Kajian Mendalam: Al-Isra Ayat 56 dan Hakikat Panggilan

Ilustrasi Kekuatan Ilahi dan Keraguan Manusia

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang memuat banyak kisah, peringatan, dan tuntunan moral. Di antara ayat-ayatnya yang sarat makna, ayat ke-56 memiliki penekanan khusus terkait respons manusia terhadap seruan tauhid. Ayat ini secara tegas menantang keraguan dan kegamangan umat manusia dalam mengakui kekuatan sejati yang patut disembah.

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 56

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِهِ ۖ فَلَا يَمْلِكُونَ كَشْفَ الضُّرِّ عَنْكُمْ وَلَا تَحْوِيلًا

Katakanlah: "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia, maka (ketahuilah) bahwa mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan (juga) untuk memindahkannya (kepadamu)."

Konteks Penolakan Kekuatan Palsu

Ayat ini turun dalam konteks perdebatan teologis yang umum terjadi pada masa kenabian Muhammad SAW, yaitu perdebatan mengenai validitas penyembahan berhala atau entitas lain selain Allah SWT. Ayat 56 adalah sebuah tantangan langsung dari Allah SWT melalui lisan Rasul-Nya. Allah memerintahkan Nabi untuk mengajak kaum musyrikin atau mereka yang menyembah selain-Nya untuk membuktikan klaim mereka.

Pertanyaannya sangat logis dan mendasar: Jika entitas yang kalian sembah—baik itu patung, dewa-dewa, atau kekuatan alam yang kalian agungkan—benar-benar memiliki kekuatan ilahi, mengapa mereka tidak mampu mengatasi kesusahan (bahaya) yang menimpa kalian? Bahkan, mengapa mereka tidak bisa mengubah takdir buruk itu menjadi baik?

Implikasi Kepemilikan Kekuasaan

Fokus utama ayat ini terletak pada dua frasa kunci: "tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk menghilangkan bahaya daripadamu" (كشف الضر) dan "tidak memiliki kekuasaan untuk memindahkannya" (ولا تحويلا).

Menghilangkan Bahaya (Kashf ad-Durr): Ini merujuk pada kemampuan untuk menghilangkan musibah, penyakit, atau penderitaan yang sudah terjadi. Semua makhluk di bumi, termasuk yang disembah selain Allah, tunduk pada hukum sebab akibat yang diciptakan Allah. Mereka tidak bisa serta-merta membatalkan hukum tersebut atas kehendak mereka sendiri.

Memindahkan Bahaya (Tahwil): Ini berarti kemampuan untuk mengalihkan bahaya yang ditakdirkan kepada seseorang ke orang lain, atau mengubah jenis bahaya tersebut. Tindakan ini menunjukkan otoritas penuh atas takdir, sesuatu yang hanya dimiliki oleh Al-Khalik (Sang Pencipta).

Ayat ini mengajarkan prinsip fundamental dalam akidah Islam: Tauhid Rububiyyah (Keesaan Allah dalam Penciptaan dan Pengaturan). Hanya Zat yang menciptakan dan mengatur alam semesta—yang memiliki kuasa penuh atas nasib—yang berhak disembah. Mengarahkan ibadah kepada selain-Nya adalah tindakan irasional karena objek sembahan tersebut tidak memiliki kemampuan dasar untuk membantu pemiliknya saat benar-benar membutuhkan pertolongan yang hakiki.

Relevansi Kontemporer

Meskipun konteks turunnya ayat ini terkait langsung dengan politeisme Arab, pesan Al-Isra ayat 56 tetap relevan hingga kini. Di era modern, bentuk "sesembahan selain Allah" bisa bermanifestasi dalam bentuk lain, seperti obsesi berlebihan terhadap kekayaan materi, kekuasaan politik, atau bahkan kepercayaan buta terhadap sains tanpa mengakui Sang Pencipta di baliknya.

Ketika seseorang terlalu menggantungkan harapan totalnya pada sistem, uang, atau jabatan, ia secara implisit telah menempatkan hal tersebut pada posisi yang diyakini mampu "menghilangkan bahaya" atau "memindahkan nasib" darinya. Ayat ini menjadi pengingat keras bahwa sumber pertolongan yang absolut dan pasti hanya datang dari Allah SWT. Ketika krisis melanda, baik itu krisis finansial, kesehatan, maupun keamanan, hanya Allah yang memiliki otoritas penuh untuk mengangkatnya.

Pelajaran dari Ketidakmampuan

Kisah-kisah para penyembah selain Allah sering berakhir dengan kekecewaan karena mereka menyembah yang tidak berkuasa. Sebaliknya, Al-Qur'an menjanjikan ketenangan bagi mereka yang bersandar kepada Yang Maha Kuasa. Ketika hati telah yakin bahwa tiada pelindung sejati selain Allah, maka rasa takut terhadap makhluk lain akan berkurang, dan harapan akan pertolongan akan selalu terbuka, terlepas dari seberapa besar bahaya yang dihadapi.

Oleh karena itu, Al-Isra ayat 56 bukan sekadar bantahan historis terhadap kaum musyrik, melainkan sebuah landasan filosofis yang memandu umat Islam untuk memfokuskan segala bentuk permohonan, ketakutan, dan ketergantungan hanya kepada Allah SWT, Sang Pemilik Kekuasaan Mutlak yang tidak memerlukan bantuan siapa pun untuk menyelamatkan hamba-Nya dari kesulitan.

Memahami ayat ini berarti mengokohkan keyakinan bahwa segala daya dan upaya harus diiringi dengan tawakkal total kepada Zat yang memiliki izin untuk mengubah keadaan dari yang sulit menjadi mudah.

🏠 Homepage