Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Al-Isra wal Mi'raj, adalah salah satu surat di Juz 15 Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran penting mengenai akidah, etika, dan konsekuensi dari perbuatan manusia. Salah satu ayat yang sangat menekankan pentingnya ilmu pengetahuan dan kehati-hatian dalam bertindak adalah ayat ke-36.
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini adalah larangan tegas dari Allah SWT kepada manusia untuk berbuat, berbicara, atau meyakini sesuatu tanpa didasari oleh ilmu atau pengetahuan yang sahih. Kata "la taqfu" (وَلَا تَقْفُ) secara harfiah berarti "jangan kamu mengikuti jejak" atau "jangan kamu mengikuti sesuatu." Ini mengisyaratkan bahwa manusia dilarang keras untuk berjalan di atas jalan yang tidak jelas sumbernya, apalagi jika jalan tersebut berdasarkan prasangka, dugaan semata, atau sekadar ikut-ikutan.
Dalam konteks tafsir, ayat ini menekankan pondasi utama dalam Islam, yaitu ilmu. Seseorang tidak boleh bersaksi palsu, menghakimi orang lain, menyebarkan berita yang belum terverifikasi, atau meyakini suatu doktrin keagamaan tanpa landasan yang kuat. Mengikuti sesuatu tanpa ilmu sama saja dengan menempuh kegelapan tanpa petunjuk.
Tafsir Ibnu Katsir menyoroti bahwa larangan ini mencakup segala aspek kehidupan. Dalam hal akidah, seseorang tidak boleh menerima keyakinan baru tanpa dalil yang jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah. Dalam ranah sosial, seseorang tidak boleh menuduh atau berprasangka buruk terhadap orang lain tanpa bukti yang memadai. Islam sangat menghargai kejujuran berpikir dan pertanggungjawaban lisan.
Bagian kedua ayat ini memberikan penekanan yang luar biasa: "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya." Allah SWT secara spesifik menyebutkan tiga komponen utama dalam proses menerima dan mengolah informasi:
Ketiga organ ini—yang merupakan alat utama kita untuk berinteraksi dan memahami realitas—bukanlah aset yang bisa digunakan sembarangan. Pada Hari Kiamat, setiap indra dan kemampuan berpikir kita akan ditanyai oleh Allah SWT mengenai bagaimana kita memanfaatkannya selama di dunia. Ini menegaskan bahwa kebebasan bertindak harus diimbangi dengan kesadaran penuh akan pertanggungjawaban.
Bayangkan seorang individu yang selalu menyebarkan informasi tanpa verifikasi, hanya karena ia mendengar desas-desus. Ia telah menyalahgunakan pendengarannya. Atau seseorang yang selalu berprasangka buruk dan mencari-cari keburukan orang lain, ia telah menyalahgunakan penglihatannya. Keduanya akan dimintai pertanggungjawaban atas penggunaan alat-alat tersebut.
Tafsir kontemporer sering menghubungkan ayat ini dengan tantangan informasi di era modern. Ketika hoaks, disinformasi, dan ujaran kebencian mudah menyebar melalui media sosial, ayat Al-Isra 36 menjadi peringatan yang sangat relevan. Setiap klik, setiap unggahan, setiap komentar yang didasarkan pada "apa yang tidak ada ilmu" adalah potensi pertanggungjawaban di hadapan Yang Maha Kuasa.
Oleh karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk selalu bersikap tasabbut (tabayyun) atau melakukan verifikasi sebelum berbicara atau bertindak. Sikap ini adalah manifestasi nyata dari ketaatan terhadap perintah Allah untuk tidak menempuh jalan yang tidak berlandaskan ilmu.
Menerapkan ayat ini berarti:
Pada intinya, Al-Isra ayat 36 mengajarkan prinsip kehati-hatian epistemologis. Sebelum kita bertindak, kita wajib bertanya: "Apakah aku punya ilmu tentang ini?" Jika jawabannya tidak, maka jalan terbaik adalah diam dan mencari kebenaran.