Ayat ini merupakan bagian penting dari Surat Al-Isra (atau Bani Isra'il) yang menjelaskan tentang hakikat tauhid dan keesaan Allah SWT, terutama dalam konteks pengakuan terhadap Allah sebagai satu-satunya yang berhak disembah, termasuk pengakuan terhadap keunggulan Rasulullah ﷺ.
"Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi. Dan sungguh, Kami telah melebihkan sebagian nabi-nabi atas sebagian yang lain, dan Kami berikan Zabur kepada Dawud (Daud)."
Ayat 55 dari Surat Al-Isra ini mengandung dua poin utama yang sangat fundamental dalam ajaran Islam. Poin pertama adalah penegasan tentang ilmu Allah yang maha luas, dan poin kedua adalah penetapan superioritas (keutamaan) sebagian Nabi di atas Nabi yang lain, serta pemberian mukjizat spesifik kepada Nabi Dawud AS.
Frasa pertama, "Wa Rabbuka A'lamu Biman Fil-Samawati Wal-Ardhi," menegaskan bahwa pengetahuan Allah SWT mencakup segala sesuatu, baik yang berada di alam langit (malaikat, jin, dan alam gaib lainnya) maupun yang ada di bumi (manusia dan seluruh ciptaan). Penegasan ini berfungsi sebagai pengingat bagi kaum musyrikin atau mereka yang meragukan kebenaran wahyu bahwa klaim mereka yang sedikit itu sangat kecil di hadapan pengetahuan Allah yang meliputi seluruh eksistensi. Ketika mereka mencoba menantang kenabian Muhammad ﷺ, Allah mengingatkan Rasul-Nya bahwa Dialah Yang Maha Tahu siapa yang pantas menerima wahyu dan siapa yang patut memimpin umat.
Poin kedua, "Wa Laqad Faḍḍalna Ba'ḍan Nabiyyiina 'Ala Ba'ḍin," adalah jawaban terhadap kemungkinan adanya perdebatan atau pertanyaan mengenai kedudukan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi terdahulu. Islam mengakui kenabian banyak tokoh besar, seperti Nabi Musa AS, Nabi Isa AS, dan Nabi Ibrahim AS, namun Al-Qur'an secara eksplisit menyatakan bahwa terdapat tingkatan atau keutamaan yang diberikan Allah kepada sebagian nabi di atas yang lain. Nabi Muhammad ﷺ sendiri diyakini oleh umat Islam sebagai Nabi penutup (khatamul anbiya) yang memiliki derajat tertinggi.
Pemberian keutamaan ini tidak mengurangi kemuliaan nabi-nabi lainnya, melainkan merupakan penetapan ilahi mengenai tugas, cobaan, dan mukjizat yang berbeda-beda yang diemban oleh setiap rasul dalam menjalankan misi dakwah mereka di zaman masing-masing.
Ayat ini diakhiri dengan penyebutan khusus mengenai karunia luar biasa yang diberikan kepada Nabi Dawud AS: "Wa Ātaynā Dāwūda Zabūrā." Zabur (Zabur) adalah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Dawud AS. Kitab ini diyakini berisi hikmah, pujian, dan ratapan yang indah. Selain wahyu kitab, Nabi Dawud juga dikenal memiliki suara yang sangat merdu sehingga ketika beliau bertasbih, gunung-gunung dan burung-burung ikut bersamanya bertasbih memuji Allah. Pemberian mukjizat yang unik ini menunjukkan bahwa Allah memberikan karunia yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan kemampuan para penerimanya.
Memahami Surat Al-Isra ayat 55 memberikan pelajaran penting tentang keadilan dan hikmah Ilahi. Allah menetapkan kedudukan setiap makhluk, termasuk para nabi, berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna. Bagi seorang Muslim, ayat ini mengajarkan untuk menerima dengan lapang dada perbedaan tingkatan dalam kerasulan dan selalu mengembalikan penilaian akhir kepada Allah SWT.
Ketika Rasulullah ﷺ menghadapi penolakan, ayat ini berfungsi sebagai penenang bahwa validitas risalahnya tidak bergantung pada penerimaan manusia, melainkan pada penetapan dari Dzat Yang Maha Tahu segala isi langit dan bumi. Dengan demikian, pengakuan terhadap keesaan Allah dan kenabian Muhammad ﷺ—serta penghormatan terhadap nabi-nabi yang diutus sebelumnya—menjadi inti dari ajaran yang disampaikan melalui ayat ini. Konten ini harus selalu direnungkan untuk memperkuat iman terhadap kekuasaan dan pengetahuan Tuhan yang tak terbatas.