Memahami Kehormatan Manusia: Al-Isra Ayat 70

Teks Ayat dan Terjemahannya

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
"Dan sungguh, telah Kami muliakan Bani Adam, Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra: 70)

Ayat ke-70 dari Surah Al-Isra' (juga dikenal sebagai Surah Bani Israil) merupakan salah satu ayat fundamental dalam Al-Qur'an yang menegaskan tentang kedudukan mulia manusia (Bani Adam). Ayat ini bukan sekadar deklarasi, melainkan fondasi teologis mengenai penghormatan universal yang diberikan Allah SWT kepada seluruh keturunan Nabi Adam AS.

Ayat ini turun sebagai respons terhadap perilaku sebagian orang yang merendahkan martabat manusia, terutama dalam konteks perjalanan Nabi Muhammad SAW, atau dalam konteks bagaimana manusia seharusnya memandang dirinya sendiri di hadapan ciptaan Allah lainnya. Ayat ini memuat empat pilar utama kemuliaan manusia.

Ilustrasi Kemuliaan Manusia di Darat dan Laut SVG yang menggambarkan manusia berdiri tegak di tengah alam semesta, dengan simbol kapal di laut dan tumbuhan di darat, melambangkan penguasaan dan kehormatan.

Empat Pilar Kemuliaan Bani Adam

1. Takrim (Penghormatan Hakiki)

Frasa "Wa laqad karramna Bani Adam" menegaskan bahwa penghormatan (karamah) adalah anugerah inheren yang diberikan kepada seluruh umat manusia, tanpa memandang suku, ras, atau status sosial. Penghormatan ini terwujud dalam pemberian akal, kebebasan memilih (ikhtiar), dan kemampuan untuk beribadah. Ini adalah kehormatan metafisik yang membedakan manusia dari makhluk lainnya.

2. Penguasaan atas Darat dan Laut

Ayat ini menyebutkan, "Kami angkut mereka di darat dan di laut." Ini merujuk pada kemampuan manusia untuk beradaptasi dan menundukkan alam. Pengetahuan tentang navigasi, pembuatan kendaraan, dan penguasaan atas unsur-unsur alam ini adalah manifestasi dari kehormatan yang diberikan Allah. Manusia diberi akal untuk membangun peradaban di daratan dan mengarungi lautan.

3. Rezeki yang Tayyib (Baik)

"Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik (thayyibat)." Thayyibat mencakup makanan yang bersih, halal, bermanfaat, dan nikmat. Selain makanan fisik, ini juga mencakup rezeki spiritual dan intelektual yang baik. Allah menyediakan sumber daya yang memungkinkan manusia untuk hidup dengan layak dan menikmati kesempurnaan hidup.

3. Keutamaan Atas Kebanyakan Makhluk

Puncak penegasan adalah "Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." Keunggulan ini terutama terletak pada kemampuan berpikir, berbicara, memahami wahyu, dan memiliki moralitas. Kelebihan ini menempatkan manusia pada posisi khalifah di bumi.

Implikasi Etis dari Al-Isra Ayat 70

Pemahaman mendalam terhadap ayat ini membawa konsekuensi etis yang besar. Pertama, ayat ini menuntut **sikap menghargai sesama manusia**. Karena semua manusia dimuliakan oleh Allah, maka merendahkan, menindas, atau merampas hak orang lain berarti menentang ketetapan mulia Allah tersebut.

Kedua, ayat ini memotivasi manusia untuk **menggunakan akal dan kemampuan yang dianugerahkan secara produktif**. Kehormatan yang diberikan harus diwujudkan dalam kontribusi nyata bagi kemakmuran bumi (imaratul ardh) sambil tetap mengingat batas-batas syariat.

Ketiga, ia mengajarkan **rasa syukur**. Mengakui bahwa fasilitas untuk hidup nyaman di darat dan laut, serta rezeki yang baik, adalah karunia, mendorong manusia untuk bersyukur dan tidak menjadi sombong atau melampaui batas dalam memanfaatkan karunia alam tersebut. Kehormatan ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

🏠 Homepage