Dalam lembaran kitab suci Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang berfungsi sebagai pilar utama dalam membentuk aqidah seorang Muslim. Salah satu ayat yang sangat fundamental dan sering menjadi titik fokus dalam pembahasan tauhid adalah Al-Isra ayat 22. Ayat ini secara tegas memaparkan konsekuensi logis dari pilihan spiritual manusia: berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT, atau menyekutukan-Nya dengan entitas lain.
لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْسُورًا
"Janganlah kamu jadikan di samping Allah tuhan yang lain, karena kamu akan menjadi orang yang tercela dan terhina." (QS. Al-Isra: 22)
Ayat ini turun sebagai bagian dari rentetan pengajaran yang menegaskan keesaan Allah (Tauhid), yang merupakan inti risalah para Nabi. Ayat sebelum dan sesudahnya juga membahas prinsip-prinsip dasar Islam, seperti kewajiban berbuat baik kepada orang tua dan larangan membunuh anak karena kemiskinan. Dalam konteks ini, penetapan prinsip Tauhid ditempatkan di posisi yang sangat sentral.
Perintah Al-Isra ayat 22 adalah larangan yang sangat keras: "Janganlah kamu jadikan di samping Allah tuhan yang lain." Dalam bahasa Arab, penggunaan kata 'La' (Janganlah) menunjukkan larangan definitif dan mutlak. Ini bukan sekadar anjuran, melainkan sebuah perintah Ilahi yang jika dilanggar, membawa konsekuensi fatal di dunia dan akhirat. Makna "tuhan yang lain" mencakup segala sesuatu yang diagungkan, ditaati, dimintai pertolongan, atau dijadikan sandaran melebihi Allah SWT—baik itu berhala, hawa nafsu, harta benda, jabatan, atau bahkan pemikiran sesat.
Bagian kedua dari ayat tersebut menjelaskan konsekuensi yang akan menimpa pelaku kesyirikan: "maka kamu akan menjadi orang yang tercela (madhmuman) dan terhina (makhsura)."
Kata "madhmuman" (tercela) merujuk pada kondisi mental dan sosial. Secara spiritual, orang yang menyekutukan Allah akan dicela oleh para malaikat dan orang-orang beriman. Secara sosial, ia kehilangan kehormatan karena orientasi hidupnya yang keliru, di mana ia menempatkan makhluk lemah di posisi yang seharusnya hanya disandang oleh Sang Pencipta.
Sementara itu, kata "makhsura" (terhina atau merugi) memiliki makna yang sangat mendalam. Terhina di sini berarti kehilangan segala kebaikan dan terputus dari rahmat Allah. Ketika seseorang berpegang teguh pada selain Allah, ia bergantung pada sesuatu yang pasti akan mengecewakannya atau fana. Ketergantungan yang keliru ini menghasilkan kerugian abadi, sebab investasi terbesar—yaitu hidupnya—diarahkan kepada selain yang berhak menerimanya. Ia rugi dalam urusan dunia karena kecemasan yang ditimbulkannya, dan rugi total di akhirat karena kehilangan kebahagiaan sejati.
Memahami Al-Isra ayat 22 tidak hanya relevan dalam konteks penyembahan berhala masa lampau. Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini berfungsi sebagai alarm bahaya terhadap berbagai bentuk kesyirikan tersembunyi (syirkul khafi). Banyak orang tanpa sadar terjebak dalam kesyirikan kecil, seperti:
Ayat ini mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati, kehormatan, dan keselamatan hanya bisa diraih melalui jalan Tauhid yang murni. Jalan ini adalah satu-satunya jalan yang menjamin bahwa setiap amal perbuatan akan dihargai dan setiap usaha akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Dengan memurnikan ibadah hanya kepada Allah, seorang mukmin menempatkan dirinya di posisi yang benar di hadapan Penciptanya, sehingga ia terhindar dari kehinaan dan kerugian abadi yang dijanjikan bagi mereka yang menduakan-Nya.
Oleh karena itu, perenungan terhadap Al-Isra ayat 22 adalah pengingat konstan untuk senantiasa meninjau kembali niat dan orientasi hidup kita, memastikan bahwa hanya Allah SWT yang menjadi tujuan akhir segala upaya dan pengabdian kita.