Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, terdiri dari 111 ayat dan merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang banyak membahas tentang tauhid, peringatan, dan juga kisah-kisah para nabi. Ayat ke-55 dari surat ini memiliki makna yang mendalam mengenai pengakuan keesaan Allah SWT di tengah keragaman permohonan yang diajukan manusia.
Wabbil-haqqa anzalnāhu wabil-haqqi nazal, wamā arsalnāka illā mubasysyiran wa nadzīrā.
Terjemahan dari ayat tersebut adalah: "Dan Kami turunkan (Al-Qur'an) itu dengan kebenaran, dan (Al-Qur'an) itu turun dengan kebenaran (pula). Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan."
Ayat ini menegaskan dua hal fundamental: pertama, bahwa Al-Qur'an diturunkan oleh Allah SWT penuh dengan kebenaran (haqq) yang tidak diragukan lagi keotentikannya. Kebenaran ini mencakup seluruh aspek ajaran, mulai dari akidah, syariat, hingga kisah-kisah historis yang mengandung pelajaran. Kedua, bahwa tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah sebagai *mubasysyir* (pembawa kabar gembira) bagi mereka yang beriman dan taat, serta sebagai *nadhir* (pemberi peringatan) bagi mereka yang ingkar dan berbuat maksiat.
Ayat 55 ini muncul setelah serangkaian ayat yang membahas bagaimana manusia cenderung memohon kepada Allah SWT dalam keadaan sulit, namun ketika kemudahan datang, mereka justru berpaling. Ayat-ayat sebelumnya juga menyentuh tentang bagaimana orang-orang musyrik di Mekkah menolak kebenaran yang dibawa Nabi, bahkan terkadang menuntut mukjizat yang tidak dijanjikan. Dalam konteks inilah, Allah menegaskan kembali validitas Al-Qur'an.
Penegasan bahwa Al-Qur'an turun dengan kebenaran (bil-haqq) berarti isinya adalah keadilan, petunjuk lurus, dan realitas hakiki. Tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Ini adalah fondasi utama bagi setiap Muslim untuk memegang teguh ajaran ini sebagai pedoman hidup yang universal dan abadi.
Fungsi Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan mencerminkan sifat kasih sayang dan keadilan Allah. Sebagai pembawa kabar gembira, beliau menyampaikan janji surga, rahmat, dan pahala besar bagi mereka yang mengikuti petunjuk. Ini memotivasi umat untuk beramal saleh dan beribadah dengan penuh harapan.
Di sisi lain, beliau juga bertugas sebagai pemberi peringatan. Peringatan ini mencakup ancaman siksa neraka, konsekuensi buruk dari kemaksiatan, dan azab bagi yang mendustakan ayat-ayat Allah. Fungsi peringatan ini berfungsi sebagai rem spiritual agar umat manusia tidak terjerumus dalam kesesatan dan perbuatan dosa, menyadari tanggung jawab mereka di hadapan Sang Pencipta.
Di tengah banjir informasi dan tantangan moral di zaman modern, Al Isra ayat 55 menjadi pengingat penting. Kebenaran yang dibawa Al-Qur'an berfungsi sebagai kompas moral yang stabil, berbeda dengan tren dan ideologi duniawi yang sering berubah-ubah. Umat Islam dituntut untuk kembali merujuk pada Al-Qur'an sebagai sumber kebenaran yang hakiki.
Peran *mubasysyir* dan *nadhir* juga relevan dalam dakwah kontemporer. Dakwah harus seimbang: menawarkan harapan dan solusi melalui ajaran Islam (kabar gembira) sambil secara tegas mengingatkan akan konsekuensi dari penyimpangan dan kemaksiatan (peringatan). Keseimbangan inilah yang mencerminkan keutuhan risalah kenabian. Mempelajari ayat ini secara mendalam, termasuk transliterasi latinnya, membantu kita memperkuat pemahaman dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, memastikan bahwa kita menerima Al-Qur'an bukan hanya sebagai bacaan, tetapi sebagai pedoman yang diturunkan dengan kebenaran sejati. Pemahaman ini juga membantu umat untuk tidak mudah terombang-ambing oleh keraguan atau ajaran yang menyimpang dari prinsip dasar Islam.