Teks dan Terjemahan Ayat
Ayat 59 dari Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal Mi'raj) ini merupakan kelanjutan dari serangkaian ayat yang membahas tentang bagaimana Allah SWT memberikan wahyu dan mukjizat kepada para Nabi terdahulu, khususnya Nabi Musa AS. Ayat ini menegaskan anugerah besar yang diberikan kepada Bani Israil melalui Nabi Musa, yaitu diturunkannya kitab suci Al-Taurat.
Frasa "Sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa Kitab (Taurat)" (وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ) mengandung unsur penekanan (laqad) yang menunjukkan kebesaran nikmat tersebut. Taurat bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan pedoman hidup yang lengkap, berisi hukum, syariat, dan hikmah. Ini adalah bukti nyata kasih sayang Allah kepada Bani Israil, yang seharusnya menjadi umat terbaik pada masa itu.
Tujuan utama pemberian kitab suci ini dijelaskan lebih lanjut: "dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil" (وَجَعَلْنَا هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ). Kata 'huda' (petunjuk) di sini mencakup semua aspek kehidupan, baik spiritual, moral, maupun sosial. Taurat seharusnya menjadi mercusuar yang membimbing mereka dari kegelapan kesesatan menuju kebenaran yang terang benderang.
Untuk memahami sepenuhnya makna ayat 59, penting untuk melihat konteks ayat-ayat di sekitarnya. Surah Al-Isra banyak membahas tentang kekuasaan Allah, peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, dan juga merefleksikan sejarah umat-umat terdahulu. Ayat 59 ini sering kali ditempatkan setelah pembahasan mengenai bagaimana kaum musyrik Mekkah mempertanyakan kebenaran kenabian Muhammad SAW dan menuntut mukjizat yang setara dengan yang diterima Nabi Musa.
Jika kita melihat ayat setelahnya (Ayat 60), Allah SWT berfirman mengenai apa yang mereka tuntut (mukjizat besar) dan mengapa Allah menundanya. Ayat 59 menjadi fondasi: Kami sudah memberikan petunjuk besar sebelumnya (Taurat kepada Musa). Namun, banyak dari Bani Israil yang menyimpang dari petunjuk tersebut, bahkan setelah menyaksikan bukti-bukti yang jelas.
Kisah pemberian Taurat kepada Bani Israil memberikan pelajaran mendalam bagi umat Nabi Muhammad SAW. Petunjuk ilahi adalah anugerah terbesar, namun ia harus diimbangi dengan ketaatan penuh. Ketika Bani Israil diberikan kitab yang jelas, mereka justru terpecah belah, sebagian besar melanggar batasan yang ditetapkan, dan bahkan ada yang mengubah ayat-ayat Taurat demi kepentingan duniawi.
Hal ini menyiratkan bahwa memiliki wahyu dari Allah tidak otomatis menjamin keselamatan atau keberuntungan abadi jika umat penerimanya tidak melaksanakan isinya. Mereka yang tadinya dipimpin oleh Taurat kemudian jatuh dalam penyimpangan karena kesombongan, penyelewengan, dan penolakan terhadap kebenaran yang dibawa oleh para rasul setelah Musa.
Ayat ini juga berfungsi sebagai perbandingan tidak langsung dengan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sama seperti Taurat yang menjadi petunjuk bagi Bani Israil, Al-Qur'an adalah petunjuk paripurna bagi umat Islam. Tantangannya adalah memastikan bahwa umat Islam tidak mengulangi kesalahan historis Bani Israil, yaitu mengabaikan atau membelokkan makna dari petunjuk ilahi yang telah diberikan.
Dalam konteks modern, Al Isra ayat 59 mengingatkan kita bahwa Islam telah mewarisi rantai kenabian yang panjang. Memahami sejarah nabi-nabi terdahulu memperkaya pemahaman kita tentang konsistensi pesan tauhid yang dibawa oleh semua utusan Allah. Taurat adalah bagian dari sejarah agama samawi, dan penghormatan terhadapnya sebagai wahyu Allah adalah bagian dari keimanan seorang Muslim.
Namun, kita harus waspada. Kemudahan akses terhadap informasi atau bahkan kemudahan beribadah tidak boleh membuat kita terlena. Keberkahan sejati terletak pada penerapan petunjuk ilahi secara menyeluruh dalam kehidupan, sebagaimana mestinya Taurat menjadi petunjuk sejati bagi Bani Israil, namun gagal mereka jaga dengan baik.
Dengan demikian, Al Isra ayat 59 bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga sebuah peringatan abadi tentang pentingnya memegang teguh wahyu Allah, sebab petunjuk yang jelas akan menjadi hujjah (bukti) atas ketaatan atau kelalaian kita di hadapan Sang Pencipta.