Visualisasi Konsep Pertanggungjawaban
Salah satu ayat yang seringkali menggugah kesadaran umat Islam tentang pentingnya akuntabilitas pribadi adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat ke-72. Ayat ini secara tegas menyoroti situasi di hari kiamat ketika setiap individu dimintai pertanggungjawaban atas pilihan mereka selama hidup di dunia.
Allah SWT berfirman, yang maknanya secara umum adalah: "Dan seandainya Kami hendak membinasakan mereka sebelum (datangnya yang dijanjikan itu), niscaya mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, (sehingga) kami dapat mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan direndahkan?'" (QS. Al-Isra: 72).
"Dan seandainya Kami hendak membinasakan mereka sebelum (datangnya yang dijanjikan itu), niscaya mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, (sehingga) kami dapat mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan direndahkan?'" (QS. Al-Isra: 72).
Ayat 72 dari Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' atau Bani Isra'il) sering kali dipahami dalam konteks pembelaan diri yang sia-sia di akhirat. Ayat sebelumnya (Ayat 71) membahas tentang hari ketika setiap umat dipanggil bersama pemimpinnya. Kemudian, ketika tiba pada giliran mereka untuk dihisab, orang-orang kafir atau yang ingkar akan mencoba mencari pembenaran.
Permintaan mereka dalam ayat ini sejatinya adalah bentuk penyesalan yang terlambat. Mereka berargumen bahwa jika saja Allah memberikan peringatan lebih awal melalui seorang rasul—seperti yang telah diberikan kepada umat-umat terdahulu—maka mereka pasti akan beriman dan mengikuti petunjuk tersebut. Mereka berdalih bahwa kemalangan yang menimpa mereka (yaitu azab di akhirat) adalah akibat dari ketiadaan pemberi peringatan.
Namun, inti dari ayat ini adalah penegasan bahwa Allah Maha Adil. Klaim mereka bahwa tidak ada rasul yang diutus adalah klaim yang keliru. Sejarah kenabian membuktikan bahwa setiap umat pasti telah didatangi oleh seorang pemberi peringatan. Meskipun ayat ini mengutip perkataan mereka (sebagai bentuk hipotesis penyesalan), pesan utamanya adalah bahwa dalih tersebut tidak akan diterima.
Setiap manusia dibekali dengan fitrah (kecenderungan alami untuk mengenal kebaikan dan kebenaran) dan telah diutusnya para rasul sebagai hujjah (bukti) yang jelas. Rasul adalah pembawa risalah yang menjelaskan batasan antara yang hak dan yang batil, antara jalan keselamatan dan jalan kebinasaan.
Bagi seorang Muslim saat ini, Al Isra 72 berfungsi sebagai pengingat kritis. Kita hidup di era di mana informasi—termasuk informasi mengenai ajaran Islam—begitu mudah diakses. Jika umat terdahulu berargumen bahwa mereka tidak menerima risalah, kita justru dibanjiri oleh risalah tersebut melalui Al-Qur'an, hadis, dan para ulama.
Oleh karena itu, ayat ini menuntut introspeksi mendalam. Ketika kita dihadapkan pada pilihan hidup sehari-hari—apakah akan memilih jalan yang diridai Allah ataukah jalan yang mengarah pada kerugian—kita harus sadar bahwa keputusan tersebut adalah pilihan sadar. Kita tidak bisa beralasan bahwa kita tidak tahu, sebab ilmu tentang petunjuk Ilahi telah tersedia luas.
Ayat ini menekankan prinsip dasar dalam ajaran Islam: tanggung jawab individu (personal accountability). Ketika hari penghakiman tiba, setiap orang akan berdiri sendiri untuk menjawab perbuatannya. Tidak ada lagi kesempatan untuk mencari kambing hitam atau menyalahkan pihak lain, termasuk ketiadaan utusan Allah, karena utusan tersebut telah datang, dan ajaran-Nya telah disampaikan.
Kehinaan dan kerendahan yang mereka sebutkan dalam ayat tersebut merujuk pada azab dan kehinaan di hadapan Allah SWT akibat penolakan terhadap kebenaran saat petunjuk itu hadir. Oleh karena itu, momentum hidup di dunia ini harus digunakan semaksimal mungkin untuk menaati perintah-Nya, karena waktu pertobatan dan pembelaan yang efektif hanyalah ketika kita masih memiliki kesempatan di bumi. Al Isra 72 menegaskan bahwa kesempatan itu bersifat terbatas dan sekali terlewati, penyesalan tidak lagi berguna.