Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pembahasan hukum, perjanjian, dan prinsip-prinsip kehidupan bermasyarakat. Di antara ayat-ayatnya yang penting, terdapat Surat Al-Maidah ayat 67, sebuah ayat yang seringkali menjadi titik fokus pembahasan mengenai tanggung jawab kenabian dan penegasan risalah Islam.
Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai perintah Allah kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan risalah yang diwahyukan kepadanya, tanpa rasa takut sedikit pun terhadap reaksi manusia. Ayat ini menjadi penegasan fundamental bahwa tugas utama seorang Nabi adalah menyampaikan kebenaran wahyu tanpa kompromi.
Ayat ini merupakan seruan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kata "sampaikanlah" (بلغ - balligh) menekankan urgensi dan kewajiban mutlak dalam menyampaikan ajaran Islam. Dalam konteks sejarah, ayat ini turun ketika Nabi Muhammad ﷺ menghadapi berbagai tantangan dan upaya untuk membungkam dakwahnya, baik dari kaum musyrikin Mekkah maupun Yahudi dan Nasrani yang menentang sebagian ajaran beliau.
Pesan paling tegas dari Al-Maidah ayat 67 adalah bahwa menyampaikan risalah (wahyu) adalah tugas yang tidak boleh ditunda atau dikurangi demi menyenangkan siapa pun. Allah SWT menetapkan standar yang sangat tinggi: jika Rasulullah ﷺ tidak menyampaikan seluruh wahyu, maka seolah-olah beliau belum menyampaikan apa pun. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya integritas dalam menyampaikan kebenaran wahyu Ilahi.
Konsekuensi dari kegagalan menyampaikan risalah sangat berat, bahkan bagi seorang Nabi yang ma'shum (terjaga dari dosa besar). Ini memberikan pelajaran bagi umat Islam secara umum bahwa tugas amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran) harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, terlepas dari popularitas atau ancaman yang mungkin dihadapi.
Ilustrasi simbolis penyampaian wahyu di tengah tantangan.
Bagian kedua dari ayat tersebut memberikan penegasan luar biasa mengenai jaminan ilahi: "Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia." Ini bukan berarti Rasulullah ﷺ tidak pernah mengalami kesulitan fisik atau ancaman, tetapi ini adalah jaminan bahwa tujuan akhir dari misi beliau—yaitu keberhasilan penyampaian risalah—tidak akan digagalkan oleh konspirasi atau kekejaman musuh.
Bagi umat Islam, jaminan ini mengandung makna bahwa selama kita teguh dalam menjalankan perintah Allah dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar, maka pertolongan dan perlindungan Allah pasti menyertai. Ancaman dari makhluk ciptaan-Nya tidak akan pernah melebihi kekuatan Yang Menciptakan. Hal ini menumbuhkan rasa keberanian (syaja'ah) dalam berdakwah.
Ayat ditutup dengan penegasan mengenai siapa yang tidak akan mendapatkan hidayah, yaitu: "Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." Ini adalah penetapan prinsip bahwa hidayah adalah murni hak prerogatif Allah. Meskipun risalah telah disampaikan secara sempurna dan jelas, penerimaan atau penolakan bergantung pada kesiapan hati penerima itu sendiri.
Kekafiran di sini sering diartikan bukan sekadar ketidaktahuan, tetapi penolakan aktif dan keras kepala terhadap kebenaran yang telah dibuktikan dan disampaikan. Ayat ini mengajarkan kepada para da'i (penyampai pesan) untuk tidak berkecil hati jika dakwah mereka ditolak, karena hasil akhir penolakan tersebut berada di tangan Allah, bukan pada upaya keras penyampai pesan.
Secara umum, Al-Maidah ayat 67 mengajarkan beberapa prinsip penting:
Oleh karena itu, Surat Al-Maidah ayat 67 berfungsi sebagai pengingat abadi mengenai tanggung jawab besar dalam memikul beban wahyu, sekaligus sebagai sumber kekuatan dan ketenangan bahwa Allah adalah pelindung utama bagi mereka yang setia menjalankan perintah-Nya.