Visualisasi perjalanan yang membutuhkan keteguhan hati.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang menceritakan sebagian perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW. Di tengah narasi agung tersebut, ayat 80 dan 81 menyajikan pesan yang sangat praktis dan relevan bagi setiap mukmin mengenai bagaimana menjalani kehidupan, khususnya saat menghadapi masa-masa sulit atau menentukan arah.
Ayat 80 dan 81 ini seringkali menjadi pedoman bagi umat Islam dalam mengambil keputusan strategis, baik dalam skala pribadi maupun kolektif. Ayat ini bukan hanya sekadar perintah, tetapi juga janji yang menguatkan, menekankan pentingnya kesiapan spiritual dan mental sebelum melangkah menuju tujuan yang mulia.
Kedua ayat ini memiliki keterkaitan yang erat. Ayat 80 adalah doa permohonan perlindungan dan panduan, sementara ayat 81 adalah pernyataan keyakinan yang menjadi landasan bagi doa tersebut.
Doa dalam ayat 80 sangat komprehensif. Permintaan "masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar" mengandung makna luas. Dalam konteks Rasulullah SAW, ini bisa merujuk pada saat beliau akan berhijrah dari Mekkah ke Madinah—sebuah jalan yang penuh risiko. Namun, dalam konteks kehidupan sehari-hari, ini mengajarkan kita untuk memohon agar setiap langkah awal kita (memulai usaha, memasuki situasi baru, atau membuat keputusan) dilandasi oleh kebenaran (Al-Haqq).
Sementara itu, "keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar" menekankan pentingnya hasil akhir yang baik. Bukan hanya proses yang benar, tetapi hasil akhir dari setiap perjuangan haruslah membawa keberkahan dan keridhaan Allah. Ini mengajarkan manajemen risiko spiritual: memastikan bahwa jalan keluar dari permasalahan atau penyelesaian dari sebuah proyek juga berada dalam koridor kebenaran.
Puncak dari doa ini adalah permohonan "pertolongan yang benar dari sisi-Mu." Pertolongan di sini tidak sekadar bantuan fisik, tetapi dukungan spiritual dan keberkahan yang datang langsung dari Allah SWT. Ini mengingatkan bahwa tanpa pertolongan Ilahi, upaya manusia, sekuat apapun, akan mudah goyah.
Ayat 81 memberikan landasan filosofis dan teologis bagi doa di ayat sebelumnya. Ayat ini berfungsi sebagai deklarasi iman bahwa Islam, yang dibawa oleh Al-Qur'an, adalah kebenaran hakiki. Pernyataan "Yang hak telah datang" adalah pengumuman kemenangan prinsip kebenaran.
Frasa "yang batil telah lenyap" adalah jaminan bahwa segala bentuk kesesatan, kezaliman, dan kepalsuan, meskipun mungkin tampak dominan sementara, pada akhirnya akan sirna. Ayat ini memberikan optimisme bagi kaum beriman. Ketika kita melakukan kebaikan berdasarkan kebenaran (seperti yang kita doakan di ayat 80), kita sedang berpihak pada kekuatan yang pasti menang secara abadi.
Bagi seorang Muslim yang sedang berjuang menghadapi kesulitan atau godaan untuk menyimpang, ayat 81 berfungsi sebagai pengingat bahwa perjuangan melawan kebatilan adalah perjuangan yang sudah ditentukan kemenangannya oleh Allah SWT. Fokus kita harus selalu teguh pada kebenaran, karena kepastian lenyapnya kebatilan adalah janji Allah yang tidak mungkin diingkari.
Al-Isra 80 dan 81 adalah kurikulum praktis untuk pengambilan keputusan. Sebelum memulai bisnis baru, memilih pasangan hidup, atau bahkan mengambil posisi kepemimpinan, seorang mukmin didorong untuk mengaplikasikan doa ini: Ya Allah, mudahkanlah awal dan akhir urusan saya ini di atas kebenaran, dan dukunglah saya dengan pertolongan-Mu.
Keteguhan hati untuk mempertahankan kebenaran (ayat 81) adalah kunci keberanian untuk memohon panduan yang benar (ayat 80). Ketika kita yakin bahwa kebenaran akan menang, kita akan lebih berani memilih jalan yang lurus, meskipun jalan itu terlihat lebih sulit daripada jalan pintas yang mengarah pada kebatilan. Kedua ayat ini, yang berdekatan dalam mushaf, sesungguhnya adalah satu kesatuan tak terpisahkan antara permohonan bimbingan dan deklarasi keyakinan akan hasil akhirnya.