Ilustrasi simbolis tentang kebangkitan dan kehidupan baru.
Lihatlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang dirimu, lalu mereka tersesat sehingga mereka tidak dapat menemukan jalan (untuk kembali kepada kebenaran).
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal Mi'raj, mengandung banyak ayat yang menjelaskan berbagai aspek iman, moralitas, dan sejarah umat terdahulu. Ayat 48 secara spesifik menyoroti respons kaum musyrikin Mekkah terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW. Ketika dihadapkan pada bukti-bukti keesaan Allah SWT dan kebenaran wahyu Al-Qur'an, mereka memilih untuk menolak dengan cara yang paling absurd: membuat perumpamaan atau analogi yang menyesatkan.
Penolakan ini bukanlah penolakan berdasarkan argumen logis yang kuat, melainkan penolakan yang didorong oleh kesombongan dan keterikatan pada tradisi nenek moyang. Mereka melihat Al-Qur'an sebagai sesuatu yang mustahil datang dari seorang manusia biasa (Muhammad SAW) dan mencoba mereduksi keagungan wahyu tersebut dengan perumpamaan-perumpamaan yang tidak masuk akal.
Inti dari ayat ini terletak pada frasa "...lalu mereka tersesat sehingga mereka tidak dapat menemukan jalan (untuk kembali kepada kebenaran)." Kata "tersesat" (dalam bahasa Arab: ḍallū) menunjukkan hilangnya orientasi fundamental. Ketika seseorang menolak kebenaran yang jernih, mereka terpaksa menciptakan konstruksi realitas alternatif—yaitu perumpamaan-perumpamaan—untuk membenarkan penolakan mereka.
Perumpamaan ini sering kali berupa tuduhan bahwa Al-Qur'an adalah sihir, dongeng orang dahulu, atau karangan semata. Ironisnya, ketika mereka menciptakan perumpamaan-perumpamaan tersebut untuk membantah kebenaran, mereka justru semakin jauh dari jalan yang lurus. Mereka telah masuk ke dalam labirin logika mereka sendiri, di mana setiap "jalan keluar" yang mereka ciptakan hanya membawa mereka lebih dalam ke dalam kesesatan. Mereka kehilangan kompas spiritual dan intelektual mereka.
Meskipun ayat ini berbicara tentang konteks historis di Mekkah, pelajarannya tetap relevan hingga hari ini. Fenomena membuat perumpamaan yang menyesatkan untuk menolak kebenaran—atau kebenaran ilmiah, moral, dan agama—terus terjadi.
Di era informasi, kita melihat banyak narasi tandingan yang diciptakan bukan berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan interpretasi parsial, bias kepentingan, atau ketakutan terhadap perubahan paradigma. Ketika pondasi iman atau pemahaman rasional goyah, manusia cenderung membangun "istana perumpamaan" untuk melindungi ego dan status quo mereka. Kesesatan yang dimaksud Al-Isra 48 adalah hilangnya kemampuan untuk melihat realitas sebagaimana adanya, terdistorsi oleh narasi palsu yang mereka sebarkan sendiri.
Ayat ini memberikan peringatan penting bagi umat Islam. Pertama, ia mengingatkan kita bahwa logika yang digunakan untuk menolak kebenaran wahyu akan selalu mengarah pada kebingungan dan kesesatan, karena logika tersebut dibangun di atas premis yang salah. Kedua, ia mengajarkan bahwa kejujuran intelektual dan kerendahan hati dalam menerima petunjuk Ilahi adalah kunci untuk tetap berada di jalan yang benar.
Ketika menghadapi argumen tandingan, respons yang benar bukanlah terpancing dalam permainan perumpamaan yang menyesatkan, melainkan kembali kepada sumber kebenaran yang jelas, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah. Kaum musyrikin terperangkap dalam kebingungan mereka sendiri, sementara mereka yang mau mendengarkan petunjuk Allah diberikan jalan keluar yang terang. Ayat ini menegaskan bahwa kesesatan adalah hasil pilihan sadar untuk menolak cahaya dan memilih kegelapan interpretasi yang dibuat-buat. Menggali makna ayat ini membantu kita mempertahankan kejernihan berpikir di tengah arus informasi yang sering kali penuh dengan analogi yang merusak kebenaran hakiki.
Artikel ini mengulas kedalaman makna dari Al-Isra ayat 48.