Tafsir Mendalam: Keajaiban Isra Mi'raj dalam Al-Isra Ayat 1-8

Ilustrasi Perjalanan Malam Garis melengkung dari masjid ke langit berbintang, melambangkan perjalanan Isra Mi'raj.

Mukadimah

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran, hukum, dan kisah-kisah penting. Ayat 1 hingga 8 dari surat ini memuat inti dari salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah kenabian: perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW, yaitu Isra dan Mi'raj. Ayat-ayat ini tidak hanya menceritakan sebuah peristiwa fisik, tetapi juga menegaskan kebesaran Allah SWT dan memberikan peringatan serta janji bagi umat manusia. Memahami konteks dan makna ayat-ayat awal ini sangat fundamental untuk menelisik hikmah di balik mukjizat tersebut.

Teks dan Terjemahan Inti Al-Isra Ayat 1-8

Ayat 1: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Ayat pertama ini menjadi landasan utama pembahasan. Kata "Subhanallah" (Maha Suci Allah) menunjukkan bahwa peristiwa ini jauh melampaui nalar manusia biasa dan hanya mungkin terjadi atas kuasa Ilahi. Isra adalah perjalanan malam dari Ka'bah (Mekkah) menuju Baitul Maqdis (Al-Aqsa di Yerusalem). Penegasan bahwa tempat tersebut "diberkahi sekelilingnya" menggarisbawahi pentingnya Baitul Maqdis sebagai pusat spiritual utama umat terdahulu dan lokasi penting dalam sejarah Islam. Tujuannya jelas: menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Isra dan Mi'raj: Tanda Kebesaran

Peristiwa Isra dan Mi'raj adalah mukjizat fisik yang dialami Nabi Muhammad SAW sebagai penghiburannya setelah mengalami tahun-tahun sulit (Amul Huzn) dan penolakan keras di Thaif. Ayat 1 secara eksplisit menyebutkan tujuan perjalanan ini adalah untuk melihat "tanda-tanda kebesaran-Nya." Walaupun detail Mi'raj (naik ke Sidratul Muntaha) dijelaskan dalam hadis, fondasi utama bahwa perjalanan tersebut adalah wahyu visual ditegaskan di sini. Hal ini menegaskan bahwa kenabian Muhammad SAW didukung oleh bukti nyata yang melampaui kata-kata.

Ayat-ayat berikutnya (Ayat 2-5) beralih membahas tentang Bani Israil dan kebinasaan mereka akibat kedurhakaan:

Ayat 2-4: Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku." (Ayat 3). Hai keturunan orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba Kami yang banyak bersyukur. Dan Kami tetapkan bagi Bani Israil dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu pasti akan membuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan berlaku sombong dengan kesombongan yang besar." (Ayat 4).

Ayat 2-4 mengalihkan fokus dari mukjizat Nabi Muhammad SAW kepada sejarah umat sebelum beliau. Ini berfungsi sebagai perbandingan dan peringatan. Allah memberikan Taurat sebagai petunjuk bagi Bani Israil, namun mereka diperingatkan agar tidak mengambil pelindung selain Allah. Ayat 4 adalah ramalan kenabian yang sangat akurat, memprediksi dua kali kerusakan besar yang akan dilakukan Bani Israil di bumi, yang kemudian terwujud dalam sejarah mereka, baik dalam bentuk penindasan, pembunuhan nabi, maupun pengkhianatan perjanjian.

Konsekuensi dan Janji Ilahi (Ayat 5-8)

Ayat 5 hingga 8 menjelaskan dampak dari kerusakan yang dilakukan Bani Israil, diiringi dengan janji rahmat dan azab dari Allah SWT.

Ayat 5-7: Maka apabila datang saatnya hukuman bagi (pelanggaran) pertama dari kedua pelanggaran itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang sangat gagah perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami kembalikan kepadamu kemenangan atas mereka dan Kami bantu kamu dengan harta benda dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (kekuatannya). (Ayat 6). Jika kamu berbuat baik, (maka) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka (kezaliman itu) untuk dirimu sendiri. Kemudian apabila datang saatnya hukuman bagi (pelanggaran) kedua, (Kami datangkan musuh) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sama sekali apa saja yang kamu kuasai. (Ayat 7).

Ayat-ayat ini merinci bagaimana Allah menghukum Bani Israil atas pelanggaran pertama mereka dengan mengirimkan musuh yang kejam untuk menghancurkan mereka. Namun, Allah juga memberikan kesempatan kedua, mengembalikan kejayaan mereka, dan memperkuat mereka. Ini menunjukkan sifat Allah yang Maha Adil namun juga Maha Pengampun (bagi yang bertaubat).

Ayat 7 menekankan prinsip kausalitas: kebaikan dan kejahatan akan kembali kepada pelakunya. Ketika Bani Israil melakukan pelanggaran kedua kalinya, hukuman yang datang lebih parah, termasuk penghancuran total dan penguasaan masjid oleh musuh. Ini adalah peringatan universal bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi jika disertai dengan kesombongan dan penindasan.

Ayat 8: (Mudah-mudahan) Tuhanmu akan melimpahkan rahmat-Nya kepadamu; dan jika kamu mengulangi (pelanggaran itu), niscaya Kami ulangi (azab Kami) dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara yang tak dapat dihancurkan bagi orang-orang kafir.

Ayat penutup ini menawarkan harapan rahmat bagi umat Islam, asalkan mereka tidak mengulangi kesalahan Bani Israil. Namun, peringatan keras diletakkan di akhir: jika mereka melanggar batas dan mengingkari nikmat, ganjaran terakhir adalah neraka Jahannam yang kekal.

Kesimpulan

Al-Isra ayat 1-8 menyajikan sintesis sempurna antara mukjizat agung yang dialami Rasulullah SAW (Isra Mi'raj) dengan pelajaran sejarah umat terdahulu. Ayat-ayat ini mengingatkan umat Islam bahwa kebesaran Allah SWT ditunjukkan melalui kekuatan-Nya yang tak terbatas, sekaligus menekankan bahwa keadilan ilahi pasti ditegakkan. Keseimbangan antara rahmat (kesempatan kedua) dan ancaman azab kekal menjadi pijakan moral yang kuat bagi setiap muslim untuk senantiasa bersyukur dan berbuat baik.

🏠 Homepage