa"—yaitu berusaha sekuat tenaga, dengan cara yang benar, untuk meraih tujuan akhirat tersebut. Usaha di sini harus sebanding dengan pentingnya tujuan. Jika tujuannya adalah kebahagiaan abadi, maka upayanya haruslah sungguh-sungguh dan maksimal, dilakukan sesuai tuntunan syariat. Ini mencakup ibadah ritual (shalat, puasa, zakat) maupun muamalah (perilaku sosial, kejujuran berdagang, dan berbuat baik kepada sesama).
Poin krusial ketiga yang ditekankan adalah kondisi hati: "wa huwa mu'minun" (sedangkan ia dalam keadaan beriman). Iman di sini adalah pondasi. Semua usaha yang didasari oleh keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir, akan memiliki nilai yang berbeda dibandingkan usaha yang dilakukan oleh orang yang ingkar. Keimanan memberikan otorisasi dan penerimaan terhadap setiap amal yang dilakukan. Tanpa iman, usaha keras—seperti membantu orang miskin atau membangun fasilitas umum—tetap bernilai sosial, namun potensi pahala ukhrawinya terputus.
Inilah yang membuat ayat ini begitu kuat. Ia memberikan peta jalan yang jelas: fokuskan hati pada akhirat, bekerja keras sesuai tuntunan agama, dan pastikan fondasi keimanan Anda kokoh.
Konsekuensi dari tiga elemen di atas adalah janji balasan yang istimewa: "fa ulaa'ika kaana sa'yuhum mashkuraa" (maka mereka itulah orang-orang yang balasannya disyukuri). Kata "mashkur" (disyukuri) memiliki makna yang mendalam. Dalam bahasa Arab, terkadang kata syukr berarti balasan yang setimpal atau bahkan lebih dari yang semestinya.
Allah SWT tidak hanya membalas amal hamba-Nya sesuai jumlahnya, tetapi bahkan melipatgandakannya dan memberikan balasan yang melampaui ekspektasi usaha mereka. Ini adalah wujud kemurahan dan rahmat Allah. Usaha kita mungkin terbatas, namun balasan dari Dzat yang Maha Pemurah adalah tanpa batas. Ayat ini menjadi sumber motivasi terbesar, mendorong setiap muslim untuk selalu berbuat terbaik, karena tidak ada usaha baik yang sia-sia di hadapan-Nya.