Salah satu ayat penting dalam Surat Al-Isra (Bani Israil) yang sering menjadi perhatian utama umat Islam adalah ayat ke-100. Ayat ini memberikan pelajaran tegas mengenai manajemen harta dan konsekuensi dari keserakahan finansial.
Ayat ini diturunkan sebagai nasihat ilahi yang mencakup prinsip keseimbangan (tawazun) dalam membelanjakan harta. Sebelum ayat ini, Allah SWT telah mengingatkan Rasulullah SAW dan umatnya tentang pentingnya berpikir realistis mengenai rezeki.
Ketika Allah menjanjikan kekayaan duniawi atau kekuasaan, banyak orang Arab pada masa itu, termasuk beberapa sahabat Nabi yang baru masuk Islam, khawatir jika mereka membelanjakan harta mereka untuk sedekah atau membantu kaum fakir, maka harta mereka akan habis. Ketakutan ini mendorong mereka untuk berlaku kikir dan menahan hartanya erat-erat.
Al-Isra ayat 100 hadir untuk meluruskan pemahaman ini. Ia mengajarkan bahwa hidup ini adalah tentang pengelolaan, bukan penimbunan atau penghamburan total.
Ayat ini secara eksplisit melarang dua ekstrem perilaku dalam pengelolaan finansial:
Frasa "Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu" adalah metafora yang sangat kuat. Tangan yang terbelenggu pada leher berarti tangan itu tidak bisa bergerak, tidak bisa memberi, dan tidak bisa bekerja secara produktif. Ini menggambarkan sifat pelit (bakhil) atau kikir. Seorang Muslim dilarang menahan hartanya karena takut miskin. Keyakinan bahwa rezeki datang dari Allah dan bahwa sedekah adalah investasi akhirat harus menenggelamkan rasa takut akan kemiskinan duniawi.
Di sisi lain, ayat ini juga melarang kebalikan dari kikir, yaitu israf (pemborosan) atau tabdzir. "Jangan pula engkau menghulurkannya dengan seluruh-seluruhnya" berarti membelanjakan harta tanpa perencanaan, melebihi batas kebutuhan, atau digunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Pemborosan membuat seseorang kehilangan harta dengan cepat, yang pada akhirnya akan mendatangkan penyesalan.
Allah SWT menutup ayat ini dengan peringatan keras mengenai hasil akhir dari kedua perilaku tersebut:
Al-Isra ayat 100 tetap relevan hingga kini. Dalam konteks ekonomi modern, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya anggaran yang sehat. Kita didorong untuk menjadi dermawan (memberi zakat, infak, sedekah) namun juga harus bijak dalam pengeluaran pribadi. Keseimbangan ini adalah jalan tengah yang diridai Allah, menghindari ketakutan akan kemiskinan (kikir) dan menghindari kesombongan atau kesia-siaan (boros).
Intinya, rezeki yang Allah berikan adalah amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab, bukan ditimbun dalam ketakutan atau dihamburkan dalam kesenangan sesaat.