Kandungan Al Isra Ayat 29 dan 30 Beserta Artinya

Ilustrasi Keseimbangan dan Kepercayaan Kebutuhan Kewajiban

Pengantar Surah Al-Isra

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Surah ini kaya akan ajaran moral, kisah kenabian, dan prinsip-prinsip fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Di antara ayat-ayat yang sangat penting mengenai etika sosial dan ekonomi adalah ayat 29 dan 30. Kedua ayat ini memberikan pedoman tegas tentang cara seorang Mukmin seharusnya berinteraksi dengan kekayaan, menghindari sifat boros, dan menjaga keseimbangan finansial dalam hidupnya.

Fokus utama dari ayat 29 dan 30 adalah nasihat agar umat Islam tidak bersikap ekstrem dalam membelanjakan harta. Ini mencakup dua sisi ekstrem: kekikiran (menahan harta hingga tidak mau menunaikan hak orang lain) dan pemborosan (menghamburkan harta tanpa perhitungan).

Al Isra Ayat 29

وَلَا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَّحْسُورًا
"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir), dan jangan pula kamu mengulurkannya (membuka tanganmu) sepenuhnya (boros), sehingga kamu menjadi tercela dan menyesal."

Makna Ayat 29

Ayat ini menggunakan metafora yang sangat kuat. Frasa "tangan terbelenggu pada leher" (maghlulatan ila 'unuqika) menggambarkan sifat kikir atau bakhil. Orang yang kikir menahan hartanya seolah-olah tangannya terikat erat sehingga tidak mampu mengeluarkannya untuk membantu sesama atau kebutuhan mendesak. Hal ini dilarang keras karena kekayaan adalah titipan dan harus didistribusikan.

Sebaliknya, ayat tersebut melarang sikap ekstrem yang kedua, yaitu "mengulurkannya sepenuhnya" (tabsuthaha kulla al-basth). Ini merujuk pada sikap boros atau israf, yaitu menghamburkan harta secara berlebihan tanpa perencanaan, bahkan sampai harta habis dan tidak ada lagi yang tersisa untuk kebutuhan diri sendiri atau kewajiban penting lainnya. Hasil dari sikap boros ini adalah penyesalan, sebab ketika kebutuhan mendesak datang, orang tersebut akan berada dalam posisi "tercela" (karena dianggap tidak bertanggung jawab) dan "menyesal" (karena telah menghabiskan sumber daya yang ada).

Al Isra Ayat 30

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan(nya) bagi siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."

Makna Ayat 30

Ayat ke-30 memberikan landasan teologis bagi nasihat di ayat sebelumnya. Allah SWT menegaskan bahwa Dialah yang mengatur rezeki. Terkadang Allah melapangkan rezeki (meluaskan) kepada hamba-Nya, dan terkadang Ia menyempitkannya (membatasi).

Pemahaman ini sangat penting untuk menyeimbangkan sikap seorang Muslim. Ketika diberi kelapangan rezeki, seorang Muslim tidak boleh sombong, kikir, atau boros. Sebaliknya, ia harus bersyukur dan membelanjakan hartanya sesuai syariat. Ketika rezeki disempitkan, ia harus bersabar dan tidak berputus asa, serta tetap menunaikan hak-hak wajib yang ada, tanpa melanggar batasan yang telah ditetapkan Allah.

Penutup ayat, "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya," menjadi pengingat bahwa segala kondisi—lapang atau sempit—adalah bagian dari pengetahuan dan penglihatan Allah yang sempurna. Allah mengetahui mana yang lebih baik bagi hamba-Nya, apakah kelimpahan harta ataukah keterbatasan harta dalam mendidik jiwa mereka menuju ketakwaan.

Pelajaran Penting: Moderasi dalam Islam

Inti dari Al Isra ayat 29 dan 30 adalah ajaran tentang tawazzun (keseimbangan) atau moderasi. Islam menolak segala bentuk kehidupan yang ekstrem. Dalam hal pengeluaran, keseimbangan dicapai dengan tidak menjadi hamba harta, tetapi menjadikan harta sebagai alat untuk mencapai ridha Allah.

Keseimbangan ini juga terkait dengan konsep sedekah dan nafkah. Seorang Muslim diperintahkan untuk menunaikan hak orang lain (seperti fakir miskin) dan kebutuhan keluarga, namun ia juga harus tetap memiliki cadangan untuk dirinya sendiri, agar tidak jatuh dalam penyesalan. Sikap ini mencerminkan kedewasaan spiritual dan manajemen finansial yang diajarkan langsung dari sumbernya. Ayat ini mengajarkan bahwa pengelolaan sumber daya bukan hanya urusan duniawi, tetapi juga ibadah yang dinilai oleh Allah SWT.

🏠 Homepage