Kajian Mendalam QS Al-Isra Ayat 55

Allah

Ilustrasi representasi kekuasaan Ilahi di atas semesta.

Teks dan Terjemahan Ayat

وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُسْتَصْلِحِينَ

Terjemahan: Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang paling patut menerima petunjuk.

QS Al-Isra (Surah ke-17) ayat 55 ini merupakan penutup dari rangkaian ayat yang membahas tentang penegasan keesaan Allah, kekuasaan-Nya atas penciptaan, serta hak prerogatif-Nya dalam menentukan siapa yang layak menerima petunjuk (hidayah). Ayat ini singkat namun padat makna, berfungsi sebagai penegasan akhir setelah pembahasan yang panjang.

Konteks Penegasan Kekuasaan

Ayat 55 ini diletakkan setelah Allah SWT berfirman mengenai pengutusan para rasul (ayat 53) dan penegasan bahwa Dia telah memberikan berbagai macam bukti dan mukjizat kepada umat manusia (ayat 54), termasuk memberikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama. Setelah semua penjelasan itu, muncul keraguan atau mungkin permintaan dari kaum musyrikin Mekah agar Allah mendatangkan bukti yang lebih nyata atau spesifik sesuai keinginan mereka.

Allah menjawab keraguan tersebut dengan firman-Nya: "Dan Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang paling patut menerima petunjuk." Jawaban ini memiliki implikasi yang sangat mendalam. Pertama, ini menegaskan bahwa hidayah bukanlah hak yang bisa dituntut berdasarkan permintaan atau standar manusiawi, melainkan sepenuhnya berada dalam otoritas dan kebijaksanaan mutlak Allah SWT. Manusia tidak berhak memaksa Allah untuk memberikan bukti yang mereka inginkan.

Ketuhanan (Rububiyyah) Allah mencakup pengetahuan sempurna (Al-'Alim). Dia mengetahui isi hati setiap hamba-Nya, sejauh mana kesiapan mereka menerima kebenaran, dan sejauh mana kesombongan atau keikhlasan mereka dalam mencari petunjuk. Oleh karena itu, hanya Dia yang berhak menentukan kepada siapa hidayah itu akan dicurahkan.

Makna "Al-Mustashlihin" (Yang Paling Patut)

Kata kunci dalam ayat ini adalah "Al-Mustashlihin" (ٱلْمُسْتَصْلِحِينَ), yang berasal dari akar kata yang berarti memperbaiki atau menjadikan sesuatu baik (islah). Dalam konteks ini, maknanya merujuk pada mereka yang secara internal mempersiapkan diri, membersihkan hati, dan bersedia menerima kebaikan atau perbaikan spiritual.

Allah tidak hanya melihat tindakan lahiriah atau permintaan yang diucapkan lisan, tetapi melihat potensi perbaikan batiniah. Seseorang yang hatinya telah dipenuhi keangkuhan, penolakan keras, atau kesombongan akan dianggap "tidak patut" menerima petunjuk, meskipun ia telah melihat tanda-tanda yang jelas. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki hati yang lembut, tulus dalam mencari kebenaran, dan bersedia berubah menjadi lebih baik, Allah akan membukakan jalan hidayah-Nya.

Ini mengajarkan kita bahwa usaha menerima hidayah harus datang dari diri sendiri. Manusia perlu 'memperbaiki diri' (menjadi mustashlih) agar layak menerima rahmat ilahi tersebut. Jika seseorang menolak petunjuk karena hawa nafsu yang menguasai, maka Allah membiarkannya dalam kesesatan yang telah ia pilih. Sebaliknya, jika seseorang berusaha keras mencari kebenaran, Allah akan menolongnya.

Pelajaran Tauhid dan Tawakkal

Ayat ini memperkuat prinsip tauhid, khususnya dalam aspek kekuasaan penetapan (hukum syar'i dan qadar). Pengutusan Nabi Muhammad SAW, penurunan Al-Qur'an, serta demonstrasi mukjizat adalah bentuk upaya manusia untuk beriman. Namun, hasil akhir dari upaya tersebut bergantung penuh pada kehendak Allah yang Maha Mengetahui mana yang terbaik bagi ciptaan-Nya.

Implikasinya bagi umat Islam adalah pentingnya sikap rendah hati dan tidak menghakimi. Kita tidak boleh merasa berhak atas petunjuk hanya karena kita telah beribadah atau berdakwah. Setiap kali kita melihat orang lain belum menerima Islam atau belum berhijrah menuju ketaatan, kita harus ingat bahwa penentuan itu adalah ranah Allah SWT. Tugas kita adalah menyampaikan risalah dengan hikmah, mendoakan, dan terus memperbaiki kualitas keikhlasan kita sendiri.

Dengan memahami bahwa Allah Maha Tahu siapa yang layak, seorang mukmin harus senantiasa menjaga kebersihan niat dan tindakannya. Kita harus terus memohon agar senantiasa digolongkan sebagai 'Al-Mustashlihin' di mata-Nya, sehingga rahmat petunjuk-Nya tidak terputus dari kita hingga akhir hayat. Kekuatan ayat ini terletak pada penyerahan total kepada kemahatahuan dan kebijaksanaan ilahi.

🏠 Homepage