Ilustrasi Simbolis Mukjizat
Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 101 secara spesifik membahas tentang permintaan kaum Quraisy kepada Nabi Muhammad SAW untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah SWT, khususnya terkait dengan mukjizat yang diminta untuk membuktikan kebenaran risalahnya. Ayat ini turun sebagai respons terhadap skeptisisme dan tantangan yang dilontarkan oleh para penentang dakwah Rasulullah di Mekkah.
"Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu, sehingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.' (QS. Al-Isra: 101)
Teks Al Isra ayat 101 ini mencatat salah satu dari sekian banyak permintaan sulit yang diajukan oleh kaum Quraisy kepada Rasulullah ﷺ. Permintaan mereka bersifat fisik dan langsung dapat diamati, sering kali didorong oleh kesombongan dan penolakan untuk tunduk pada kebenaran spiritual. Mereka menuntut agar Nabi membuktikan kenabiannya dengan melakukan hal-hal yang berada di luar batas kemampuan manusia normal, seperti membelah bumi untuk memunculkan mata air.
Dalam konteks geografis Mekkah, di mana sumber air bersih merupakan komoditas langka dan sangat berharga, permintaan memancarkan mata air adalah tuntutan yang sangat tinggi. Ini bukan sekadar permintaan iseng, melainkan upaya sistematis untuk menjatuhkan kredibilitas Nabi di hadapan masyarakat yang sangat menghargai keajaiban (karamah) sebagai bukti validitas seorang pembawa pesan ilahi. Mereka mencari pembenaran rasionalistik atas penolakan mereka yang sebenarnya lebih bersifat emosional dan politis.
Meskipun ayat 101 hanya memuat permintaan mereka, ayat-ayat selanjutnya dalam rangkaian tersebut (seperti ayat 102) memberikan respons tegas dari Allah SWT. Mukjizat sejati yang dibawa oleh Rasulullah bukanlah semata-mata pertunjukan kekuatan alam, melainkan wahyu Al-Qur'an itu sendiri—sebuah mukjizat abadi yang mengandung petunjuk, hukum, dan hikmah.
Hikmah mendasar yang dapat diambil dari konteks Al Isra ayat 101 adalah bahwa iman sejati tidak dibangun di atas tontonan semata. Allah SWT menetapkan bahwa mukjizat utama bagi Nabi Muhammad adalah Al-Qur'an. Kaum yang hatinya tertutup oleh kesombongan dan hawa nafsu tidak akan pernah beriman, bahkan jika mereka disajikan dengan segala bentuk pemandangan luar biasa. Iman adalah penerimaan sukarela terhadap kebenaran, bukan pemaksaan kehendak melalui kekuatan fisik.
Permintaan semacam ini menunjukkan kontras tajam antara cara pandang mereka yang terikat pada materi dan cara pandang kenabian yang menekankan dimensi spiritual dan moral. Bagi mereka, bukti haruslah spektakuler dan cepat. Bagi Nabi, bukti sejati adalah konsistensi ajaran, keindahan moralitas, dan kedalaman hikmah yang termuat dalam kitab suci.
Hal ini relevan hingga kini. Ketika dihadapkan pada ajaran agama, selalu ada kecenderungan untuk mencari 'bukti' yang kasat mata dan instan. Namun, Islam mengajarkan bahwa mukjizat yang paling kekal dan relevan adalah Al-Qur'an itu sendiri, yang terus memberikan petunjuk bagi siapa pun yang bersedia merenung dan membuka hati, terlepas dari tantangan fisik yang diajukan oleh kaum di masa lampau seperti yang diceritakan dalam Al Isra ayat 101. Menghargai ayat ini berarti memahami bahwa kedalaman spiritual jauh melampaui tuntutan visual sesaat.