Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu tonggak sejarah terpenting dalam Islam, sebuah perjalanan spiritual dan fisik luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terabadikan secara jelas dalam Al-Qur'an, khususnya pada permulaan Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra wal-Mi'raj). Dua ayat pertama surah ini menjadi landasan utama bagi pemahaman kita tentang keagungan perjalanan tersebut.
Teks dan Makna Al-Isra Ayat 1
Ayat pertama Surah Al-Isra ini adalah pembuka yang mengagumkan. Kata "Subhanallah" (Maha Suci) di awal ayat langsung menunjukkan bahwa peristiwa yang akan dijelaskan bukanlah kejadian biasa, melainkan sebuah manifestasi dari kekuasaan ilahi yang melampaui nalar manusia. Kata "أَسْرَىٰ" (Asrā) berarti diperjalankan pada malam hari, merujuk pada perjalanan malam dari Mekkah (Al-Masjidil Haram) menuju Yerusalem (Al-Masjidil Aqsa).
Penting untuk dicatat bahwa Allah menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai "عَبْدِهِ" (hamba-Nya). Ini adalah penekanan atas status kerendahan hati dan ketaatan beliau, yang dipilih oleh Allah untuk menerima kehormatan luar biasa ini. Tujuan perjalanan ini secara eksplisit disebutkan: "لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا" (untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami). Ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sebuah penguatan iman dan pengajaran langsung dari Sang Pencipta kepada Nabi-Nya.
Al-Isra Ayat 2: Kelanjutan dan Peringatan
Setelah mengisahkan perjalanan mukjizat tersebut, ayat kedua memberikan kelanjutan yang tidak kalah pentingnya, menghubungkan Isra dengan pemberian wahyu Taurat kepada Nabi Musa AS, sambil menegaskan bahwa hikmah dari setiap peristiwa besar adalah untuk dijadikan pelajaran.
Ayat kedua ini menyambung benang merah kenabian. Mengingat Masjidil Aqsa adalah pusat spiritual Yahudi, penyebutan Taurat dan Musa menegaskan bahwa risalah yang dibawa Muhammad SAW adalah kelanjutan dan penyempurnaan dari risalah sebelumnya. Perintah inti yang disampaikan kepada Bani Israil adalah "أَلَّا تَتَّخِذُوا مِن دُونِي وَكِيلًا" (Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku). Ini adalah prinsip tauhid fundamental yang harus dipegang teguh.
Hikmah yang Terkandung dalam Kedua Ayat
Kombinasi Al-Isra ayat 1 dan 2 memberikan pelajaran mendalam bagi umat Islam. Pertama, peristiwa Isra menegaskan kedudukan tinggi Nabi Muhammad SAW di hadapan Allah, khususnya dalam masa-masa sulit ketika beliau menghadapi penolakan keras di Mekkah. Perjalanan ini berfungsi sebagai hiburan ilahi dan legitimasi kenabian.
Kedua, penekanan pada "tanda-tanda Kami" menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk senantiasa merenungkan alam semesta sebagai bukti kebesaran Allah. Perjalanan malam yang mustahil secara sains menjadi bukti konkret bahwa bagi Allah, tidak ada yang mustahil.
Ketiga, pengulangan pesan tauhid melalui kisah Musa AS mengingatkan bahwa inti ajaran semua nabi adalah penyembahan tunggal kepada Allah. Dengan demikian, Al-Isra ayat 1 dan 2 bukan hanya catatan sejarah, melainkan juga fondasi teologis yang kokoh tentang keesaan Allah, kebenaran kenabian, dan perlunya perenungan atas ayat-ayat-Nya.
Mengkaji kedua ayat ini di era modern, di mana keraguan terhadap hal-hal gaib sering muncul, memberikan kita landasan untuk menguatkan iman. Keajaiban Isra Mi'raj, sebagaimana diceritakan oleh Al-Qur'an, adalah kebenaran yang harus diterima dengan keyakinan penuh, karena datang dari Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat segala sesuatu.