Ayat Al-Qur'an seringkali mengandung hikmah mendalam yang relevan lintas zaman. Salah satu ayat yang menarik untuk ditelaah adalah Surah Al-Isra ayat ke-83. Ayat ini memberikan perspektif penting mengenai sifat dasar manusia ketika menerima kenikmatan dan bagaimana kesombongan dapat membawa pada kehancuran.
Ayat ini berbunyi:
Ayat ini secara ringkas namun padat menggambarkan dua kutub ekstrem dalam reaksi alami manusia terhadap kondisi hidupnya: kelimpahan rahmat dan datangnya kesulitan (kejahatan/bala'). Kedua kondisi ini seringkali menghasilkan respons yang jauh dari sikap seimbang dan bersyukur yang seharusnya dimiliki seorang hamba.
Ketika Allah SWT melimpahkan nikmat—baik berupa kekayaan, kesehatan, kekuasaan, atau kemudahan lainnya—kecenderungan umum manusia yang disebutkan dalam ayat ini adalah berpaling dan menjauhkan diri (i'radh). Kata "berpaling" di sini mengindikasikan bahwa fokus manusia beralih dari mengingat pemberi nikmat (Allah) kepada menikmati nikmat itu sendiri seolah-olah hasil usahanya semata.
Sifat ini muncul karena kesombongan dan lupa diri. Rahmat yang seharusnya mendorong peningkatan ketaatan dan rasa syukur, justru menjadi bumerang yang menjauhkan pemiliknya dari nilai-nilai spiritual. Dalam konteks modern, ini bisa terlihat ketika seseorang menjadi kaya raya lalu melupakan ibadah wajibnya, atau ketika seseorang diberi jabatan tinggi lalu berlaku sewenang-wenang.
Kontras dengan kondisi pertama, ketika manusia ditimpa musibah, kesusahan, atau keburukan, responsnya adalah berputus asa (yaitu sirah). Keputusasaan ini menunjukkan kegagalan dalam memahami hakikat ujian. Seorang mukmin sejati seharusnya memahami bahwa kesulitan adalah bagian dari perjalanan hidup dan merupakan sarana untuk menguji kesabaran serta meningkatkan kedekatan dengan Tuhan.
Keputusasaan mencerminkan kurangnya pengharapan (raja') kepada Allah SWT. Hal ini seringkali mendorong manusia melakukan hal-hal yang irasional, mengeluh berlebihan, atau bahkan menyalahkan takdir tanpa mencari jalan keluar yang diridai-Nya. Padahal, dalam kesulitan terdapat peluang besar untuk pengampunan dosa dan kenaikan derajat.
Al-Isra 83 berfungsi sebagai cermin universal. Ia menunjukkan bahwa keimanan sejati tidak hanya teruji saat kita berada di puncak (rahmat), tetapi juga saat kita berada di lembah (kesulitan). Islam mengajarkan konsep syukur di saat lapang dan sabar di saat sempit. Keduanya adalah bentuk ibadah yang saling melengkapi.
Ketika rahmat datang, kita harus bersyukur dengan cara menggunakannya untuk amal kebajikan dan menolong sesama, bukan malah menjadi sombong dan lalai. Ketika musibah datang, kita harus bersabar, mencari pertolongan Allah melalui doa dan usaha, dan tidak boleh putus asa karena rahmat Allah selalu lebih dekat daripada urat leher kita.
Memahami ayat ini membantu kita mengevaluasi respons pribadi kita terhadap pasang surut kehidupan. Apakah kita termasuk golongan yang semakin menjauh saat diberi kemudahan, atau yang semakin terpuruk saat diuji kesulitan? Jalan tengah yang diajarkan Al-Qur'an adalah ketenangan dan konsistensi dalam ketaatan, terlepas dari kondisi eksternal yang melanda.
Oleh karena itu, ayat 83 Surah Al-Isra adalah pengingat kuat akan pentingnya menjaga integritas spiritual dan mental agar tidak mudah terombang-ambing oleh dinamika duniawi.