Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan ajaran mengenai tauhid, sejarah nabi-nabi terdahulu, dan pedoman akhlak bagi umat Islam. Di antara ayat-ayat yang sangat fundamental dalam membangun karakter seorang Muslim adalah ayat ke-23. Ayat ini secara spesifik menetapkan batasan-batasan penting dalam berinteraksi dengan orang tua, yang merupakan pilar utama dalam tatanan sosial Islam.
Ayat ini diletakkan segera setelah perintah untuk mentauhidkan Allah SWT (Ayat 22), menandakan bahwa pengabdian kepada Allah memiliki korelasi langsung dengan pengabdian dan penghormatan kepada orang tua. Urutan ini menekankan bahwa tidak ada ibadah yang diterima sempurna tanpa adanya implementasi etika sosial yang benar, terutama dalam lingkup keluarga.
Pesan inti dari Al-Isra ayat 23 terletak pada larangan keras terhadap dua bentuk perlakuan buruk terhadap orang tua ketika mereka mencapai usia lanjut: mengucapkan kata "ah" dan membentak. Kata "ah" dalam konteks ini bukan sekadar desahan lelah biasa, melainkan ekspresi ketidaksenangan, kejengkelan, atau rasa jenuh terhadap perintah, permintaan, atau kondisi mereka yang mungkin merepotkan.
Ketika orang tua mulai mengalami penurunan fungsi fisik dan mental karena usia tua, naluri alami manusia mungkin merasakan beban. Namun, Al-Qur'an menutup segala celah untuk mengekspresikan kejengkelan tersebut secara verbal. Bentakan (tanharuhuma) adalah bentuk kekerasan verbal yang lebih nyata. Islam mengajarkan bahwa perlakuan terhadap orang tua harus semakin lembut seiring bertambahnya usia mereka, justru karena mereka semakin membutuhkan kesabaran. Ironisnya, seringkali anak cenderung bersikap sebaliknya.
Setelah melarang perilaku negatif, ayat ini memberikan solusi positif: qaulan karima atau ucapan yang mulia. Ucapan mulia adalah tutur kata yang penuh hormat, santun, menenangkan hati, dan mengandung pujian atau doa yang baik. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi dengan orang tua tidak boleh sekadar bebas dari maksiat (tidak boleh membentak), tetapi harus diisi dengan kebaikan aktif.
Implementasi qaulan karima ini mencakup nada suara yang lembut, pemilihan kata yang selalu menghargai posisi mereka sebagai orang yang telah membesarkan kita dengan susah payah. Hal ini adalah pengakuan bahwa jasa mereka tak terbayarkan, dan ungkapan terima kasih terbesar adalah dengan menjaga kehormatan mereka hingga akhir hayat.
Al-Isra ayat 23 berfungsi sebagai cermin refleksi diri. Bagaimana kita memperlakukan orang tua kita saat ini adalah proyeksi bagaimana kita mengharapkan diperlakukan oleh anak-anak kita kelak. Ayat ini menegaskan siklus amal jariyah dalam keluarga. Kebaikan yang dicurahkan pada orang tua adalah investasi spiritual yang besar, karena Allah SWT mengaitkannya langsung dengan perintah ibadah yang paling utama.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat, tantangan untuk selalu sabar dan menggunakan perkataan yang mulia semakin besar. Namun, pemahaman mendalam bahwa keridhaan Allah seringkali tersembunyi dalam keridhaan orang tua menjadikan ayat ini sebagai kompas moral yang tak ternilai harganya. Mentaati perintah ini bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga penegasan atas kemanusiaan dan rasa syukur tertinggi yang harus dimiliki setiap individu. Ayat ini menuntun kita menuju kesempurnaan akhlak, dimulai dari rumah.