Memahami Keagungan Al-Isra Ayat 1

Teks Arab dan Terjemahan

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَى ٱلَّذِي بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

Ayat pembuka dari Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil) ini memuat salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam, yaitu Isra Mi'raj. Ayat ini dimulai dengan pujian agung, "Subhanalladzi Asra bi 'abdihi...", yang menekankan kesucian Allah SWT sebagai Zat yang mampu melakukan hal yang di luar nalar manusiawi. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan manifestasi kekuatan ilahi yang tak terbatas.

Kata "Isra" secara harfiah berarti perjalanan malam hari. Dalam konteks ini, Isra merujuk pada perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Perjalanan ini terjadi dalam satu malam, suatu hal yang mustahil dilakukan dengan cara biasa pada masa itu, menegaskan keotentikan mukjizat tersebut. Masjidil Aqsa sendiri disebutkan sebagai titik transit sebelum kenaikan Nabi ke alam langit (Mi'raj).

Signifikansi Geografis dan Spiritual

Penyebutan dua masjid suci dalam ayat ini—Al-Masjidil Haram dan Al-Masjidil Aqsa—memiliki makna mendalam. Al-Masjidil Haram adalah kiblat pertama umat Islam dan pusat peribadatan di Makkah. Sementara itu, Al-Masjidil Aqsa di Yerusalem adalah kiblat kedua dan tempat di mana para nabi terdahulu juga pernah beribadah. Hubungan spiritual antara kedua lokasi ini dipertegas melalui perjalanan suci ini.

Frasa "yang telah Kami berkahi sekelilingnya" (الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُۥ) menunjukkan bahwa area sekitar Masjidil Aqsa memiliki kemuliaan tersendiri, menjadi tempat turunnya banyak wahyu dan diutusnya para nabi. Keberkahan ini bersifat materiil (kesuburan bumi) maupun spiritual (tempat para penghuni surga).

Tujuan utama dari perjalanan ini, sebagaimana disebutkan dalam ayat, adalah "agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" (لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَا). Ini mengindikasikan bahwa Isra Mi'raj adalah sebuah proses pembuktian, di mana Nabi diperlihatkan secara langsung keagungan penciptaan dan kekuasaan Allah SWT di alam semesta. Ini berfungsi untuk menguatkan hati Nabi dan para pengikutnya dalam menghadapi tantangan dakwah.

Penutup Ayat: Sifat Allah

Ayat ini ditutup dengan penyebutan dua sifat utama Allah SWT: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat" (إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ). Setelah menggambarkan perjalanan fisik yang luar biasa dan penglihatan akan tanda-tanda kebesaran-Nya, penutup ini mengingatkan bahwa semua yang terjadi, baik yang tampak maupun tersembunyi, selalu berada dalam pengawasan penuh Allah.

Sifat As-Sami' (Maha Mendengar) menegaskan bahwa doa, keluh kesah, dan bisikan hati Nabi Muhammad SAW telah didengar langsung oleh-Nya. Sementara itu, sifat Al-Basir (Maha Melihat) memastikan bahwa setiap detail dari mukjizat tersebut telah disaksikan dan diakui oleh Allah. Ini memberikan jaminan bahwa peristiwa Isra Mi'raj adalah nyata dan bukan sekadar ilusi.

Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 1 bukan hanya catatan historis, tetapi juga landasan teologis yang kokoh mengenai keesaan Allah, kemukjizatan Nabi Muhammad SAW, dan keistimewaan tempat-tempat suci dalam Islam. Perjalanan malam yang singkat ini membawa implikasi spiritual yang kekal bagi umat Muslim hingga akhir zaman.

Ilustrasi perjalanan malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsa Makkah Aqsa
🏠 Homepage