Keadilan dan Hubungan Keluarga: Al-Isra Ayat 26

Pengenalan Surat Al-Isra

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Surat ini sarat dengan ajaran moral, peringatan, dan kisah-kisah penting. Salah satu pilar utama ajaran dalam surat ini adalah penekanan kuat pada etika sosial, terutama terkait hubungan dengan kerabat dekat.

Di tengah perintah-perintah besar seperti larangan berbuat syirik, ayat ke-26 surat ini memberikan panduan praktis namun mendalam mengenai tanggung jawab finansial dan sosial kita terhadap keluarga. Ayat ini sering dijadikan landasan utama dalam hukum waris dan kewajiban nafkah dalam Islam.

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 26

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
"Dan berikanlah kepada kerabat haknya, kepada orang yang miskin dan musafir, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."

Ayat ini adalah sebuah perintah eksplisit dari Allah SWT yang mengandung tiga poin krusial mengenai pengelolaan harta dalam konteks sosial dan kekerabatan.

Analisis Mendalam: Hak Kerabat dan Kewajiban Sosial

1. Kewajiban Terhadap Kerabat (Dhā al-Qurbā)

Perintah pertama dan yang paling utama adalah 'wa āti dhā al-qurbā ḥaqqahu' (Berikanlah kepada kerabat haknya). Kata 'hak' di sini memiliki makna yang luas. Ini bukan sekadar sedekah sukarela, melainkan hak yang melekat pada kerabat. Hak ini bisa berupa nafkah jika mereka membutuhkan, bantuan moral, menjaga tali silaturahmi, dan menghormati mereka. Prioritas ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keutuhan dan kekuatan internal unit keluarga dan kekerabatan dalam masyarakat Islam. Islam menempatkan tanggung jawab material pada mereka yang paling dekat secara hubungan darah sebelum beralih ke masyarakat umum.

2. Kepedulian Terhadap Kaum Lemah (Miskin dan Ibnu Sabil)

Setelah memastikan hak kerabat terpenuhi, ayat ini mengarahkan perhatian kepada dua kelompok rentan lainnya: orang miskin (al-miskīn) dan Ibnu Sabil (musafir atau mereka yang kehabisan bekal dalam perjalanan). Penekanan ini mengajarkan bahwa kepedulian sosial harus sistematis. Bagi orang miskin, bantuan ini seringkali bersifat berkelanjutan, sementara bagi musafir, bantuan adalah pertolongan darurat saat mereka terputus dari sumber daya mereka.

3. Larangan Pemborosan (Tabdzīr)

Poin ketiga adalah larangan keras terhadap pemborosan ('walā tubadhdhir tabdhīran'). Ini adalah peringatan penting bahwa meskipun perintah memberi itu wajib, cara pemberian dan pengelolaan harta secara umum harus dilakukan dengan bijaksana. Pemborosan berarti menggunakan harta secara berlebihan, sia-sia, atau dalam hal yang tidak diridhai Allah. Hal ini menunjukkan keseimbangan sempurna: perintah untuk dermawan diimbangi dengan larangan untuk tidak boros. Harta adalah titipan, dan mempertanggungjawabkannya berarti menggunakannya sesuai proporsi dan tujuan yang benar.

Simbolisasi Keseimbangan Ekonomi

Ilustrasi Keseimbangan Timbangan dan Tangan Memberi Hak Bantuan Keseimbangan

Ayat Al-Isra 26 berfungsi sebagai cetak biru manajemen sumber daya. Ia mengajarkan bahwa kekayaan yang dimiliki bukanlah milik pribadi seutuhnya, melainkan amanah yang harus didistribusikan sesuai prioritas syariat. Prioritas yang ditetapkan oleh ayat ini memastikan bahwa jaringan sosial dan dukungan keluarga tidak terputus oleh kemakmuran individu.

Relevansi Kontemporer

Di era modern, di mana individualisme sering mendominasi, pengingat akan kewajiban terhadap kerabat dan masyarakat menjadi sangat relevan. Ketika seseorang mencapai kesuksesan finansial, godaan untuk menghambur-hamburkan kekayaan atau mengabaikan tanggungan keluarga yang kesulitan (yang mungkin tidak seberuntung dirinya) menjadi sangat besar. Ayat ini menuntut pertanggungjawaban moral dan spiritual atas setiap rupiah yang dimiliki, memastikan bahwa kemudahan yang diperoleh digunakan untuk memperkuat ikatan sosial, bukan merusaknya.

Memahami dan mengamalkan Al-Isra ayat 26 berarti kita turut serta dalam membangun fondasi masyarakat yang kokoh, di mana yang kuat menopang yang lemah, dimulai dari lingkaran terdekat kita sendiri.

🏠 Homepage