Visualisasi konsep keadilan dan perpisahan jalan.
Makna Fundamental Al-Isra Ayat 17
Al-Isra ayat 17 (Surah Al-Isra, ayat ke-17) adalah salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang secara eksplisit membahas konsekuensi serius dari perbuatan zalim dan mengingatkan manusia akan pentingnya keadilan serta larangan keras terhadap perbuatan keji. Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian ayat yang memberikan peringatan keras kepada kaum musyrikin Makkah, namun pesan universalnya berlaku bagi seluruh umat manusia di sepanjang masa. Ayat ini secara ringkas mengandung dua poin utama: larangan untuk menghancurkan kaum terdahulu yang zalim dan peringatan keras bagi orang-orang yang lalai.
*(Catatan: Ayat 17 seringkali merujuk pada kelanjutan konteks dari ayat 16 yang menceritakan perilaku Bani Israil terhadap para rasul).*
Peringatan Terhadap Kesombongan dan Penolakan Kebenaran
Jika kita merujuk pada konteks tafsir yang lebih luas, terutama yang menyertai ayat-ayat sebelumnya (ayat 15 dan 16), Al-Isra ayat 17 menjelaskan sebuah pola perilaku buruk yang diwariskan. Ayat ini menekankan bagaimana Bani Israil, setelah diutus kepada mereka para rasul pembawa kebenaran (termasuk Musa as dan Isa as), sering kali menolak ajaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka. Allah SWT mengutus mereka dengan bukti-bukti nyata (al-bayyināt) dan menguatkan mereka dengan Ruhul Qudus (Jibril atau ruh suci lainnya).
Inti dari teguran dalam ayat ini adalah pertanyaan retoris yang menyakitkan: "Apakah setiap kali seorang rasul datang kepadamu membawa sesuatu yang tidak kamu sukai, kamu berlaku sombong?" Respons mereka selalu sama: sebagian mereka dustakan, dan sebagian lagi mereka bunuh. Sikap ini mencerminkan penolakan terhadap otoritas ilahi ketika otoritas tersebut menuntut perubahan perilaku dan meninggalkan kebiasaan buruk. Ini adalah pelajaran mendasar bahwa kebenaran harus diterima, terlepas dari apakah ia sesuai dengan keinginan atau ego pribadi seseorang.
Keadilan Ilahi dan Konsekuensi Perbuatan
Meskipun ayat ini secara spesifik berbicara tentang respon Bani Israil terhadap rasul-rasul mereka, pesan yang terkandung sangat universal. Penolakan yang disertai kesombongan (istakbartum) adalah akar dari kezaliman. Dalam banyak tafsir, ayat-ayat yang membahas umat terdahulu yang dihancurkan—meskipun ayat 17 lebih fokus pada penolakan rasul—selalu menyiratkan bahwa kehancuran itu adalah akibat logis dari penolakan mereka terhadap bimbingan. Allah tidak pernah menghukum tanpa memberikan peringatan dan bukti yang jelas.
Ketika manusia secara kolektif memilih untuk mendustakan dan bahkan membunuh pembawa kebenaran, mereka telah menutup pintu rahmat dan membuka diri terhadap murka ilahi. Ayat ini mengajarkan bahwa keadilan Allah bersifat pasti. Jika generasi terdahulu menerima hukuman karena kesombongan dan pembunuhan terhadap utusan-utusan-Nya, maka umat Nabi Muhammad SAW harus mengambil pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan serupa dalam menghadapi ajaran Islam.
Relevansi Kontemporer: Menghindari Kesombongan Intelektual
Di era modern, pesan Al-Isra ayat 17 ini dapat diinterpretasikan sebagai peringatan terhadap kesombongan intelektual atau ideologis. Ketika kebenaran disajikan, entah itu melalui ilmu pengetahuan yang mapan atau ajaran spiritual yang sahih, reaksi alami manusia sering kali adalah resistensi jika kebenaran tersebut menantang kenyamanan atau pandangan dunia yang sudah mapan.
Pelajaran pentingnya adalah meredam ego. Menerima kebenaran membutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa pandangan kita mungkin salah atau tidak lengkap. Sebaliknya, kesombongan akan membuat seseorang mudah mendiskreditkan, menuduh sesat, atau bahkan memusuhi siapa pun yang membawa pandangan yang berbeda atau korektif. Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu bersikap terbuka dan kritis terhadap diri sendiri, bukan hanya terhadap orang lain. Keteguhan hati dalam memegang teguh kebenaran harus diimbangi dengan kerendahan hati dalam menerimanya.
Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 17 adalah cetak biru historis mengenai bahaya penolakan rasul yang diwarnai kesombongan, sekaligus penegasan bahwa Allah telah memberikan berbagai cara (mukjizat dan bukti) agar manusia dapat beriman. Kegagalan merespons dengan baik akan selalu berujung pada konsekuensi yang telah ditetapkan bagi mereka yang menolak cahaya petunjuk-Nya.