Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran, hukum, dan kisah-kisah penting. Ayat 1 hingga 8 dari surat ini memuat inti dari salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian: perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra dan Mi'raj. Ayat-ayat ini tidak hanya menceritakan sebuah peristiwa fisik, tetapi juga menegaskan kebesaran Allah SWT dan memberikan peringatan serta janji bagi umat manusia. Memahami konteks dan makna ayat-ayat awal ini sangat fundamental untuk menelisik hikmah di balik mukjizat tersebut.
Ayat pertama ini menjadi landasan utama pembahasan. Kata "Subhanallah" (Maha Suci Allah) menunjukkan bahwa peristiwa ini jauh melampaui nalar manusia biasa dan hanya mungkin terjadi atas kuasa Ilahi. Isra adalah perjalanan malam dari Ka'bah (Mekkah) menuju Baitul Maqdis (Al-Aqsa di Yerusalem). Penegasan bahwa tempat tersebut "diberkahi sekelilingnya" menggarisbawahi pentingnya Baitul Maqdis sebagai pusat spiritual utama umat terdahulu dan lokasi penting dalam sejarah Islam. Tujuannya jelas: menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa Isra dan Mi'raj adalah mukjizat fisik yang dialami Nabi Muhammad SAW sebagai penghiburannya setelah mengalami tahun-tahun sulit (Amul Huzn) dan penolakan keras di Thaif. Ayat 1 secara eksplisit menyebutkan tujuan perjalanan ini adalah untuk melihat "tanda-tanda kebesaran-Nya." Walaupun detail Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha) dijelaskan dalam hadis, fondasi utama bahwa perjalanan tersebut adalah wahyu visual ditegaskan di sini. Hal ini menegaskan bahwa kenabian Muhammad SAW didukung oleh bukti nyata yang melampaui kata-kata.
Ayat-ayat berikutnya (Ayat 2-5) beralih membahas tentang Bani Israil dan kebinasaan mereka akibat kedurhakaan:
Ayat 2-4 mengalihkan fokus dari mukjizat Nabi Muhammad SAW kepada sejarah umat sebelum beliau. Ini berfungsi sebagai perbandingan dan peringatan. Allah memberikan Taurat sebagai petunjuk bagi Bani Israil, namun mereka diperingatkan agar tidak mengambil pelindung selain Allah. Ayat 4 adalah ramalan kenabian yang sangat akurat, memprediksi dua kali kerusakan besar yang akan dilakukan Bani Israil di bumi, yang kemudian terwujud dalam sejarah mereka, baik dalam bentuk penindasan, pembunuhan nabi, maupun pengkhianatan perjanjian.
Ayat 5 hingga 8 menjelaskan dampak dari kerusakan yang dilakukan Bani Israil, diiringi dengan janji rahmat dan azab dari Allah SWT.
Ayat-ayat ini merinci bagaimana Allah menghukum Bani Israil atas pelanggaran pertama mereka dengan mengirimkan musuh yang kejam untuk menghancurkan mereka. Namun, Allah juga memberikan kesempatan kedua, mengembalikan kejayaan mereka, dan memperkuat mereka. Ini menunjukkan sifat Allah yang Maha Adil namun juga Maha Pengampun (bagi yang bertaubat).
Ayat 7 menekankan prinsip kausalitas: kebaikan dan kejahatan akan kembali kepada pelakunya. Ketika Bani Israil melakukan pelanggaran kedua kalinya, hukuman yang datang lebih parah, termasuk penghancuran total dan penguasaan masjid oleh musuh. Ini adalah peringatan universal bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi jika disertai dengan kesombongan dan penindasan.
Ayat penutup ini menawarkan harapan rahmat bagi umat Islam, asalkan mereka tidak mengulangi kesalahan Bani Israil. Namun, peringatan keras diletakkan di akhir: jika mereka melanggar batas dan mengingkari nikmat, ganjaran terakhir adalah neraka Jahannam yang kekal.
Al-Isra ayat 1-8 menyajikan sintesis sempurna antara mukjizat agung yang dialami Rasulullah SAW (Isra Mi'raj) dengan pelajaran sejarah umat terdahulu. Ayat-ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa kebesaran Allah SWT ditunjukkan melalui kekuatan-Nya yang tak terbatas, sekaligus menekankan bahwa keadilan ilahi pasti ditegakkan. Keseimbangan antara rahmat (kesempatan kedua) dan ancaman azab kekal menjadi pijakan moral yang kuat bagi setiap muslim untuk senantiasa bersyukur dan berbuat baik.