Al-Qur'an adalah pedoman hidup komprehensif yang mengatur setiap aspek kehidupan manusia, termasuk etika sosial dan muamalah (interaksi ekonomi). Salah satu ayat kunci yang menekankan prinsip kehati-hatian dalam hubungan sosial adalah Surah Al-Isra ayat 28.
Teks dan Terjemahan Al Isra Ayat 28
Ayat ini memberikan instruksi yang sangat jelas mengenai bagaimana seorang Muslim harus bersikap terhadap mereka yang membutuhkan bantuan finansial, khususnya kerabat, orang miskin, dan musafir. Berikut adalah inti dari ayat tersebut:
"Dan jika engkau (Muhammad) terpaksa berpaling dari mereka (pemberian itu) karena menantikan rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka berkatalah kepada mereka dengan perkataan yang lemah lembut (menyampaikan penundaan atau penolakan dengan cara yang baik)."
Kontekstualisasi Ayat
Sebelum membahas poin utama ayat 28, penting untuk memahami konteks ayat sebelumnya (Ayat 26 dan 27), yang memerintahkan untuk memberikan hak kepada kerabat dekat, orang miskin, dan ibnu sabil (musafir yang kehabisan bekal), tanpa berlaku boros. Ayat 28 muncul sebagai solusi praktis ketika sumber daya yang tersedia terbatas atau belum mencukupi.
Ayat 28 ini mengajarkan bahwa jika seseorang tidak mampu memberikan pertolongan secara finansial pada saat itu—bukan karena kekikiran, melainkan karena keterbatasan sumber daya saat itu—ia harus tetap menjaga etika komunikasi. Kata kunci di sini adalah "qoulan maysuran" (perkataan yang lemah lembut/mudah)**.
Pentingnya "Perkataan yang Lemah Lembut"
Perkataan yang lemah lembut (maysuran) memiliki makna yang mendalam dalam Islam. Ini bukan sekadar permintaan maaf biasa, melainkan sebuah strategi komunikasi yang menjaga martabat penerima bantuan sekaligus menjaga hubungan sosial. Ketika rezeki belum datang atau belum memungkinkan untuk disalurkan, seorang Muslim diperintahkan untuk:
- Menghindari Penolakan Kasar: Penolakan harus disampaikan tanpa menyakiti hati penerima atau membuat mereka merasa hina.
- Menyampaikan Harapan: Kata-kata harus menyiratkan bahwa bantuan mungkin akan diberikan di lain waktu, menunjukkan bahwa keengganan tersebut bersifat sementara, bukan permanen.
- Menjaga Keikhlasan: Tindakan ini dilakukan semata-mata karena mengharapkan rahmat dari Allah (Ibtigha' rahmatan min Rabbika), bukan karena ingin dipuji manusia.
Ayat ini menegaskan bahwa cara kita menyampaikan batasan finansial sama pentingnya dengan tindakan memberi itu sendiri. Etika berbicara adalah bagian integral dari ibadah.
Implikasi Luas dalam Kehidupan Sehari-hari
Makna Al Isra ayat 28 tidak hanya terbatas pada konteks sedekah dan zakat. Prinsip "perkataan yang lemah lembut" dapat diaplikasikan dalam berbagai situasi di mana kita harus menolak permintaan atau menyampaikan berita buruk:
Dalam dunia bisnis modern, ayat ini menjadi landasan etika negosiasi. Jika sebuah proyek atau permintaan kerjasama tidak dapat dipenuhi, penyampaian penolakan yang bijak dan menjaga reputasi mitra adalah wujud dari menjalankan ajaran ini. Hal yang sama berlaku dalam hubungan interpersonal; menolak pinjaman atau permintaan bantuan harus dilakukan dengan empati dan kelembutan.
Keseimbangan antara kemampuan finansial dan tanggung jawab sosial adalah ujian. Ketika kemampuan tidak tersedia, ujian beralih kepada kemampuan menjaga lisan. Islam mengajarkan bahwa kerugian materi dapat ditanggulangi, tetapi kerusakan hati akibat perkataan yang menyakitkan sulit diperbaiki.
Hikmah Menantikan Rahmat Tuhan
Frasa "menantikan rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan" mengingatkan bahwa sumber daya kita adalah titipan Allah. Keterbatasan hari ini adalah bagian dari rencana-Nya, dan dengan bersabar menunggu rahmat-Nya datang, kita sekaligus melatih tawakal. Kesabaran dalam menahan pemberian sambil tetap berkata baik adalah bentuk kesalehan yang tinggi, sebab ia menguji kesabaran diri saat berhadapan dengan kewajiban sosial.
Oleh karena itu, Al Isra Ayat 28 adalah cetak biru tentang integritas komunikasi saat sumber daya kita terbatas. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak hanya diukur dari seberapa banyak yang ia berikan, tetapi juga seberapa baik ia bersikap ketika ia terpaksa menunda pemberian tersebut.