Memahami Al-Isra Ayat 84: Siapakah yang Paling Tahu?

Ilustrasi Konsep Hidayah dan Perbedaan Jalan Manusia Tujuan ? (Jalan Tak Tentu)
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
"Katakanlah: 'Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap.' Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."

Ayat 84 dari Surah Al-Isra' (Bani Isra'il) dalam Al-Qur'an adalah sebuah pernyataan tegas dan universal mengenai hakikat kebenaran dan kebatilan. Ayat ini, meskipun singkat, membawa bobot teologis dan filosofis yang mendalam. Frasa "Katakanlah (Wahai Muhammad): Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap" (Qul jaa'al haqq, wa zahaqal baatil) berfungsi sebagai deklarasi kemenangan abadi kebenaran atas segala bentuk kemungkaran dan kesesatan.

Konteks Historis dan Makna Kebenaran (Al-Haqq)

Secara kontekstual, ayat ini sering dikaitkan dengan periode awal dakwah Islam. Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam membawa risalah tauhid, ia berhadapan langsung dengan sistem politeisme (syirik) dan adat istiadat jahiliyah yang mengakar kuat. Kebenaran yang dibawa Islam—yaitu keesaan Allah, wahyu, dan tuntunan moral—secara otomatis meniadakan validitas kebatilan yang sebelumnya mendominasi.

Namun, makna ayat ini melampaui konteks sejarah Islam di Mekah. "Al-Haqq" (Kebenaran) adalah nama Allah sendiri, dan juga merujuk kepada ajaran-Nya, syariat-Nya, dan realitas hakiki alam semesta. Setiap kali kebenaran hakiki itu diungkapkan atau diterapkan, maka segala sesuatu yang bertentangan dengannya—yaitu "Al-Baatil" (Kebatilan)—akan kehilangan kekuatannya.

Hakikat Kehancuran Kebatilan (Zahaqal Baatil)

Bagian kedua ayat, "Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap" (Innal baathila kaana zahuuqan), memberikan jaminan ilahiah. Kebatilan, yang didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas hakiki atau hukum Allah, pada dasarnya tidak memiliki substansi yang permanen. Kebatilan itu seperti bayangan atau gelembung yang hanya ada selama tidak ada cahaya kebenaran yang menyentuhnya.

Dalam pandangan Islam, kebatilan mungkin tampak kuat sesaat, menguasai banyak orang, atau bahkan mendominasi sistem sosial. Namun, sifatnya yang rapuh menjamin bahwa ia akan lenyap atau terhapus ketika kebenaran yang sejati muncul dan ditegakkan. Ini memberikan optimisme besar bagi para penganut kebenaran bahwa perjuangan mereka tidak akan sia-sia. Kehancuran kebatilan ini adalah janji yang pasti, bukan sekadar harapan.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Ayat Al-Isra 84 memiliki relevansi abadi. Dalam skala individu, ini berarti kita harus secara sadar memilih jalan yang benar (Al-Haqq) dalam setiap keputusan, baik dalam ibadah, muamalah, maupun etika pribadi. Ketika keraguan (kebatilan kecil) muncul dalam hati, kita diingatkan untuk menegaskan kembali keyakinan kita pada prinsip-prinsip ilahi.

Dalam konteks sosial, ayat ini adalah seruan untuk konsistensi dalam membela keadilan, kejujuran, dan prinsip moral meskipun menghadapi tekanan dari arus yang salah. Meskipun proses penegakan kebenaran mungkin panjang dan penuh tantangan, jaminan bahwa kebatilan pasti akan musnah memberikan motivasi tak terbatas. Tugas kita adalah mengucapkan dan mewujudkan kebenaran tersebut, sementara Allah menjamin hasil akhirnya.

Kesimpulannya, Al-Isra Ayat 84 adalah penegasan bahwa realitas fundamental alam semesta dikuasai oleh kebenaran mutlak. Segala bentuk ketidakbenaran, meskipun menjulang tinggi, hanyalah fenomena sementara yang pasti akan sirna di hadapan kebenaran yang abadi.

🏠 Homepage