Memahami Ketentuan Ilahi: Al Isra Ayat 30

Rezeki Ketentuan

Ilustrasi pembagian rezeki dan batasan yang telah ditetapkan.

Dalam lembaran suci Al-Qur'an, terdapat banyak sekali petunjuk mengenai tata kelola kehidupan duniawi, salah satunya berkaitan dengan aspek materi dan nafkah. Salah satu ayat yang sangat fundamental dalam mengatur cara pandang umat Islam terhadap penghidupan adalah Surah Al-Isra ayat ke-30. Ayat ini memberikan landasan kuat bahwa segala bentuk rezeki yang diterima manusia telah diatur secara pasti oleh Allah SWT.

Bunyi dan Terjemahan Al Isra Ayat 30

"Katakanlah: 'Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." (QS. Al-Isra [17]: 30)

Ayat ini merupakan penegasan mutlak dari Allah tentang kekuasaan-Nya sebagai Ar-Razzaq (Pemberi Rezeki). Kata kunci dalam ayat ini adalah "melapangkan" dan "menyempitkan". Ini menunjukkan bahwa fluktuasi kondisi ekonomi seseorang—baik yang berlimpah ruah maupun yang serba kekurangan—semuanya berada dalam skenario ilahi yang terukur. Allah memberikan keluasan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan sebaliknya, Dia membatasi rezeki bagi yang Dia kehendaki pula.

Makna Mendalam 'Melapangkan' dan 'Menyempitkan'

Pemahaman yang sering keliru di masyarakat adalah menyamakan antara rezeki yang luas dengan kebahagiaan atau ketaatan, serta rezeki yang sempit dengan kemurkaan atau hukuman. Padahal, konteks ayat ini lebih luas dari sekadar hitungan nominal uang.

Melapangkan rezeki bisa berarti memberi kekayaan materi, namun bisa juga berarti memberi kelapangan dalam hati, kesehatan, ketenangan jiwa, atau kesempatan untuk berbuat kebaikan dalam jumlah besar. Sebaliknya, menyempitkan rezeki mungkin tampak sebagai kemiskinan, tetapi bisa jadi merupakan ujian agar seorang hamba tidak menjadi sombong, tamak, atau melupakan tujuan hakikinya di dunia. Dengan demikian, rezeki adalah ujian dalam dua bentuk: kelapangan dan kesempitan.

Keterbatasan Ilmu Manusia

Bagian penutup ayat, "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," adalah sebuah peringatan keras. Manusia cenderung menilai keberuntungan atau kesialan berdasarkan standar duniawi semata. Ketika seseorang kaya raya, ia menganggapnya sebagai hasil kerja keras mutlaknya, lupa bahwa izin dan pemberian adalah dari Allah. Ketika ia miskin, ia mudah putus asa dan berprasangka buruk terhadap ketetapan-Nya.

Ketidaktahuan ini muncul karena manusia tidak memiliki pandangan jangka panjang (akhirat). Allah Maha Tahu mana kondisi yang lebih baik bagi perkembangan spiritualitas seorang hamba. Rezeki yang banyak bisa menjerumuskan dalam kesesatan, sebagaimana ujian kekurangan bisa mengangkat derajat seseorang melalui kesabaran dan tawakal yang tinggi. Oleh karena itu, perspektif ilahi selalu melampaui apa yang bisa dipahami oleh akal manusia yang terbatas.

Implikasi Praktis dalam Kehidupan

Memahami Al Isra ayat 30 memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, menumbuhkan sikap syukur saat lapang. Kekayaan bukanlah hak milik permanen, melainkan titipan yang harus dikelola sesuai syariat. Kedua, mendorong sabar dan ikhtiar saat sempit. Kesulitan finansial tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan ketaatan atau melakukan cara-cara yang haram.

Ayat ini juga mendorong umat Islam untuk tidak menghakimi keadaan orang lain. Kita tidak berhak menilai keimanan seseorang hanya berdasarkan kemewahan atau kekurangan yang tampak di permukaan. Fokus utama seharusnya adalah bagaimana cara kita mengelola rezeki yang telah Allah tetapkan, baik dalam jumlah besar maupun kecil, untuk meraih ridha-Nya. Keseimbangan antara usaha duniawi dan penyerahan diri total kepada kehendak Allah adalah inti dari pesan agung dalam ayat ini.

Intinya, Al Isra ayat 30 mengajarkan prinsip dasar tauhid dalam muamalah (interaksi ekonomi): bahwa sumber daya dan distribusinya sepenuhnya berada di tangan Sang Pencipta. Tugas kita adalah menjalani peran sebagai pengelola (khalifah) dengan penuh tanggung jawab, sambil meyakini bahwa setiap batasan dan kelonggaran adalah bagian dari kebijaksanaan yang Maha Luas.

🏠 Homepage