Peristiwa Isra dan Mikraj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Kisah ini terbagi menjadi dua bagian penting: Al-Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Al-Mikraj (perjalanan dari Masjidil Aqsa menuju sidratul muntaha). Fokus pembahasan ini adalah pada lapisan makna dan signifikansi dari perjalanan pertama, yaitu Al-Isra.
Makna Spiritual Al-Isra
Al-Isra, seperti yang disebutkan dalam Surah Al-Isra (QS. 17:1), bukanlah sekadar perjalanan fisik biasa. Ia adalah ujian keimanan tertinggi bagi Nabi Muhammad SAW dan juga sebuah penegasan status kenabian beliau di hadapan umat manusia saat itu. Perjalanan ini dimulai ketika beliau sedang berada dalam kondisi paling rentan secara emosional, setelah menghadapi penolakan keras di Thaif dan kehilangan dukungan dari Abu Thalib (Tahun Kesedihan).
Perjalanan dari Mekkah ke Yerusalem (Masjidil Aqsa) dalam waktu singkat menunjukkan kuasa Allah SWT yang melampaui hukum fisika duniawi. Para ulama menafsirkan bahwa Isra adalah rahmat penghiburan yang diberikan langsung oleh Sang Pencipta setelah cobaan berat. Ini mengajarkan umat bahwa setelah kesulitan besar, akan selalu ada jalan keluar yang datang dari dimensi ilahiah.
Kunjungan ke Masjidil Aqsa dan Rangkaian Shalat
Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi SAW disambut oleh ruh para nabi terdahulu. Di sinilah terjadi momen krusial: beliau memimpin shalat berjamaah bersama para rasul tersebut. Momen ini sangat signifikan karena menegaskan bahwa Islam adalah penyempurnaan dan puncak dari semua risalah kenabian sebelumnya. Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Imam Agung, yang secara simbolis menunjukkan kedudukannya sebagai penutup para nabi.
Dalam beberapa riwayat, di Masjidil Aqsa ini pula Nabi SAW diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah yang lain, mempersiapkan beliau untuk tahapan Mikraj yang lebih tinggi. Namun, fokus utama Isra adalah penegasan hubungan vertikal beliau dengan Allah melalui ritual shalat yang kini menjadi tiang agama.
Pentingnya Orientasi Masjidil Aqsa
Sebelum kewajiban menghadap Ka'bah ditetapkan secara permanen, arah kiblat umat Islam adalah Masjidil Aqsa. Perjalanan Isra memperkuat hubungan spiritual dan historis umat Islam dengan tanah suci Palestina. Masjidil Aqsa bukan hanya batu loncatan menuju langit, tetapi juga titik sentral dalam sejarah kenabian, tempat para nabi terdahulu menyebarkan risalah tauhid.
Dengan menempuh perjalanan ini, Allah SWT secara eksplisit menunjukkan bahwa perjuangan Nabi SAW meluas melampaui batas-batas geografis Jazirah Arab. Risalah beliau adalah untuk seluruh alam semesta, dan Masjidil Aqsa menjadi simbol persatuan spiritual Timur dan Barat.
Pelajarannya untuk Umat Kontemporer
Kisah Al-Isra memberikan pelajaran berharga bagi umat Muslim di era modern. Pertama, kepercayaan penuh terhadap janji dan pertolongan Allah, meskipun situasi terlihat mustahil. Kedua, pentingnya menjaga shalat sebagai penghubung utama dengan Yang Maha Kuasa, mengingat shalat dipimpin langsung oleh Nabi pada momen tersebut.
Setiap kali umat Islam mengingat Isra, diingatkan bahwa kesulitan duniawi bersifat sementara, sedangkan kedekatan spiritual yang dicapai melalui ketaatan adalah abadi. Perjalanan yang melintasi ruang dan waktu ini adalah pengingat konstan bahwa realitas spiritual jauh lebih luas daripada persepsi indrawi kita sehari-hari. Al-Isra mempersiapkan Nabi untuk menerima wahyu terpenting (kewajiban shalat lima waktu) yang menjadi cahaya penuntun bagi miliaran manusia hingga akhir zaman.