Menggali Makna Al Isra Ayat 17: Peringatan dan Konsekuensi Perbuatan

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang banyak memuat kisah-kisah para nabi, peringatan, dan ajaran moral. Di antara ayat-ayatnya, ayat ke-17 memiliki penekanan khusus terkait konsekuensi dari perbuatan manusia, baik maupun buruk.

Memahami Al Isra ayat 17 Arab, terjemahan, serta tafsirnya sangat krusial untuk menguatkan kesadaran spiritual dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Teks Al Isra Ayat 17 (Arab, Latin, dan Terjemahan)

Berikut adalah lafadz ayat 17 dari Surat Al-Isra, beserta transliterasi Latin dan terjemahan bahasa Indonesianya:

وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنَ ٱلْجِنِّ كَثِيرًا وَمِنَ ٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْنُنٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا وَلَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا ۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

Latin: Wa laqad dhara'na li jahannama katsiran minal jinni wal insi lahum qulubul la yaqnahuna biha walahum a'yunul la yubsiruna biha walahum adzunul la yasmauna biha ulaika kal'an'ami bal hum adallu ulaika humul ghafilun.

Terjemahan Bahasa Indonesia: Dan sungguh, telah Kami jadikan untuk (isi) Jahannam banyak dari golongan jin dan manusia; mereka mempunyai hati, tetapi tidak mempergunakannya untuk memahami; dan mereka mempunyai mata, tetapi tidak mempergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mempergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Visualisasi Ilustratif Ayat

Kebenaran Mata Tertutup Telinga Tersumbat Al Isra: 17

Penjelasan Mendalam tentang Isi Ayat

Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras dari Allah SWT. Ayat ini menggarisbawahi bahwa banyak jin dan manusia yang telah ditetapkan untuk menjadi penghuni neraka Jahanam karena mereka tidak menggunakan karunia terbesar yang diberikan Allah kepada mereka: akal, mata, dan telinga.

Tiga Indera yang Diabaikan

Allah SWT menyebutkan tiga perangkat utama yang dimiliki manusia—hati (sebagai pusat pemahaman), mata (sebagai alat melihat), dan telinga (sebagai alat mendengar)—namun mereka memilih untuk tidak memfungsikannya sesuai tujuan penciptaannya.

  1. Hati yang Tidak Memahami (لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا): Ini bukan sekadar ketidakmampuan fisik, melainkan penolakan spiritual untuk menerima kebenaran dan hikmah. Hati mereka keras dan tidak mau meresapi ajaran Allah.
  2. Mata yang Tidak Melihat (لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا): Mereka melihat bukti-bukti kebesaran Allah di alam semesta, melihat mukjizat, dan menerima wahyu, tetapi mata mereka tidak berfungsi untuk menangkap makna spiritual dari apa yang mereka lihat.
  3. Telinga yang Tidak Mendengar (لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا): Mereka mendengar ayat-ayat Al-Qur'an atau nasihat para rasul, tetapi pendengaran mereka tidak mencapai tahap pemahaman dan kepatuhan.

Perbandingan dengan Binatang Ternak

Puncak dari ironi ini adalah perbandingan yang sangat keras: "Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi." Binatang ternak memang diciptakan tanpa kapasitas berpikir dan memilih; keberadaannya murni naluriah. Namun, manusia diberi potensi akal dan wahyu. Ketika manusia menolak menggunakan potensi tersebut, mereka menjadi lebih rendah dari binatang ternak karena mereka memiliki alat untuk membedakan baik dan buruk, namun mereka memilih kegelapan.

Pada akhirnya, ayat ini menegaskan status mereka sebagai "orang-orang yang lalai" ($\text{Ula'ika humul ghafilun}$). Kelalaian di sini berarti melupakan tujuan sejati hidup mereka, melupakan pertanggungjawaban, dan sibuk dengan urusan duniawi yang fana hingga melalaikan perintah ilahi.

Relevansi Kontemporer

Di era informasi yang serba cepat seperti sekarang, pesan Al Isra ayat 17 menjadi semakin relevan. Kita dibanjiri data dan visual (mata), dibombardir suara dan berita (telinga), dan memiliki akses luas ke berbagai pengetahuan (hati). Namun, jika semua input ini tidak diolah menjadi pemahaman yang mengarah pada kebaikan dan ketaatan, maka kita berisiko termasuk dalam golongan yang disebutkan dalam ayat ini.

Ayat ini mendorong setiap Muslim untuk senantiasa mengevaluasi cara mereka menggunakan anugerah inderanya. Apakah mata hanya melihat yang haram? Apakah telinga hanya menyerap informasi yang sia-sia? Dan yang paling penting, apakah hati kita mampu memahami dan menerima kebenaran yang disampaikan melalui Al-Qur'an? Penggunaan karunia Allah secara tepat adalah kunci untuk menghindari kesesatan yang digambarkan dengan sangat gamblang dalam ayat mulia ini.

Oleh karena itu, merenungkan ayat ini membantu kita untuk senantiasa waspada terhadap kelalaian dan memastikan bahwa kita menggunakan hati, mata, dan telinga kita untuk mencari keridhaan Allah SWT, bukan untuk tersesat lebih jauh dari jalan-Nya.

🏠 Homepage