Ilustrasi Keseimbangan dan Batasan
Ayat ke-37 dari Surah Al-Isra (Bani Israil) ini mengandung sebuah perintah moral dan etika yang sangat mendasar dalam Islam. Allah SWT melarang manusia untuk berjalan di muka bumi dengan kesombongan (khuyala’). Larangan ini diletakkan setelah serangkaian ayat yang membahas berbagai perintah ilahi, termasuk larangan membunuh anak karena kemiskinan dan larangan mendekati zina. Penempatan ayat ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah salah satu penyakit hati yang destruktif dan seringkali menjadi akar dari banyak kemaksiatan lainnya.
Secara harfiah, ayat ini memberikan dua perbandingan yang kuat untuk menekan sifat angkuh. Pertama, manusia dilarang berjalan dengan sombong karena mereka "tidak akan dapat menembus bumi." Ini adalah metafora yang mengingatkan kita akan keterbatasan fisik kita. Sehebat apa pun kekuasaan atau harta yang dimiliki seseorang, ia tetaplah makhluk rapuh yang terikat pada gravitasi dan materialitas bumi. Tidak ada manusia yang bisa menembus lapisan bumi seolah-olah ia adalah entitas yang lebih besar atau lebih kuat dari planet tempat ia berpijak.
Kesombongan adalah perasaan superioritas yang tidak pada tempatnya. Ia lahir dari pandangan yang keliru terhadap posisi sejati manusia di alam semesta. Ketika seseorang merasa dirinya lebih tinggi, lebih pintar, atau lebih berhak daripada orang lain, ia telah melupakan fakta bahwa sumber segala nikmat dan kemampuan berasal dari Allah SWT. Kesombongan seringkali muncul ketika seseorang lupa bahwa ia diciptakan dari setetes mani yang hina, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat lain Al-Qur'an.
Perbandingan kedua dalam ayat ini adalah bahwa manusia tidak akan "mencapai ketinggian gunung." Gunung melambangkan kekuatan alam yang kokoh dan tinggi. Meskipun manusia mampu membangun gedung pencakar langit, ia tetap tidak bisa melampaui ketinggian gunung yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Hal ini menekankan bahwa sifat merendah adalah sikap yang selaras dengan fitrah keberadaan manusia. Dalam konteks modern, kesombongan bisa termanifestasi melalui arogansi dalam kekayaan, jabatan, atau ilmu pengetahuan. Seseorang mungkin merasa bahwa pencapaiannya adalah murni hasil jerih payahnya semata, tanpa mengakui peran takdir dan karunia ilahi.
Dalam ajaran Islam, kesombongan adalah sifat yang paling dibenci Allah dan merupakan ciri khas Iblis (Setan). Ketika Allah memerintahkan Iblis untuk bersujud kepada Adam, Iblis menolak karena kesombongan—ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Penolakan ini menyebabkan ia terusir dari rahmat Allah. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya sifat tersebut; ia dapat memutus hubungan seseorang dengan Tuhannya.
Selain berdampak pada hubungan vertikal (dengan Allah), kesombongan juga merusak hubungan horizontal (dengan sesama manusia). Orang yang sombong cenderung meremehkan orang lain, sulit menerima nasihat, dan kaku dalam bergaul. Ayat Al-Isra 37 secara implisit mengajarkan bahwa sikap yang benar di bumi adalah tawadhu' (kerendahan hati), yang tercermin dalam berjalan dengan tenang dan tanpa kegaduhan yang tidak perlu. Tawadhu' memungkinkan seseorang untuk terus belajar, mengakui kesalahan, dan menghargai keberagaman ciptaan.
Bagaimana kita bisa memastikan langkah kita di bumi ini bukan langkah kesombongan? Jawabannya terletak pada refleksi diri yang berkelanjutan. Mengingat asal usul penciptaan dan batasan fisik serta intelektual kita adalah penangkal utama kesombongan. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan harga diri atau menjadi lemah, melainkan sebuah kesadaran jujur akan posisi kita sebagai hamba di hadapan Keagungan Allah. Seorang ilmuwan yang rendah hati akan selalu mencari kebenaran dan mengakui bahwa ilmunya terbatas. Seorang pemimpin yang tawadhu' akan mendengarkan suara rakyatnya.
Ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan dan pencapaian duniawi hanyalah titipan. Ketika kita menyadari bahwa kita tidak bisa menembus bumi atau menyamai tinggi gunung, kita akan otomatis menempatkan diri pada posisi yang seharusnya: sebagai hamba yang bersyukur, berjalan di bumi dengan tenang, dan fokus pada tujuan akhir yang lebih tinggi, yaitu ridha Ilahi, bukan kekaguman duniawi.
Oleh karena itu, Al-Isra ayat 37 adalah pengingat yang abadi. Ia menuntut kita untuk menjaga pandangan kita terhadap diri sendiri dan dunia di sekitar kita. Kesombongan adalah penghalang menuju kebenaran dan kebahagiaan sejati. Dengan menanamkan kerendahan hati dalam setiap langkah, kita menempuh jalan yang diridhai Allah, berjalan di bumi sebagai tamu yang menghormati tuan rumahnya, yaitu alam semesta ciptaan-Nya.