Kisah Isra' Mi'raj adalah salah satu peristiwa paling monumental dan penuh keajaiban dalam sejarah Islam. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj), yang menjadi landasan utama bagi pemahaman kita tentang perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (Isra'), dan kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi'raj).
Inti dari kisah ini terdapat pada pembuka Surah Al-Isra, yaitu ayat pertama. Allah SWT berfirman:
Ayat ini tidak hanya mengonfirmasi kebenaran peristiwa tersebut sebagai wahyu ilahi, tetapi juga menekankan bahwa tujuan utama perjalanan ini bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan untuk menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW tanda-tanda kebesaran Allah. Kata 'hamba-Nya' ('abdihi) menegaskan status spiritual tertinggi beliau, sementara penekanan pada pendengaran dan penglihatan Allah menegaskan bahwa seluruh rangkaian kejadian itu berada dalam pengawasan penuh Ilahi.
Perjalanan Isra' (perjalanan malam hari) adalah sebuah mukjizat yang terjadi setelah tahun-tahun yang penuh kesulitan bagi Rasulullah SAW, terutama setelah wafatnya Khadijah RA dan pamannya, Abu Thalib (dikenal sebagai 'Amul Huzn' atau Tahun Kesedihan). Melalui perjalanan ini, Allah memberikan penghiburan dan penguatan iman yang luar biasa.
Dari Mekkah ke Al-Aqsa, yang secara tradisional memakan waktu perjalanan berminggu-minggu, ditempuh hanya dalam satu malam. Ini menunjukkan bahwa batas-batas fisika duniawi tidak berlaku ketika Allah SWT menghendaki sesuatu. Masjidil Aqsa sendiri adalah kiblat pertama umat Islam, menjadikannya titik penyambung penting antara risalah yang dibawa Nabi Ibrahim AS, Nabi Musa AS, dan risalah penutup yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Di sana, beliau memimpin para nabi terdahulu dalam salat, menegaskan kesinambungan kenabian.
Puncak dari kisah ini adalah Mi'raj, kenaikan vertikal ke lapisan langit. Dalam Mi'raj, Nabi Muhammad SAW menyaksikan alam malakut (alam gaib) dan menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT tanpa perantara. Ini adalah inti ajaran Islam yang paling fundamental.
Mengapa Allah harus menunjukkan tanda-tanda ini? Karena iman memerlukan bukti, bukan hanya sekadar mendengar narasi. Tanda-tanda yang diperlihatkan kepada Nabi—termasuk pemandangan alam semesta yang belum pernah dilihat manusia, serta berbagai peristiwa yang beliau saksikan—bertujuan untuk mematrikan keyakinan beliau agar dapat menjadi pilar teguh bagi umatnya yang masih berada di bumi. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebesaran Allah tidak terbatas pada apa yang kita lihat sehari-hari, tetapi meluas hingga ke batas-batas yang tak terjangkau oleh nalar manusia biasa.
Setiap kali umat Islam mengingat kisah Al-Isra ayat pertama, kita diingatkan akan kedudukan agung Nabi Muhammad SAW sebagai hamba pilihan yang menerima penghormatan tertinggi. Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa kesulitan hidup adalah ujian yang akan selalu diikuti dengan pertolongan dan penguatan spiritual dari sisi Ilahi, asalkan hamba tersebut tetap teguh pada ketaatan dan mengingat Allah SWT sebagai Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat segala kondisi.
Oleh karena itu, menelaah Al-Isra ayat bukan hanya sekadar membaca sejarah, melainkan menghayati bahwa mukjizat adalah cara Allah berkomunikasi dengan umat-Nya, mempertegas kebenaran pesan yang dibawa oleh para rasul-Nya.