Ilustrasi siklus waktu yang terkait dengan kewajiban shalat harian.
Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil) adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang mengupas berbagai aspek ajaran Islam, termasuk kisah perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Bagian ayat 78 hingga 82 secara spesifik menyoroti inti dari ibadah ritual tertinggi dalam Islam: shalat fardhu.
Ayat 78 menjadi landasan utama yang menetapkan waktu pelaksanaan shalat lima waktu. Allah SWT berfirman:
Ayat ini memberikan garis besar jadwal harian seorang Muslim. "Tergelincirnya matahari" merujuk pada saat Dzuhur, ketika matahari mulai condong ke barat. "Gelap malam" mencakup rentang waktu Dzuhur hingga Maghrib dan Isya. Penekanan khusus pada shalat Subuh menunjukkan urgensi dan keutamaan ibadah di awal hari tersebut, di mana malaikat siang dan malam berkumpul untuk bersaksi atas pelaksanaannya.
Keistimewaan yang diberikan kepada shalat Subuh—bahwa ia disaksikan—adalah sebuah penegasan bahwa komitmen untuk bangun di saat kebanyakan manusia masih terlelap adalah tindakan yang sangat bernilai di sisi Allah. Ini bukan hanya tentang ritual fisik, tetapi juga tentang perjuangan melawan hawa nafsu dan godaan untuk bermalas-malasan.
Ayat selanjutnya melanjutkan penetapan waktu, khususnya yang berkaitan dengan waktu peralihan malam dan pagi.
Ayat 79 memperkenalkan konsep shalat malam atau Tahajud. Setelah menunaikan kewajiban lima waktu, Tahajud adalah 'tambahan' (nafilah) yang memiliki potensi luar biasa untuk meningkatkan derajat seorang hamba di sisi Allah. "Tempat yang terpuji" (Maqam Mahmud) yang dijanjikan ini sering diartikan sebagai syafaat universal Nabi Muhammad SAW, namun juga dapat berarti kedudukan mulia lainnya yang diberikan kepada hamba yang taat melalui shalat malam mereka.
Setelah menetapkan waktu, Allah SWT memberikan perintah tegas mengenai pelaksanaan shalat secara keseluruhan dalam ayat 80 hingga 82. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai penutup dari serangkaian instruksi ibadah ritual:
Doa ini sering dihubungkan dengan keadaan Nabi saat memasuki dan meninggalkan rumah atau ketika menghadapi kesulitan. Dalam konteks shalat, ini dapat diartikan sebagai permohonan agar ibadah yang dilakukan diterima (masuk yang benar) dan dampaknya membawa hasil yang baik dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi (keluar yang benar).
Ayat 81 dan 82 menegaskan otoritas wahyu yang dibawa oleh Rasulullah SAW:
Kebenaran (Al-Haqq) yang dibawa Islam akan selalu menang atas kebatilan. Lebih jauh lagi, Al-Qur'an – yang menjadi sumber hukum dan pedoman utama, termasuk dalam melaksanakan shalat – berfungsi ganda: sebagai penyembuh (syifa') bagi kegelisahan jiwa dan sebagai rahmat bagi mereka yang mau tunduk. Namun, bagi mereka yang menolak dan zalim, ayat-ayat ini justru mempertegas kesesatan mereka, sehingga menambah kerugian spiritual mereka.
Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 78-82 adalah panduan komprehensif yang mengatur disiplin waktu shalat harian, memotivasi ibadah tambahan (Tahajud), dan mengakhiri dengan penegasan mutlak bahwa Al-Qur'an adalah kebenaran yang membawa keselamatan bagi yang mengikutinya.