Surah Al-Isra, atau yang dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat ke-45 dan ke-46 dari surah ini memegang peran penting dalam menjelaskan bagaimana Al-Qur'an berinteraksi dengan realitas fisik dan spiritual yang dialami manusia. Ayat-ayat ini menyoroti mekanisme perlindungan ilahi terhadap wahyu dan tantangan yang dihadapi Rasulullah SAW ketika berdakwah kepada kaum musyrik Mekkah yang menolak kebenaran.
Visualisasi konseptual mengenai penghalang antara wahyu dan penolakan.
Untuk memahami konteksnya, penting untuk merujuk langsung pada teks suci yang membahas respons kaum kafir terhadap ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Ayat ke-45 menjelaskan sebuah fenomena spiritual yang luar biasa terjadi saat Rasulullah SAW membacakan wahyu. Ketika beliau sedang menyampaikan ayat-ayat Al-Qur'an, Allah SWT meletakkan 'sekat yang tidak tampak' (رجزاً مستورا - rijzan mastūran) antara Nabi dengan para pendengar yang kufur.
Para mufasir menafsirkan sekat ini sebagai penghalang metafisik. Penghalang ini mencegah hati mereka untuk benar-benar menerima kebenaran yang disampaikan. Meskipun telinga mereka mungkin mendengar suara bacaan, pemahaman, penghayatan, dan penerimaan spiritual terhalang oleh takdir ilahi. Ini bukan berarti ayat tersebut tidak jelas, melainkan karena kekerasan hati mereka telah mencapai batas di mana Allah melindungi Rasul-Nya dari upaya sia-sia untuk memaksakan iman. Sekat ini bisa berupa rasa berat, kebosanan yang tiba-tiba, atau perasaan terasing saat mendengar kebenaran yang mereka benci.
Melanjutkan penjelasan tersebut, ayat 46 merinci bentuk penghalang itu. Allah menyebutkan dua mekanisme utama penolakan total mereka:
Puncak dari penolakan ini terlihat jelas pada bagian akhir ayat: ketika Rasulullah menyebut nama Allah (Tuhan) secara tunggal dalam bacaannya, respons mereka adalah melarikan diri (nufūran). Ini menunjukkan bahwa akar permasalahan mereka bukanlah ketidaktahuan, melainkan kesombongan dan kecintaan buta terhadap tandingan Allah (syirik). Mereka tidak tahan mendengar penegasan tauhid yang mutlak.
Ayat Al-Isra 45-46 memberikan pelajaran penting bagi pendakwah sepanjang masa. Pertama, ia mengajarkan bahwa hidayah adalah sepenuhnya hak prerogatif Allah. Tidak semua usaha dakwah akan langsung berhasil, terutama ketika berhadapan dengan hati yang sudah tertutup oleh kesombongan dan hawa nafsu. Kedua, ayat ini menenangkan hati Nabi (dan umatnya) bahwa jika penolakan terjadi meskipun kebenaran telah disampaikan dengan jelas, itu adalah bagian dari ujian dan mekanisme ilahi untuk memisahkan antara yang beriman dan yang berpaling. Kita diajarkan untuk terus menyampaikan risalah, namun menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT, menyadari bahwa ada 'sekat' yang hanya bisa diangkat oleh Pemilik hati itu sendiri.