Surah Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan kisah, peringatan, dan tuntunan moral. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-57. Ayat ini secara spesifik membahas tentang hakikat pencarian manusia terhadap sesuatu yang lebih tinggi, yaitu kedekatan dengan Allah SWT, dan bagaimana mereka (manusia, khususnya Bani Israil dalam konteks historisnya) sering kali gagal meraihnya karena terjerumus pada hal-hal duniawi.
Ayat ini berfungsi sebagai cermin untuk kita semua, mengingatkan bahwa meskipun kita memiliki potensi dan keinginan untuk mencapai derajat tertinggi di sisi Tuhan, seringkali godaan materi, hawa nafsu, atau keterikatan pada dunia menghalangi jalan spiritual kita.
Ilustrasi: Jalan menuju Rahmat Ilahi seringkali terhalang oleh keterikatan duniawi.
Ayat ini menggambarkan usaha mereka (orang-orang yang disebutkan sebelumnya dalam ayat 56) untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mencari wasilah, namun wasilah yang mereka pilih seringkali salah atau tidak sesuai dengan tuntunan ilahi.
Poin krusial dalam ayat 57 adalah bahwa pihak-pihak yang disembah atau dijadikan tandingan Allah—entitas yang dipuja oleh kaum musyrik atau Bani Israil yang telah menyimpang—ternyata juga merupakan makhluk yang sedang mencari kedekatan (wasilah) kepada Tuhan mereka sendiri. Ini adalah pukulan telak terhadap praktik syirik dan penyembahan berhala.
Bayangkan, bagaimana mungkin kita menyembah entitas yang justru sedang berusaha mencari jalan menuju keesaan yang sama dengan yang kita cari? Ayat ini menegaskan keunikan tauhid: hanya Allah SWT satu-satunya tujuan yang layak disembah dan didekati, karena hanya Dia yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Frasa "mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya" menunjukkan bahwa meskipun entitas tersebut dipuja, mereka tetaplah makhluk yang tunduk pada hukum sebab-akibat Ilahi. Mereka memiliki harapan dan ketakutan, sama seperti manusia. Ini mengikis ilusi bahwa entitas tersebut memiliki kekuatan absolut yang melebihi Penciptanya.
Al Isra Ayat 57 secara tidak langsung menyoroti pentingnya memilih cara (wasilah) yang benar dalam mendekatkan diri kepada Allah. Wasilah yang benar adalah melalui ketaatan, iman yang teguh, amal shaleh, dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Wasilah yang salah adalah menyandarkan harapan pada kekuatan makhluk, keramat, atau perantara yang diklaim memiliki kuasa independen dari Allah.
Ayat diakhiri dengan peringatan keras: "Sesungguhnya azab Tuhanmu itu merupakan sesuatu yang harus dihindari." Ketakutan terhadap azab ini seharusnya menjadi motivator utama bagi setiap pencari spiritual untuk memastikan jalannya lurus dan penuh keikhlasan, menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi dalam hati.
Kisah dalam ayat ini mengajarkan bahwa pencarian spiritual sejati harus selalu berorientasi pada Sumber tunggal, yaitu Allah SWT. Keinginan untuk dekat dengan-Nya adalah fitrah, namun metode pencapaiannya haruslah sesuai dengan petunjuk yang telah ditetapkan. Ketika seseorang telah menyadari bahwa segala sesuatu yang ia puja selain Allah juga sedang mencari-Nya, maka kesadarannya akan membawa ia kembali kepada jalan tauhid yang murni, menjadikannya takut pada azab-Nya namun optimis mengharapkan rahmat-Nya yang tak terbatas.