Dalam lembaran-lembaran suci Al-Qur'an, setiap ayat membawa hikmah dan petunjuk yang mendalam bagi umat manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan adalah Surah Al-Isra (atau Al-Isrā' / Bani Isra'il) ayat ke-38. Ayat ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian penegasan prinsip-prinsip dasar akidah Islam yang harus dipegang teguh oleh seorang Muslim.
"(Itulah sebahagian hikmah) yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu (wahai Muhammad) dari hikmat-hikmat (sebelumnya). Dan janganlah engkau jadikan bersama Allah tuhan yang lain, (yang disembah, kerana) yang demikian itu akan menyebabkan engkau dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela dan diusir." (QS. Al-Isra: 38)
Inti dari ayat 38 Surah Al-Isra adalah penegasan kembali larangan keras terhadap perbuatan syirik—menyekutukan Allah SWT dengan apapun jua. Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya dalam surah ini yang membahas berbagai prinsip moral dan sosial, penempatan larangan syirik di posisi krusial ini menunjukkan prioritas tertinggi dalam ajaran Islam. Tauhid (keesaan Allah) adalah fondasi di mana seluruh bangunan amal dan ibadah ditegakkan.
Ayat ini menegaskan bahwa meskipun Islam menganjurkan kebaikan dalam muamalah, etika, dan interaksi sosial—seperti berbuat baik kepada orang tua, menjaga amanah, dan berlaku adil—semua amal baik tersebut akan gugur nilainya jika seseorang masih terjerumus dalam kesalahan terbesar, yaitu syirik. Allah SWT memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai konsekuensi perbuatan ini.
Ancaman yang disebutkan dalam ayat ini sangatlah serius: dicampakkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela (madhmūman) dan diusir (madḥūran). Kata 'tercela' menyiratkan kehinaan dan penyesalan yang mendalam, sementara 'diusir' mengindikasikan keterputusan total dari rahmat dan keridhaan Ilahi. Ini adalah konsekuensi final yang harus dihindari oleh setiap mukmin.
Peringatan ini berfungsi sebagai pengingat bahwa iman yang sejati menuntut eksklusivitas total dalam ibadah dan pengabdian hanya kepada Sang Pencipta. Konsekuensi yang disebaliknya (Jahannam) bukanlah sekadar hukuman fisik, tetapi juga kehinaan spiritual yang abadi, menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang pelanggaran terhadap hak-Nya yang paling mendasar ini.
Frasa pembuka ayat, "Itulah sebahagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu (wahai Muhammad) dari hikmat-hikmat (sebelumnya)," menghubungkan pesan tauhid ini dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh para nabi terdahulu. Ini menunjukkan universalitas dakwah tauhid. Para nabi seperti Ibrahim, Musa, dan Isa AS juga mengajarkan prinsip yang sama: hanya Allah yang berhak disembah.
Oleh karena itu, ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu ini, ia bukan membawa ajaran yang sepenuhnya baru dalam hal prinsip ketuhanan, melainkan penegasan dan penyempurnaan dari risalah terdahulu. Ini memberikan landasan historis dan teologis bahwa penolakan terhadap syirik adalah inti dari semua ajaran kenabian yang benar.
Di era modern, perwujudan syirik mungkin tidak selalu dalam bentuk penyembahan berhala secara terang-terangan. Syirik bisa termanifestasi dalam bentuk yang lebih halus, seperti:
Memahami ayat ini secara mendalam adalah sebuah panggilan untuk membersihkan hati dan amal perbuatan. Ia menjadi barometer keabsahan setiap tindakan kebaikan yang kita lakukan. Tanpa pondasi tauhid yang kokoh, semua upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT berisiko menjadi sia-sia di hadapan-Nya.
Visualisasi representatif tentang penekanan Tauhid versus konsekuensi syirik.