Memahami Al-Isra Ayat 5: Perjalanan Malam Nabi

Ilustrasi Perjalanan Malam (Isra dan Mi'raj) Sebuah ilustrasi minimalis yang menunjukkan perjalanan malam, dengan bulan sabit dan jalur cahaya yang melengkung melintasi langit berbintang.

Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah salah satu surah dalam Al-Qur'an yang sarat akan mukjizat dan pelajaran penting. Di antara ayat-ayat yang termuat di dalamnya, Ayat kelima (Al-Isra ayat 5) memiliki posisi istimewa karena secara eksplisit menyebutkan salah satu peristiwa paling menakjubkan dalam sejarah kenabian: perjalanan malam (Isra) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Meskipun ayat kelima ini secara harfiah berbicara tentang Al-Qur'an sebagai penyembuh dan rahmat, konteks Surah Al-Isra secara keseluruhan, terutama ayat-ayat setelahnya, membawa kita pada narasi perjalanan agung tersebut. Ayat kelima berfungsi sebagai fondasi teologis bahwa apa yang akan diceritakan setelahnya (termasuk mukjizat) adalah kebenaran yang berasal dari wahyu ilahi.

Konteks Mukjizat Isra

Ayat-ayat berikutnya dalam Surah Al-Isra (khususnya ayat 1) mengonfirmasi peristiwa Isra—perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Peristiwa ini terjadi pada malam hari, sebuah perjalanan yang secara akal manusia biasa membutuhkan waktu berminggu-minggu, namun diselesaikan Nabi dalam satu malam. Perjalanan ini membuktikan keagungan Allah SWT dan kebenaran risalah Nabi Muhammad ﷺ.

Perjalanan Isra ini bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual mendalam. Setibanya di Al-Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ melanjutkan perjalanan yang dikenal sebagai Mi'raj, yaitu kenaikan ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha, tempat beliau menerima langsung perintah shalat lima waktu—fondasi utama ibadah umat Islam.

Fungsi Ayat 5 dalam Rangkaian Kisah

Mengapa Al-Isra ayat 5, yang fokus pada sifat Al-Qur'an, diletakkan sebelum kisah Isra dan Mi'raj? Para mufassir menjelaskan bahwa peletakan ayat ini memiliki tujuan penting. Sebelum menceritakan peristiwa luar biasa yang mungkin sulit dipercaya oleh orang-orang yang meragukan kenabian beliau, Allah menegaskan bahwa sumber dari semua cerita, wahyu, dan bahkan mukjizat yang akan datang adalah Al-Qur'an itu sendiri.

Al-Qur'an adalah penawar (syifa') bagi penyakit keraguan dan kegelapan hati. Bagi orang beriman, ayat-ayat ini adalah rahmat yang menuntun menuju petunjuk. Sebaliknya, bagi mereka yang zalim (penindas atau pendusta), kebenaran yang dibawa Al-Qur'an justru menambah kerugian karena mereka menolaknya, sehingga mereka semakin jauh dari hidayah.

Pelajaran dari Konteks Spiritual

Peristiwa Isra dan Mi'raj mengajarkan umat Islam bahwa keterbatasan fisik manusia tidak berlaku bagi hamba pilihan Allah yang diangkat derajatnya. Ini menguatkan keyakinan bahwa Islam tidak hanya berbasis pada ajaran rasional, tetapi juga pada pengalaman spiritual yang didukung oleh kekuatan Ilahi.

Ayat 5 mengingatkan kita bahwa meskipun mukjizat fisik seperti Isra itu nyata, mukjizat terbesar dan abadi yang harus kita pegang teguh adalah Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah penyembuh batiniah yang relevan di setiap zaman. Ia memberikan solusi spiritual atas kegelisahan duniawi, sebagaimana perjalanan malam Nabi memberikan penguatan spiritual di tengah tekanan dakwah di Mekah.

Memahami Al-Isra ayat 5 dalam konteks satu surah memberikan kita pemahaman bahwa setiap kata dalam Al-Qur'an diletakkan dengan hikmah sempurna. Ayat ini adalah penegasan bahwa kebenaran mukjizat yang diceritakan setelahnya bersumber dari Kitab Agung yang menjanjikan penyembuhan dan rahmat bagi hati yang terbuka.

🏠 Homepage