Surat Al-Isra (juga dikenal sebagai Bani Israil) adalah salah satu penanda penting dalam Al-Qur'an yang merangkum mukjizat luar biasa dan pelajaran mendalam bagi umat manusia. Khususnya, Al Isra ayat 1 sampai 5 membuka lembaran kisah yang sangat istimewa, yaitu perjalanan malam (Isra') yang dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Ayat-ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, tetapi mengandung muatan teologis yang sangat besar tentang kekuasaan Allah SWT dan kehinaan perbuatan buruk manusia.
(1) Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa...
Ayat pertama ini langsung mengedepankan pujian dan pengagungan kepada Allah SWT (Subhana-Allah). Penggunaan kata "Subhan" menunjukkan kesucian mutlak Allah dari segala kekurangan, terutama ketika Dia melakukan sesuatu yang di luar nalar manusia, yaitu memindahkan Nabi Muhammad dari satu masjid suci ke masjid suci lainnya dalam waktu singkat di malam hari. Perjalanan Isra' ini adalah bukti nyata bahwa bagi Allah yang Maha Kuasa, jarak dan waktu tidak berarti apa-apa. Ini adalah konfirmasi kebenaran kenabian di tengah tantangan kaum musyrik saat itu.
(1) ...yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Ayat tersebut menegaskan bahwa perjalanan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah misi untuk menunjukkan "tanda-tanda kebesaran-Nya". Masjid Al-Aqsa dan sekitarnya diberkahi. Pemberkahan ini meliputi keberkahan para nabi yang pernah tinggal di sana (seperti Nabi Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub) serta keberkahan spiritual yang akan diturunkan kelak melalui Nabi Muhammad SAW. Visi yang diperlihatkan kepada Nabi adalah penguatan iman, karena di sana beliau bertemu dengan para nabi terdahulu dan menjadi imam salat bagi mereka, menegaskan kesinambungan risalah tauhid. Kata "Maha Mendengar lagi Maha Melihat" menutup ayat ini, menunjukkan bahwa pengawasan Allah selalu meliputi setiap peristiwa besar maupun kecil.
Setelah mukjizat penguatan iman Nabi, fokus ayat bergeser tajam pada kaum Bani Israil yang kelak akan menjadi penghuni wilayah tersebut. Ayat 2 hingga 4 berfungsi sebagai peringatan keras dan ramalan profetik mengenai dua kali kerusakan besar yang akan mereka lakukan.
(2) Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil, (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
Allah mengingatkan bahwa mereka telah dianugerahi petunjuk berupa Taurat, namun mereka menyimpang dari perintah dasar untuk tidak menjadikan selain Allah sebagai pelindung (Wali/Wakil). Kegagalan mereka dalam memegang teguh pedoman inilah yang menjadi akar kejatuhan mereka di kemudian hari.
(4) Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini pada dua kali dan pasti kamu akan melampaui batas dengan keangkuhan yang besar." (5) Maka apabila datang saatnya (datangnya) hukuman yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepada kalian hamba-hamba Kami yang sangat keras pertempuran, lalu mereka merajalela di kampung-kampung; dan itulah janji yang pasti terlaksana.
Ayat 4 dan 5 sangat tegas. Kerusakan pertama digambarkan dengan pengiriman pasukan yang keras, yang akan menyebar di seluruh permukiman mereka. Dalam sejarah, ini sering diinterpretasikan sebagai penaklukan brutal oleh bangsa Asyur (di mana kerajaan utara dihancurkan) dan kemudian oleh Nebukadnezar dari Babilonia (yang menghancurkan Baitul Maqdis dan menawan mereka). Kehancuran ini adalah konsekuensi logis dari keangkuhan mereka yang melampaui batas.
Kontras antara perjalanan agung Nabi Muhammad SAW (Isra') yang menunjukkan rahmat dan kebenaran ilahi dengan nasib kaum yang durhaka (Bani Israil) menjadi pelajaran penting. Kisah Al Isra ayat 1-5 mengajarkan bahwa kekuasaan Allah adalah nyata, dan mukjizat berfungsi sebagai penguat iman. Namun, ia juga mengingatkan bahwa setiap umat yang diberi petunjuk namun memilih kesombongan dan kerusakan, niscaya akan menerima pembalasan yang telah ditetapkan-Nya. Kisah ini menjadi fondasi bagi pemahaman umat Islam tentang peran suci Baitul Maqdis serta bahaya melupakan janji-janji dan amanah ilahi. Kesimpulan utamanya tetaplah pengakuan akan kebesaran Allah yang mampu melakukan perjalanan mustahil dan memberikan peringatan tegas akan konsekuensi perilaku buruk.