Surah Al Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 99 ayat. Surah ini dinamakan Al Hijr karena menyebutkan kisah kaum Samud yang mendustakan mukjizat yang diberikan kepada mereka, yaitu unta betina yang keluar dari batu karang di wilayah Al Hijr. Secara umum, surah ini kaya akan pembahasan mengenai keesaan Allah SWT, kekuasaan-Nya dalam menciptakan alam semesta, serta peringatan keras bagi mereka yang ingkar dan pengingkaran terhadap hari kebangkitan.
Di antara ayat-ayat yang penuh hikmah dalam surah ini, terdapat sebuah ayat kunci yang sering menjadi perenungan tentang hakikat penciptaan dan respons manusia terhadap nikmat ilahi. Ayat tersebut adalah Surah Al Hijr ayat 11. Memahami konteks ayat ini sangat penting untuk menggali pelajaran spiritual yang terkandung di dalamnya.
Terjemahan: "Dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu." (QS. Al Hijr: 11)
Ayat 11 ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya (Ayat 10) yang menegaskan keheranan orang-orang kafir terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW. Ayat 11 kemudian memberikan jawaban tegas dari Allah SWT bahwa wahyu (Al-Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi bukanlah sesuatu yang sembarangan atau tanpa perhitungan.
Frasa "Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu" mengandung makna mendalam tentang hikmah dan ketelitian ilahi dalam setiap ketetapan-Nya. Kata "ukuran yang tertentu" (بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ - bi qadarim ma’lūm) merujuk pada beberapa aspek penting:
Untuk memahami sepenuhnya makna ayat 11, kita perlu melihat konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.
Kesimpulannya, ayat 11 menegaskan bahwa penurunan Al-Qur'an adalah bagian dari rencana ilahi yang teratur dan terukur, bukan tindakan sewenang-wenang. Ini berfungsi sebagai bantahan terhadap keraguan dan ejekan kaum Quraisy yang merasa bahwa kenabian seharusnya jatuh kepada tokoh besar di antara mereka, bukan kepada seorang yatim piatu seperti Muhammad SAW.
Konsep "ukuran yang tertentu" (qadar ma'lūm) dalam ayat ini mengajarkan kita untuk selalu mencari hikmah dan keteraturan di balik setiap peristiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk rezeki, musibah, dan kemampuan kita, semuanya telah diukur oleh Allah SWT.
Ketenangan dalam Penerimaan: Ketika kita yakin bahwa setiap penurunan (wahyu, ujian, atau nikmat) memiliki ukuran yang telah Allah tetapkan, kita akan lebih tenang dalam menjalani hidup. Kita tidak akan merasa bahwa musibah datang terlalu berat atau nikmat datang terlalu ringan, karena semuanya sudah diperhitungkan untuk kebaikan jangka panjang.
Menghargai Proses: Penurunan Al-Qur'an secara bertahap mengajarkan bahwa perubahan spiritual dan keilmuan membutuhkan proses. Kesabaran dalam meniti tahapan keilmuan dan praktik agama adalah cerminan dari pemahaman kita terhadap ketetapan ukuran ilahi. Kita tidak bisa melompat dari nol ke puncak tanpa melalui tahapan yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, Surah Al Hijr ayat 11 adalah fondasi keyakinan bahwa Allah mengatur alam semesta ini dengan kebijaksanaan sempurna. Tidak ada yang sia-sia dan tidak ada yang berlebihan dalam ketetapan-Nya.