Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil (Putra Israel), merupakan salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur’an yang kaya akan pelajaran penting. Ayat pertama dan kedua surat ini secara khusus menyoroti dua peristiwa monumental dalam sejarah kenabian: perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW di malam hari (Isra’) dan kenaikan beliau ke langit (Mi’raj), serta kondisi spiritual dan material umat manusia yang diangkat oleh Allah SWT. Memahami kedua ayat ini adalah kunci untuk mengapresiasi kedudukan agung Rasulullah dan tanggung jawab umatnya.
Ayat pertama ini adalah pembuka yang memukau. Kata "Subhanallah" (Maha Suci Allah) menunjukkan pengakuan bahwa peristiwa yang akan diceritakan—yaitu perjalanan malam Nabi Muhammad SAW—jauh melampaui kemampuan nalar manusia biasa. Perjalanan ini disebut sebagai "Isra’," yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem.
Pentingnya ayat ini terletak pada penegasan bahwa perjalanan tersebut adalah atas izin dan kuasa Allah. Kata "hamba-Nya" (bi-'abdihi) menekankan kerendahan hati Nabi Muhammad SAW meskipun menerima kemuliaan yang luar biasa. Pemberkahan di sekitar Masjidil Aqsa juga menjadi penanda pentingnya lokasi tersebut dalam sejarah kenabian, sebagai tempat para nabi terdahulu beribadah. Tujuan utama Isra’ Mi’raj adalah untuk menunjukkan sebagian dari kebesaran Allah kepada Nabi, meneguhkan keyakinan beliau di tengah tantangan dakwah.
Ayat kedua secara berturut-turut mengingatkan tentang pemberian wahyu besar sebelumnya, yaitu Taurat kepada Nabi Musa AS, dan menjadikannya petunjuk bagi Bani Israil. Ayat ini berfungsi sebagai tautan sejarah dan teologis. Setelah memuliakan Nabi Muhammad SAW, Allah mengingatkan bahwa metode bimbingan ilahi selalu sama: penurunan kitab suci sebagai pedoman.
Fokus utama dari perintah dalam ayat ini adalah larangan keras untuk menjadikan selain Allah sebagai "wakil" atau pelindung utama. Ini adalah inti tauhid. Bagi Bani Israil, peringatan ini sangat relevan karena sejarah mereka menunjukkan kecenderungan untuk menyimpang dari ajaran tauhid murni. Dengan meletakkan ayat ini tepat setelah kisah Isra’, Allah mempertegas bahwa meskipun Nabi Muhammad SAW menerima keajaiban fisik yang spektakuler, fondasi utama risalah tetaplah kepatuhan total dan penyerahan diri hanya kepada Allah Yang Maha Esa.
Surat Al-Isra ayat 1 dan 2 menyajikan kontras dan kesinambungan yang mendalam. Ayat pertama adalah tentang keniscayaan kuasa ilahi dalam melakukan perjalanan luar biasa untuk menguatkan iman seorang Rasul. Ayat kedua adalah tentang hukum abadi yang diturunkan kepada Rasul sebelumnya, yaitu kewajiban untuk berpegang teguh pada tauhid.
Bagi umat Islam, kedua ayat ini mengajarkan beberapa poin krusial. Pertama, bahwa mukjizat fisik adalah bukti nyata kekuasaan Allah, namun mukjizat itu bertujuan sebagai sarana penguat keimanan (seperti yang dialami Nabi SAW). Kedua, fondasi agama adalah kepatuhan pada wahyu dan penolakan terhadap segala bentuk persekutuan atau ketergantungan selain kepada Allah. Jika Bani Israil gagal dengan Taurat, maka umat Islam diperingatkan untuk tidak mengulangi kesalahan tersebut dengan Al-Qur’an.
Perjalanan Isra’ Mi’raj adalah pengokohan spiritual terbesar bagi Rasulullah, sementara peringatan tentang tauhid dalam ayat kedua adalah pengokohan doktrinal bagi seluruh umat manusia. Kedua ayat ini saling melengkapi, menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mampu melakukan hal-hal yang mustahil secara kasat mata, tetapi juga menetapkan prinsip ilahi yang tidak berubah sepanjang zaman.
Dengan merenungkan ayat-ayat ini, seorang Muslim diingatkan untuk selalu bertasbih atas kebesaran-Nya sambil memastikan bahwa seluruh orientasi hidupnya tertuju hanya kepada Allah, Sang Pencipta, Pendengar, dan Pemelihat segala sesuatu. Keagungan perjalanan Nabi SAW harus diiringi dengan keikhlasan dalam mengikuti petunjuk Ilahi.