Ayat-ayat Al-Qur'an mengandung petunjuk hidup yang komprehensif bagi umat manusia. Salah satu ayat yang memiliki penekanan mendasar dalam doktrin Islam adalah Al-Isra ayat 39. Ayat ini secara eksplisit membatasi klaim kesetaraan dalam peribadatan dan penentuan otoritas spiritual. Ayat tersebut berbunyi, sebagaimana tafsirnya: "Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhan kepadamu (Muhammad) dari hikmah (yang terdapat dalam kitab-kitab terdahulu). Dan janganlah kamu menjadikan tuhan yang lain beserta Allah, nanti kamu dilemparkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela dan diusir."
Inti dari Al-Isra ayat 39 adalah penegasan kembali prinsip Tauhid (Keesaan Allah). Dalam konteks historis turunnya ayat ini, terdapat upaya-upaya di kalangan masyarakat Makkah untuk menyamakan status berhala atau tuhan-tuhan selain Allah dengan Dzat yang Maha Pencipta. Islam, melalui ayat ini, menutup rapat-rapat pintu menuju segala bentuk politeisme atau syirik.
Penting untuk dipahami bahwa penolakan terhadap penyekutuan ini bukan sekadar dogma ritualistik, tetapi landasan etika dan moral. Ayat ini memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari tindakan syirik, yaitu dilemparkan ke dalam Jahannam dalam keadaan tercela dan terusir. Konsekuensi ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang masalah penyekutuan.
Hikmah yang disebutkan dalam ayat ini ('Itulah sebagian hikmah...') mengisyaratkan bahwa penegasan Tauhid adalah inti ajaran yang dibawa oleh para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Isa, dan puncaknya pada ajaran Nabi Muhammad SAW. Ini menegaskan kontinuitas pesan kenabian yang selalu berpusat pada satu Tuhan yang layak disembah.
Dalam kehidupan kontemporer, pelajaran dari Al-Isra ayat 39 tetap relevan. Syirik tidak hanya berbentuk penyembahan berhala fisik. Di zaman modern, bentuk syirik bisa menjelma menjadi bentuk ketergantungan total atau kecintaan berlebihan kepada materi, jabatan, hawa nafsu, atau bahkan ideologi manusia yang diagungkan melebihi hukum dan kehendak Allah. Ketika hati manusia mulai menempatkan otoritas tertinggi selain Allah dalam pengambilan keputusan hidup, maka secara spiritual, ia telah menyimpang dari inti pesan ayat ini.
Penghargaan terhadap ajaran ini memerlukan introspeksi diri yang berkelanjutan. Bagaimana kita memastikan bahwa segala tindakan, harapan, dan ketakutan kita hanya ditujukan kepada Allah SWT? Ketika kita berhasil memurnikan ibadah kita dan menempatkan ketaatan tertinggi hanya kepada-Nya, kita sedang mengamalkan esensi dari ayat ini. Mengingat janji Allah akan ancaman dan konsekuensi di akhirat seharusnya menjadi motivasi kuat untuk selalu menjaga kemurnian akidah.
Oleh karena itu, mempelajari dan merenungkan Al-Isra ayat 39 menjadi pengingat abadi bahwa fondasi keberagamaan yang kokoh adalah Tauhid yang murni, bebas dari segala bentuk penyelewengan dan penyekutuan, baik yang tampak jelas maupun yang terselubung dalam rutinitas kehidupan sehari-hari. Hanya dengan memegang teguh prinsip ini, seorang Muslim dapat mengharapkan ridha dan keselamatan dari Allah SWT.
Keseluruhan ayat ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat, hanya dapat dicapai melalui penyerahan diri total kepada satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta. Semua hikmah kenabian mengalir dari sumber yang sama, yaitu seruan untuk mengesakan Allah.