Simbol Keadilan dan Wahyu Ilustrasi abstrak yang menggabungkan bentuk bulan sabit (wahyu) dan timbangan (keadilan). Keadilan Ilahi

Tafsir dan Makna Al-Isra Ayat 55 (Arab)

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran mengenai sejarah kenabian, perintah ketuhanan, dan akhlak mulia. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, ayat 55 memiliki fokus khusus pada pengesaan Allah SWT dan pengakuan bahwa Dia adalah satu-satunya pemilik kemuliaan dan kekuasaan atas segala ciptaan-Nya. Ayat ini sering dikutip sebagai penegasan tauhid yang murni.

Teks Arab Al-Isra Ayat 55

وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِى ٱلْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

Transliterasi dan Terjemahan

Transliterasi: Wa qulil-ḥamdu lillāhil-ladhī lam yattakhiḏ waldanw-wa lam yakul lahū sharīkun fil-mulki wa lam yakul lahū waliyyum minadh-dhulli, wa kabbirhu takbīrā.

Terjemahan: Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak (pula) memiliki sekutu dalam kerajaan-Nya, dan Dia tidak memerlukan penolong untuk (melindungi) dari kehinaan", dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (QS. Al-Isra: 55)

Kandungan dan Kedalaman Makna

Ayat ke-55 Surah Al-Isra ini mengandung tiga pilar utama ajaran tauhid yang harus diyakini dan diucapkan oleh setiap Muslim. Perintah dimulai dengan "Wa qulil-ḥamdu lillāh" (Dan katakanlah, segala puji bagi Allah). Ini bukan sekadar ucapan rutin, melainkan sebuah pengakuan bahwa segala bentuk pujian, syukur, dan sanjungan hanya layak ditujukan kepada Dzat yang Maha Sempurna.

Penolakan Kesyirikan Pertama: Tidak Memiliki Anak

Bagian pertama, "lam yattakhiḏ waldan" (yang tidak mempunyai anak), menolak anggapan yang dimiliki oleh sebagian kelompok agama lain, termasuk klaim bahwa Uzair atau Isa adalah anak Allah. Dalam konteks teologis Islam, Allah adalah esa, tidak terbagi, dan tidak membutuhkan keturunan untuk melanjutkan eksistensi-Nya. Konsep anak menyiratkan adanya kebutuhan atau ketergantungan, sementara Allah Maha Kaya dan mandiri (Al-Ghani).

Penolakan Kesyirikan Kedua: Tidak Ada Sekutu dalam Kerajaan

Pernyataan kedua, "wa lam yakul lahū sharīkun fil-mulki" (dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya), menegaskan kemutlakan kekuasaan Allah. Tidak ada entitas lain, dewa, atau kekuatan lain yang berbagi otoritas-Nya dalam mengatur alam semesta, memberikan rezeki, menetapkan hukum, atau mengendalikan takdir. Kemusyrikan terbesar adalah menyekutukan Allah dalam hak rububiyah (pengaturan alam) dan uluhiyah (hak untuk disembah).

Penolakan Ketergantungan: Tidak Membutuhkan Penolong

Poin ketiga yang sangat mendalam adalah "wa lam yakul lahū waliyyum minadh-dhulli" (dan Dia tidak memerlukan penolong dari kehinaan). Frasa ini menolak konsep bahwa Allah memerlukan pembela, pelindung, atau penolong karena kelemahan atau ancaman dari "kehinaan" (dull). Allah adalah Al-Mu'izz (Pemberi kemuliaan) dan Al-Mudzill (Penghina). Dia Maha Kuat (Al-Qawiyy), tidak pernah lemah, dan tidak pernah terancam oleh kekurangan apa pun. Keagungan-Nya mutlak dan tidak memerlukan validasi atau dukungan dari makhluk mana pun.

Perintah untuk Mengagungkan (Takbir)

Setelah menegaskan keesaan dan kesempurnaan Allah melalui penolakan terhadap tiga hal (anak, sekutu, dan kebutuhan akan penolong), ayat ditutup dengan perintah tegas: "wa kabbirhu takbīrā" (dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya). Kata "Takbiran" (pengagungan yang mutlak) menunjukkan bahwa pengakuan kebesaran Allah harus dilakukan secara totalitas, melebihi segala bayangan atau pemahaman manusia tentang kebesaran. Pengagungan ini mencakup pengakuan tauhid yang telah dijelaskan sebelumnya.

Secara keseluruhan, Al-Isra ayat 55 berfungsi sebagai doktrin inti yang membersihkan keyakinan Muslim dari segala bentuk antropomorfisme (menganggap Allah memiliki sifat manusiawi) dan kesyirikan. Ayat ini menegaskan bahwa Allah adalah Esa, Sempurna, Maha Kuasa, dan berhak menerima seluruh pujian atas kesempurnaan-Nya yang abadi. Memahami ayat ini membantu seorang mukmin menempatkan ketakutan, harapan, dan pujian hanya kepada satu Dzat yang layak atasnya.

🏠 Homepage